Piala Dunia di Kedai Tok Awang
Kenangan Ali Daei, Duel-duel Politik Sepak Bola
Terlepas dari hitung-hitungan poin, Iran versus Amerika Serikat mencuatkan kisah lain. Kisah yang berkaitan dengan politik.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
“Apalagi waktu dia kemudian pindah ke Bayern Munchen, ya,” sambung Jek Buntal. “Ada rasa-rasa bangga gitu. Biar pun bukan dari Indonesia, ya, paling enggak ada orang Asia yang main di Munchen.”
Ali Daei tidak melesakkan gol di pertandingan itu. Gol-gol Iran dicetak Hamid Reza Estili dan Mehdi Mahdavikia. Namun performa yang ditunjukkan Daei sepanjang laga terbilang istimewa. Dia terus berlari dan menebar ancaman ke jantung pertahanan Amerika Serikat.
“Pas lawan Wales kemarin, nengok Iran main cantik kayak gitu, aku jadi teringat Iran di eranya Ali Daei. Main rapi dan tajam. Iran mestinya menang tiga kosong kalok enggak gara-gara VAR,” kata Mak Idam.
“Jadi menurut Mamak cemana? Bisa Iran menang lagi sama Amerika?” tanya Jontra Polta. “Kalok di catatanku, agak tinggi jugak yang pegang Amerika ini.”
Mak Idam, juga Jek Buntal dan Tok Awang yang ikut terkenang-kenang pada Ali Daei dan pasukan Iran 1998, menempatkan Iran sebagai unggulan. Pun Zainuddin yang belum lama tiba dan langsung nimbrung obrolan.
“Secara teknis, Iran sekarang cukup bagus,” ucapnya. Hal lain, bilang Zainuddin, ada faktor politik yang mengiringi. “Selalu ada motivasi tersendiri bagi Iran, atau negara-negara lain yang bermasalah secara politik dengan Amerika Serikat, ketika mereka saling berhadapan di arena olahraga.”
Alasan serupa dikedepankan Zainuddin kala ia lebih menjagokan Wales ketimbang Inggris. Menurut Zainuddin, meski peluang Wales untuk lolos ke 16 besar tinggal setipis kulit bawang, tidak akan membuat semangat pemain luntur. Justru sebaliknya, akan makin menggebu.
“Peluang Wales belum tertutup rapat. Setidaknya kalau mereka menang tiga gol, mereka bisa lolos sebagai runner up grup,” ujarnya.
Jek Buntal tertawa. “Walah, Pak Guru yakin kali. Inggris, lho, itu, bukan kaleng-kaleng. Sejelek-jeleknya Inggris, kurasa berat mereka kalah tiga dari Wales.”
“Iya, Pak Guru,” sambung Mak Idam. “Kan, bukan cumak Wales yang merasa pertandingan ini jadi marwah. Inggris jugak kayak gitu.”
Ocik Nensi yang baru mengantar pesanan mi instan kuah, sembari menekan-nekan tombol remote control televisi, melontar kalimat.
“Eh, teringatku, Perdana Menteri Inggris itu baru, ya. Kutengok pas ketemu Pak Jokowi di KTT G-20 kemarin. Agak tampan kutengok.”
“Iya, Cik, ada keturunan India dia,” jawab Jontra Polta.
“Wah, pantes! Apa masih ada hubungan saudara sama Shah Rukh Khan?” (t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/iran5.jpg)