Pelindo
Setahun Penggabungan Pelindo, Jadi Penguatan Ekosistem Logistik
Bagi negara dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa yang tersebar pada 13.000 pulau lebih, Indonesia sangat bergantung kepada angkutan laut.
Penguatan ekosistem logistik
Melalui merger, Pelindo memposisikan diri sebagai satu-satunya perusahaan Badan Usaha Milik Negara penyedia one stop solution jasa pelabuhan di Indonesia. Pelindo bukan hanya melayani penanganan kargo, tapi juga menyediakan berbagai jasa logistik, jasa pendukung, bahkan sampai pada usaha pengembangan kawasan ekonomi di luar pelabuhan.
Untuk menangani berbagai kelompok usaha tersebut, dibentuk sejumlah sub holding yang disesuaikan dengan perubahan peran pelabuhan yang bukan lagi sekadar menangani dan menyimpan kargo, tapi telah berkembang menjadi bagian integral dari ekosistem maritim.
Ada sub holding yang khusus mengelola pelabuhan peti kemas, pelabuhan curah dan kargo umum, ada pula sub holding yang mengelola bisnis marine dan jasa pendukung operasi, serta sub holding yang menangani bisnis logistik seperti depo, cold storage, pergudangan, lapangan penumpukan, trucking, hingga custom clearance.
Salah satu terobosan yang sudah dilakukan sub holding yaitu, PT Pelindo Solusi Logistik ikut berinvestasi pada pembangunan Jalan Tol Cibitung – Cilincing. Jalan tol sepanjang 34 kilometer ini akan mempercepat mobilitas logistik melalui akses konektivitas dari kawasan industri di Timur Jakarta seperti Bekasi, Cibitung, Cikarang, dan Karawang (60 persen dari kawasan industri utama di sekitar Jakarta) dengan pelabuhan Tanjung Priok.
Kelancaran akses ini akan menjadi kunci bagi efisiensi dan peningkatan volume angkutan. Untuk itu, Pelindo juga memperbaiki integrasi antarmoda, baik dengan kereta api barang atau truk.
Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara, misalnya, kini terhubung dengan Tol Trans Sumatra dan kereta barang, sehingga memiliki akses dengan kawasan industri dan perekonomian di sekitarnya seperti Kuala Tanjung Industrial Estate dan KEK Sei Mangkei.
Bersamaan dengan itu, pengembangan prasarana pelabuhan juga dikebut. Akhir Agustus lalu, Pelindo meresmikan pelabuhan barang terbesar di Kalimantan, yaitu Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Terminal dengan proyeksi kapasitas ultimate hingga 1,95 juta TEUs peti kemas dan 28 juta ton barang ini dibangun untuk menggantikan Pelabuhan Dwikora di Pontianak. Diharapkan, Kijing dapat mempercepat akses dari kawasan industri menuju pelabuhan bongkar muat.
Pelindo juga mengembangkan kerja sama dengan operator global untuk mempercepat standar pelayanan internasional. September lalu, misalnya, Pelindo menggandeng konsorsium Indonesia Investment Authority (INA) dalam pengembangan Terminal Peti Kemas Belawan Baru (Belawan New Container Terminal atau BNCT).
Melalui kerja sama ini, konsorsium INA akan melakukan investasi sedikitnya Rp3,5 triliun dan mengoperasikan BNCT selama 30 tahun. Setelah masa pengelolaan berakhir, seluruh aset BNCT akan dikembalikan kepada Pelindo.
Baca juga: Pelindo Bersama Pemko Medan Melakukan Program Bantuan Dalam Atasi Banjir Rob dan Pemanasan Global
Transformasi Pelabuhan kelas dunia – Pelabuhan tanpa antrean
Berbagai ikhtiar tersebut, khususnya standarisasi layanan dan operasional, kini mulai menampakkan hasil. Kecepatan bongkat muat di Pelabuhan Ambon, Terminal Peti Kemas (TPK) Makassar, Belawan dan Sorong telah meningkat, yang membuat waktu sandar kapal dapat dipangkas dari semula dua hari menjadi separuhnya. Bahkan di Terminal Peti Kemas Belawan, waktu sandar dapat dipotong menjadi satu hari dari semula tiga hari.
Pengamatan melalui situs Marine Traffic yang memantau pergerakan kapal di seluruh dunia juga menunjukkan hal serupa. Di Pelabuhan Sorong, waktu bongkar muat bisa ditekan hingga 10 – 15 jam. Kapal peti kemas Oriental Gold yang masuk dari Ambon pada Selasa tengah malam (27/9/2022), misalnya, sudah meninggalkan Sorong sebelum pukul 10 esok harinya.
Rata-rata, melalui berbagai jurus transformasi, kecepatan penanganan peti kemas dapat ditingkatkan hingga dua kali lipat, dan port stay dapat dikurangi dari semula 2 sampai 4 hari menjadi hanya satu hari. “Kini, hampir tak ada antrean di terminal peti kemas kami," kata Arif Suhartono.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Melalui-penggabungan.jpg)