TRIBUNWIKI

Marsialapari, Tradisi Masyarakat Mandailing, Kegiatan Menolong Orang Lain Secara Bersama-sama

Satu diantaranya yakni Marsialapari yang merupakan budaya lokal masyarakat Mandailing dalam pengelolaan sawah.

TRIBUN MEDAN/Anugrah Nasution
Petani terlihat memperbaiki sawahnya 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Masyarakat etnis Mandailing yang bermukim di Sumatera Utara memiliki beberapa tradisi atau kearifan lokal yang masih dijaga hingga saat ini.

Satu diantaranya yakni Marsialapari yang merupakan budaya lokal masyarakat Mandailing dalam pengelolaan sawah.

Dilansir dari website Kemendikbud menyebutkan bahwa Marsialapari berasal dari dua suku kata yaitu alap (panggil) dan ari (hari), kemudian ditambah kata awalan mar yang berarti saling, sementara si adalah kata sambung yang kemudian menjadi kata marsialapari, yang dapat diartikan sebagai saling menjemput hari.

Baca juga: Memerre Cinta Lao, Tradisi Masyarakat Suku Pakpak, Dipercaya Mengabulkan Permintaan Ibu Saat Hami

Oleh masyarakat Mandailing, Marsialapari merupakan kegiatan tolong menolong dan gotong royong.

Dimana dalam pelaksanaannya, masyarakat Mandailing akan secara sukarela dengan rasa gembira saling tolong menolong/ membantu saudara mereka yang membutuhkan bantuan, yang biasanya dilakukan di sawah atau kebun. 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa marsialapari adalah suatu kegiatan menolong orang lain secara bersama-sama  dan dengan harapan orang lain dapat menolong kita di waktu lain ketika kita membutuhkan.

 Jumlah harinya juga dihitung berapa hari, misalnya kita pergi ke sawah si A selama 7 hari, maka si A juga akan datang ke sawah kita dengan jumlah hari yang sama.

Umumnya, Marsialapari dilakukan pada prosesi manyabii (memanen padi) ataupun prosesi marsuaneme (menanam padi), pada saat marsuaneme (menanam padi) dibantu oleh enam hingga sepuluh orang yang berasal dari teman atau sanak saudara, baik yang muda ataupun yang tua untuk marsialapari ke sawah.

Baca juga: 4 TRADISI Upacara Adat Simalungun, Ada Untuk Membersihkan Diri dari Roh Jahat

Karena adanya marsialapari seseorang yang akan memanen atau menanam padi hanya butuh waktu sebentar karena dibantu oleh banyak orang.

Meskipun marsialapari merupakan kerja sukarela tetapi ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan.

Laki-laki mendapat bagian pekerjaan yang tergolong lebih berat dari perempuan. 

Biasanya, pekerjaan laki-laki berkaitan dengan perbaikan atau penyiapan saluran air, tanggul atau jalan.

Sementara perempuan cenderung mengerjakan bagian-bagian yang berkaitan dengan penanaman dan pemanenan,

Puncaknya dari kegiatan marsialapari adalah manyabi (panen). Manyabi (panen) itu bagaikan pesta yang dilakukan di sawah.

Saat manyabi (panen) adalah saat paling ditunggu-tunggu baik oleh peserta marsialapari maupun anak-anak karena semua dikerjakan secara bersama-sama.

Tradisi marsialapari ini sangat menguntingkan bagi masyarakat Mandailing, selain memupuk rasa solidaritas dan kepedulian, juga meringankan pekerjaan.

Selain itu dari segi materi juga cukuP ringan karena mengerjakan sawah yang luas tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak, cukup dengan marsialapari.

(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved