Berita Medan

Upaya Turunkan Angka Stunting, USU dan BKKBN Sumut Latih 200 Kader dan Tim Pendampingan Keluarga

USU bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumut menggelar pelatihan dalam rangka percepatan penurunan stunting.

Tribun Medan/Husna Fadilla Tarigan
Pemateri pelatihan kader stunting dan pendampingan keluarga, di Four Points bby Sheraton, Medan Selasa (25/10/2022). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumut menggelar pelatihan dalam rangka percepatan penurunan stunting di daerah.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Matching Fund Kedaireka Stunting 2022 dan diikuti 200 peserta dari 10 kabupaten/kota di Sumut. Dilaksanakan di hotel Four Points by Sheraton, Medan, Selasa (25/10/2022).

Kegiatan ini bekerjasama dengan 25 perguruan tinggi, termasuk USU. 

Ketua program Matching Fund Kedaireka Stunting 2022, dr Juliandi Harahap mengatakan kegiatan ini tak hanya berupa pembekalan bagi kader pencegahan stunting, ada juga pelatihan terkait mengidentifikasi bahan pangan lokal.

Baca juga: 40 Persen Kabupaten/Kota di Sumut Masih Ada Kasus Stunting, Edy Rahmayadi Bakal Lakukan Ini

"Untuk identifikasi bahan pangan lokal. Sudah diadopsi menjadi media pengolahannya, bahan pangan lokal brokat, bronis dari biji alpukat. Nah ini identifikasi yang dilakukan di kabupaten Simalungun. Nantinya akan didiskusikan sehingga bisa diterapkan di beberapa kabupaten yang disebutkan. Kegiatan yang lain yaitu identifikasi faktor resiko stunting, mereka melibatkan juga mahasiswa, terkait program Merdeka Belajar Kampus Merdeka," ujar Juliandi, Selasa.

Tak hanya itu, dalam kegiatan ini turut dilakukan pengumpulan data dan pendampingan terkait stunting

"Mengumpulkan data, melakukan pendampingan dan edukasi terkait stunting. Nah puncaknya hari ini kita melatih kader yang nantinya akan melakukan penyuluhan kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing. Akan melaksanakan pelatihan di daerah masing-masing seperti mengumpulkan ibu hamil lalu diedukasi terkait stunting tersebut," pungkasnya.

Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Yusrizal Batubara mengatakan dalam mengatasi stunting di Sumut, pihaknya menyebut ada 3 langkah pendekatan.  

"Nah ini merupakan langkah kedua yakni pendekatan pentahelix, di mana mengajak semua sektor untuk memberikan kepeduliannya. Termasuk kali ini bergandengan dengan perguruan tinggi, menyusun formula untuk menangani permasalahan stunting tersebut," tutur Yusrizal.

Yusrizal juga menyampaikan ada 3.000 orang yang sedang disiapkan untuk pencegahan stunting ini.

Baca juga: Angka Stunting di Medan Mulai Turun, Pemko Medan Beri Bantuan dengan Program Bapak Asuh

"Kita berharap kader-kader yang sudah dilatih akan menurunkannya kembali ke kader berikutnya di BKKBN. Ada 3000 orang yang sedang di siapkan untuk kader pencegahan stunting ini," ungkapnya.

Sementara itu, seorang kader dari Desa Banua Tonga, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padanglawas, Ali Boasar Lubis mengatakan minimnya pengetahuan masyarakat pedesaan tentang stunting menjadi salah satu kendala mengatasi permasalahan tersebut.

"Sebagian masyarakat pedalaman lah ya, tidak semua, benar seperti yang disampaikan tadi, bahwasanya kadang ada yang jika disebut anaknya terkena stunting dia tidak terima. Hal ini kan karena tidak ada edukasi sebelumnya begitu. Dari kaderisasi ini harapan kita bisa terus menggalakkan penurunan stunting khususnya di daerah," ujarnya.

(cr26/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved