Migrasi Burung Air
Lebih dari 35 Spesies Burung Air Asal Asia Utara Bermigrasi Menepi ke Batubara
Lebih dari 35 spesies burung air bermigrasi dari Asia Utara ke pesisir timur pantai Sumatera Utara
Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
TRIBUN-MEDAN.COM,SIANTAR- Lebih dari 35 spesies burung air bermigrasi dari Asia Utara ke pesisir timur pantai Sumatera Utara, persisnya di Kabupaten Batubara.
Kehadiran unggas yang terbang sepanjang ribuan kilometer dari belahan bumi utara ini terlihat di Pantai Sejarah, Kabupaten Batubara, Sabtu (29/10/2022) petang.
Kehadiran burung air ini diketahui berdasarkan penelitian Yayasan Warisan Hidup Sumatera (WHIS) dengan pengamatan melalui beberapa teropong di tepian Pantai Sejarah.
Baca juga: Jual Beli Sisik Trenggiling dan Paruh Burung Rangkong Gading, Polisi Amankan 2 Tersangka
“Jadi kegiatan kami di sini itu adalah satu langkah mengenalkan burung air yang ada di Batubara. Event kami kali ini juga bertepatan dengan perayaan hari burung migrasi dunia (World Migratory Bird Day 2022). Ini event tahunan yang dilakukan pada bulan Mei dan Oktober setiap tahunnya di seluruh dunia,” ujar koordinator WHIS - Chairunas Adha Putra.
Di Pantai Sejarah, Kabupaten Batubara ini, ujar Chairunas, Yayasan Warisan Hidup Sumatera mengenalkan lebih dekat tentang burung air yang bermigrasi di Sumatera Utara.
Hadirnya burung air adalah bukti adanya ekosistem yang baik di pesisir pantai yang dihinggapinya.
Baca juga: Taman Cemara Asri, Tempat Bersantai yang Murah Meriah, Bisa Sambil Lihat Ribuan Burung
Ekosistem yang terjaga membuat burung hadir lebih banyak. Kemudian sebaliknya, ekosistem yang tercemar membuat burung air tak akan tinggal.
Sehingga demikian, burung air membuktikan peranan penting untuk melihat ekosistem suatu pesisir.
“Di sepanjang pesisir timur Sumatera Utara, itu Kabupaten Batubara memiliki potensi untuk burung migrasi yang sangat penting. Itu bisa mencapai 10 ribu ekor. Jadi burung migrasi ini tidak sepanjang tahun di Indonesia. Hanya waktu-waktu tertentu saja,” kata Chairunas.
Baca juga: VIRAL Istri Potong Burung Suami Saat Mau Bercinta di Siang Bolong, Diduga Alami Kesurupan
“Biasanya kita mengamati di bulan Oktober dan Maret. Di bulan bulan tersebut burung migran ini datang ke Indonesia, di mana sebelumnya mereka melakukan perkembangbiakan di belahan bumi utara seperti Alaska, Mongolia, China. Jadinya mereka berkunjung ke Indonesia sebagai lokasi persinggahan karena lokasi sebelumnya memasuki musim dingin,” jelas lulusan Biologi USU tersebut.
Berdasarkan pantauan di Pantai Sejarah beberapa hari terakhir, Tim WHIS mengidentifikasi sedikitnya 35 spesies burung air.
Beberapa burung tersebut diketahui telah ditandai oleh pemerhati burung di dunia dengan memberikan bendera di kakinya, sebagai tanda asal dari mana burung air berada sebelumnya.
Baca juga: Polda Sumut Bekuk Penjual 1,9 Kilogram Sisik Trenggiling dan Paruh Burung Enggang Asal Aceh
“Di sini kita temukan ada lebih dari 35 species. Ada kelompok kedidi, trinil, cerek pasir, dan sebagainya. Jadi total jenis ada lebih dari 35 spesies. Jadi beberapa spesies ada cincin di kakinya seperti bendera. Ini adalah dia ditangkap kemudian ditandai. Jadi masing-masing negara memiliki warna berbeda,” kata Chairunas.
Disampaikan Chairunas, pemerhati burung di seluruh dunia sangat mengapresiasi bagi masyarakat yang tidak menjadikan burung air sebagai olahan makanan.
Perburuan burung air sangat dilarang. (Alj/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/burung-air-bermigrasi.jpg)