Breaking News:

Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,25 Persen

BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi

Penulis: Angel aginta sembiring | Editor: Eti Wahyuni
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,25 Persen
Internet
Ilustrasi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bank Indonesia menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 4,25 persen, suku bunga Deposit Facility  sebesar 50 bps menjadi 3,50 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5,00 persen.

Sebelumnya, pada bulan lalu bank sentra juga telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen dari sebelumnya 3,50 persen.

Keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3,0±1 persen pada paruh kedua 2023.

Selain itu juga memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi diantaranya, memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai dengan kenaikan suku bunga BI7DRR, memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai bagian untuk pengendalian inflasi.

Melanjutkan penjualan/pembelian SBN di pasar sekunder (operation twist), melanjutkan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman pada aspek profitabilitas bank.

Baca juga: BI Turunkan Suku Bunga Acuan, Ini Pandangan Pengamat Ekonomi Sumut

"Serta mendorong percepatan dan perluasan implementasi digitalisasi pembayaran di daerah serta mendorong akselerasi pencapaian QRIS 15 juta pengguna dan peningkatan penggunaan BI-Fast dalam transaksi pembayaran,” ujarnya, Jumat (23/9).

Ia menuturkan, koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan mitra strategis dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) terus diperkuat melalui efektivitas pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.

Sinergi kebijakan antara BI dengan kebijakan fiskal Pemerintah dan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat dalam rangka menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mendorong kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, ekspor, serta inklusi ekonomi dan keuangan.

"Kami terus memperkuat kerja sama internasional dengan bank sentral dan otoritas negara mitra lainnya, fasilitasi penyelenggaraan promosi investasi dan perdagangan di sektor prioritas bekerja sama dengan instansi terkait,” katanya.

Lanjutnya, koordinasi bersama Kementerian Keuangan dan K/L terkait juga terus diperkuat dalam rangka menyukseskan  enam agenda prioritas jalur keuangan Presidensi Indonesia pada G20 tahun 2022 dalam pertemuan 4th FMCBG Oktober 2022 dan G20 Leader Summit November 2022.

“Kami juga terus memperkuat implementasi kebijakan sistem pembayaran dan akselerasi digitalisasi untuk mendukung pemulihan ekonomi. Di tengah tantangan tekanan inflasi, transaksi ekonomi dan keuangan digital tetap mengalami kenaikan ditopang oleh meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat dalam berbelanja daring, perluasan dan kemudahan sistem pembayaran digital, serta akselerasi digital banking,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved