Tenggiling Dilepasliarkan ke TNGL, Sebelumnya Diamankan Warga

Tenggiling ini ditemukan oleh seorang warga bernama Edison saat ia hendak pulang dari ladang, Rabu (13/7) sekitar pukul 11.00 WIB.

Penulis: Muhammad Anil Rasyid | Editor: Eti Wahyuni
Tribun Medan/HO
Seekor tenggiling dilepasliarkan ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL), Jumat (15/7). Di mana sebelumnya tenggiling yang merupakan hewan dilindungi ini, sempat diamankan warga di Dusun Ujung Langkat, Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Seekor tenggiling akhirnya dilepasliarkan ke Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL). Di mana sebelumnya tenggiling ini, sempat diamankan warga di Dusun Ujung Langkat, Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Tenggiling ini ditemukan oleh seorang warga bernama Edison saat ia hendak pulang dari ladang, Rabu (13/7) sekitar pukul 11.00 WIB.

"Tenggiling itu ditemukan di jalan. Lalu Pak Edison membawa trenggiling itu ke rumah," ujar Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) V TNGL Palber Turnip, Sabtu (16/7/2022).

Lanjut Palber, ketika tenggiling diketahui satwa dilindungi, Edison pun kemudian menghubungi petugas BBTNGL.
"Rabu petang, petugas kita bersama mitra dari Sumeco Eco Project (SUMECO) langsung ke rumah Edison. Satwa itu kemudian diserahkan kepada kita," ujar Palber.

Kemudian satwa ini dibawa ke Bukit Lawang untuk diperiksa kesehatannya dan perilaku liarnya.

Baca juga: Viral Harimau Sumatera Direkam Warga, BKSDA Sumut Pastikan Bukan di Hutan TNGL

"Kita cek dan kita lihat, kesehatan tenggiling cukup baik dan kita putuskan untuk dilepasliarkan," ujar Palber.
Tenggiling kemudian dilepasliarkan ke dalam kawasan TNGL pada Jumat pagi. Pihak BBTNGL juga sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut.

Sementara itu, Palber mengapresiasi Edison yang sudah memiliki kesadaran tentang pelestarian hutan. Khususnya terhadap satwa yang menjadi bagian di dalamnya. Sehingga upaya perlindungan terhadap hutan semakin masif.
Palber menegaskan, trenggiling memiliki peran penting bagi kelangsungan ekosistem. Tenggiling adalah pengendali populasi rayap di habitatnya.

"Bisa terbayang jika populasi tenggiling hilang. Maka populasi rayap akan menjadi over. Ini adalah ancaman bagi tanaman. Bahkan bangunan untuk pemukiman," ujar Palber.

Satunya-satunya ancaman besar bagi keberlangsungan trenggiling adalah manusia. Tingkat perburuan terhadap trenggiling masih masif terjadi. Baik perdagangan trenggiling hidup, hingga sisik dan dagingnya. Dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) tenggiling atau trenggiling dalam status kritis (critically endangered).

"Campur tangan manusia, harusnya bisa menjaga kelestariannya. Bukan malah melakukan perburuan yang bisa berdampak buruk pada rantai makanan dan ekosistem. Manusia, harus memastikan unsur biodiversitas harus tetap ada. Karena dampaknya juga akan dirasakan oleh manusia," ucap Palber.

Sedangkan itu dalam upaya perlindungan terhadap ekosistem, Palber menambahkan pihaknya sangat bergantung kepada masyarakat.

"Dengan wilayah TNGL yang cukup luas, tidak bisa kita lakukan sendiri. Sehingga, kita membangun kolaborasi dengan masyarakat. Saat ini kita lihat, kolaborasi ini cukup efektif," ucap Palber.

Palber optimistis, jika kawasan TNGL terjaga, maka akan berdampak positif kepada masyarakat di sekitarnya. Dengan menjaga, masyarakat akan mendapatkan manfaat ekonomi dan ekologi.

"Kami juga sangat terbantu. Ketika ada satwa ke luar dari dalam hutan, kelompok-kelompok yang kita bentuk langsung melaporkannya. Sehingga ada tindakan mitigasi yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir konflik satwa dengan manusia," tutup Palber.

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved