Rusia vs Ukraina
TERNYATA Negara Ini Dapat Keuntungan Paling Besar dari Perang Rusia-Ukraina
China Malah Diduga Dapat Keuntungan Paling Besar dari Konflik Rusia-Ukraina, Rencana Geser AS Jadi Negara Adidaya Kian Terwujud Tanpa Disadari
“Kita harus mengakui bahwa dengan cara yang sama, Rusia menggunakan produksi minyaknya untuk menjaga Eropa dan, setidaknya di bawah Joe Biden, Amerika terikat pada mereka, China juga dapat membuat kita tetap terikat dan membatasi jalan kita untuk agresi global mereka selama kita memberi mereka kesempatan yang membuat AS bergantung pada mereka," tambah mantan agen FBI itu.
“Lihat apa yang bisa dilakukan Rusia dengan membangun ketergantungan minyak di Eropa, dan pertimbangkan konsekuensinya jika kita menyerahkan keseluruhan produksi baja dan farmasi kita ke China,” urainya.
Kerugian Rusia
The Guardian melaporkan perekonomian Rusia bisa jatuh ke jurang resesi lebih dalam daripada yang disebabkan akibat Covid-19.
Hal ini berasal dari sanksi Barat dan isolasi negara yang meningkat setelah menyerang Ukraina.
Ekonom menyebut tindakan yang dikenakan pada bank dan perusahaan Rusia oleh AS, UE dan Inggris beserta sekutu yang lain berdampak parah pada pasar keuangan di Moskow dan menimbulkan lebih banyak kerusakan pada ekonomi Rusia.
Analis di Goldman Sachs menyebut bank investasi itu sudah memangkas perkiraannya untuk produk domestik bruto Rusia tahun ini dari pertumbuhan 2 persen menjadi penurunan 7 persen.
Ekonomi Rusia diperkirakan tumbuh 4,5 persen tahun lalu setelah menyusut hampir 3 persen pada 2020, tahun terburuk pandemi bagi ekonomi global.
Kota Ukraina hancur dibom Rusia. Seorang ibu menangis histeris. (Facebook)
Analis mengatakan, perang Ukraina mungkin memiliki dampak terbatas pada ekonomi global karena hubungan perdagangan antara Rusia dan seluruh dunia terbatas.
Rusia hanya menyumbang 1,5 persen dari PDB global.
Namun, invasi tersebut telah memicu lonjakan harga energi global – yang mengancam akan memperburuk tekanan biaya hidup di beberapa negara, termasuk Inggris.
Perang datang ketika ekonomi global masih belum pulih dari pandemi.
Harga minyak naik pada hari Rabu (2/3/2022) menjadi lebih dari US$ 111 per barel, level tertinggi sejak 2014, karena prospek gangguan pasokan dari Rusia mengirim pasar energi melonjak lebih lanjut.
Rusia sampai sekarang jadi pengekspor minyak terbesar kedua di dunia dan pengekspor terbesar gas alam.
Jika harga minyak dan gas terus naik maka akan terjadi inflasi lebih tinggi dan memukul rumah tangga dan bisnis, memicu terjadinya perlambatan ekonomi di seluruh dunia.
(*/tribunmedan/intisari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Rusia-dipukul-mundur-dari-Kharkiv.jpg)