Breaking News

Brigadir J Ditembak Mati

Psikolog Forensik Ini Tegaskan Putri Candrawathi Jauh dari Korban Pelecehan Seksual

Reza membandingkan beberapa momen yang membuatnya yakin istri Ferdy Sambo itu seolah tak memiliki mindset sebagai korban pelecehan seksual.

Tayang:
Editor: AbdiTumanggor
(Tangkap layar akun Youtube Kompas TV)
Putri Candrawathi dalam proses rekonstruksi pembunuhan Brigadir J tampak berkomunikasi dengan Kuat Ma'ruf di kamar. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Tersangka kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi yang bersikeras menyebut adanya pelecehan seksual, diberikan tafsir lain oleh psikolog forensik Reza Indragiri Amriel.

Reza membandingkan beberapa momen yang membuatnya yakin istri Ferdy Sambo itu seolah tak memiliki mindset sebagai korban. Adapun Brigadir J dinilai tak memenuhi profil sebagai pelaku, menilik relasi kuasa antar-pihak.

"Persoalannya adalah, dengan segala hormat, tindak-tanduk PC acapkali terkesan menganulir klaim yang bersangkutan sebagai korban," kata Reza dalam dialog Sapa Indonesia Pagi di KOMPAS TV, Kamis (1/9/2022).

Ia lantas membandingkan dua momen untuk memperkuat pendapat itu. "Misal, mari kita bandingkan tindak-tanduk kemunculan beliau ketika berada di depan Mako Brimob. UU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual ) sudah mengatur bahwa identitas korban wajib dirahasiakan. Apa yang bisa kita pahami?"kata Reza.

Bagi Reza, janggal jika seseorang mengeklaim mengalami pelecehan seksual, dianggap sebagai korban, tapi pada saat yang sama justru dimunculkan di hadapan media, dipersilakan berbicara, "bahkan dia sebut namanya."

"Tindak tanduk yang jauh dari profil korban macam itu, memunculkan pertanyaan, kenapa ada kesenjangan sedemikian rupa? Barangkali jawabannya yang bersangkutan tidak punya mindset sebagai korban. Kenapa? Barangkali yang bersangkutan memang bukan korban," kata Reza.

Adapun ia juga membandingkan perilaku PC sebagai korban dengan hasil riset temuan ilmuwan. "Kekerasan seksual dianggap sebagai kejahatan yang serius, salah satu indikatornya 80 persen akan mengalami guncangan hebat, bandingkan korban kecelakaan lalu lintas yang hanya 15 persen saja," kata Reza.

Dengan dasar penelitian yang ia sebut, Reza menganggap pantas membayangkan korban memilih untuk mengisolasi diri.

"Tapi lagi-lagi, ada kekontrasan antara tindak tanduk PC yang kita anggap sebagai korban, yang sewajarnya memilih mengisolasi diri, justru dipersilakan tampil di hadapan media," ucapnya.

"Tindak tanduk seperiti itu, memunculkan kesan tidak ada mindset sebagai korban, karena barangkali yang bersangkutan memang bukan korban," kata Reza, menegaskan kembali pernyataannya.

Adapun jika kasus pelecehan seksual benar-benar ada, Reza memberikan pendapatnya yang berdasar pada teori relasi kuasa.

"Pelakunya siapa, korbannya siapa? Tidak patut bagi kita untuk apriori, misalnya dengan membabi buta menggunakan teori relasi kuasa untuk mengatakan peristiwa pelecehan seksual, pasti laki-laki sebagai pelakunya dan perempuan pasti korbannya," ujarnya.

Reza menyebut, masih menggunakan teori relasi kuasa, bisa ditakar, "baik itu di Duren Tiga maupun di Magelang, yang notabene merupakan rumah komandan, "kira-kira siapa yang dominan, siapa yang submisiv, siapa yang berkuasa siapa yang dikuasai, siapa yang siperior dan siapa yang inferior?"

"Hitung-hitungan di atas kertas, menurut saya, sekali lagi, andai diterapkan teori relasi kuasa, Brigadir J bukanlah pihak yang dominan, berkuasa, superior, bukan pihak yang memenuhi profil sebagai pelaku KS. Tentu tetap harus diuji oleh pihak kepolisian," ujarnya.

Relasi kuasa, jangan disamakan dengan warga sipil yang tidak memahami hukum dan tidak paham soal hirarki. Hirarki di kesatuan itu sangat kuat.

Selanjutnya Baca: PUTRI Candrawathi Ngotot Jadi Korban Pelecehan, Guru Besar UI : Berusaha Lindungi Ferdy Sambo

Selengkapnya Baca: Guru Besar UI Prof. Sulistyowati Ragukan Kesaksian Putri Candrawathi Korban Pelecehan Seksual

Adegan Kuat Maruf dan Putri Candrawathi saat Rekonstruksi kejadian di Magelang.
Adegan Kuat Maruf dan Putri Candrawathi saat Rekonstruksi kejadian di Magelang. (Ho/ Tribun-Medan.com)

Rekonstruksi di Magelang Hanya Mengikuti Narasi Ferdy Sambo

Sementara, Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menilai digelarnya rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir J terkait kejadian di Magelang hanya mengikuti narasi Ferdy Sambo. Hal itu disampaikan dalam dialog Sapa Indonesia Pagi di KOMPAS TV, Selasa (31/8/2022).

"Ini yang menjadi kontradiktif sebenarnya, terkait pernyataan Kapolri sendiri bahwa tidak ada kasus pelecehan seksual. Sepertinya penyidik masih terbawa dengan alur yang dibangun oleh Sambo," kata Bambang.

Pada awal kasus, Putri Candrawathi selaku istri Ferdy Sambo sempat melaporkan kasus pelecehan seksual yang menimpanya di Jakarta. Namun, pernyataan ia revisi dengan menyebut kejadian berlangsung di Magelang.

Adapun fokus dari rekonstruksi adalah kronologi pembunuhan Brigadir J, bukan mencari motif.

Oleh karena itu, Bambang menganggap kejadian di Magelang tidak relevan.

Hal itu juga dibenarkan oleh Yusuf Hasyim dari Kompolnas ketika menjawab pertanyaan kuasa hukum keluarga Brigadir J Martin Lukas dalam acara yang sama.

Semula, Lukas mempertanyakan tindakan pelecehan seksual yang tak digambarkan dalam rekonstruksi. Hal itu ditepis oleh Yusuf dengan menyebut fokus rekonstruksi adalah untuk mengetahui kronologi pembunuhan Brigadir J.

Pelecehan seksual dianggap tidak ada, karena penyelidikan atas kasus itu dihentikan oleh penyidik karena tidak ditemukan bukti yang kuat.

Terlepas dari itu, Bambang mengapresiasi Polri yang sudah menyiarkan adegan rekonstruksi secara langsung, menganggapnya sebagai sebuah kemajuan.

"Rekonstruksi ini kan hanya salah satu upaya dalam pemeriksaan sebuah kasus, selain itu kan ada interview, interogasi dan konfrontasi," kata Bambang.

"Kalau sampai sejauh ini rekonstruksi melibatkan banyak pihak, seperti kemarin, ini ada sebuah kemajuan yang sangat luar biasa. Masyarakat bisa menonton," kata Bambang.

Seperti diketahui, pembunuhan terhadal Brigadir J terjadi di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo yang berada di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta, pada Jumat, 8 Juli 2022.

Namun, rangkaian kejadian pembunuhan berencana terhadap Brigadir J itu terjadi mulai dari rumah Ferdy Sambo di Magelang dan Jalan Saguling, Duren Tiga.

Adapun proses rekonstruksi kasus pembunuhan Beigadir J berlangsung sekitar 7,5 jam sejak sekitar 10.00 WIB pagi, Selasa (30/8/2022).

Rekonstruksi digelar di dua rumah Ferdy Sambo yang ada di Duren Tiga, yakni rumah pribadi di Jalan Saguling dan rumah dinas di Kompleks Polri.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan total ada 78 adegan yang diperagakan saat rekonstruksi. Menurut Dedi, rekonstruksi juga meliputi kejadian yang terjadi di rumah Ferdy Sambo yang ada di Magelang.

Pelaksanaan rekonstruksi kejadian di Magelang digelar di aula rumah pribadi Sambo, Jalan Saguling, Duren Tiga, dengan memperagakan 16 adegan.

Dedi menuturkan, TKP kedua digelar di rumah pribadi. Di situ, timsus melakukan 36 adegan. TKP terakhir digelar di Duren Tiga ada 27 adegan.

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan lima tersangka yakni Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E. Lalu, Bripka Ricky Rizal, Kuat Maruf, dan Putri Candrawathi.

Kelima orang tersebut saat ini dijerat pasal pembunuhan berencana atau Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan 56 KUHP. 

(*/Tribun-medan.com/ Kompas.TV)

Artikel telah tayang di Kompas TV dengan judul:Psikolog Forensik Sebut PC Tak Punya Mindset sebagai Korban Pelecehan Seksual, Ini Alasannya.

Dan berjudul: Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J di Magelang Dinilai Hanya Ikuti Narasi Ferdy Sambo

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved