In Memoriam Nano Riantiarno

Kebahagiaan Itu akan Tetap Koma, Maestro, tak Berubah Jadi Titik

Tiap pementasan Teater Koma selalu diawasi aparat. Intel-intel tentara, intel polisi, juga para pegawai pemerintahan memelototi pertunjukan dari menit

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Instagram Teater Koma
Nano Riantiarno (depan) saat tampil dalam satu lakon pertunjukan di Jakarta beberapa waktu lalu. Pendiri Teater Koma ini meninggal dunia dalam usia 73 tahun. 

ALKISAH pada pagi 24 Maret 1990, telepon di rumah Riantiarno berdering. Ia sendiri yang mengangkat, dan dari seberang terdengar suara berat, yang hendak mengesankan kewibawaan.

Suara itu milik seorang tentara, berpangkat Kolonel, yang tanpa basa-basi bertanya apakah lakon yang hendak dipentaskan oleh Riantiarno dimaksudkan untuk menyentil Presiden Soeharto, anak-anaknya, dan kroni-kroninya, terutama menyangkut rupa-rupa bisnis yang mereka jalankan.

Lakon itu berjudul 'Konglomerat Burisrawa' yang rencananya dipentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada malam 23 Maret (dijadwalkan sampai 9 April 1990). Telepon dari sang Kolonel datang selang beberapa jam setelah Teater Koma, kelompok teater yang dipimpinnya, menggelar gladi resik.

Waktu itu, memang, tiap-tiap pementasan Teater Koma selalu diawasi aparat. Intel-intel tentara, intel polisi, juga para pegawai pemerintahan (berseragam atau tak berseragam) memelototi pertunjukan dari menit ke menit. Tak jarang pentas mereka dibatalkan menjelang hari-H, bahkan pada hari H atau setelah pementasan berjalan, karena dianggap "membahayakan".

Setahun sebelumnya, pertunjukan Teater Koma berjudul 'Sampek Engtay' yang seyogianya digelar di Tiara Convention Center, Medan, dibubarkan pascadinyatakan "bermuatan politik" dan dilarang oleh pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumatra Utara.

Begitulah, sejak memulai perjalanannya bersama Teater Koma pada tahun 1977, lewat pementasan perdana berjudul 'Rumah Kertas', Riantiarno acap kali mendapatkan adangan seperti ini.

Rezim Orde Baru yang "curigaan" dan "baperan" kerap menudingnya sebagai tukang kritik, posisi yang pada masa itu tidak jamak dan pelakunya dapat dituding melakukan tindak subversif. Berkali-kali ia harus digelandang ke kantor polisi, atau kantor koramil atau kodam, untuk diinterogasi.

Interogasi ini tak jarang berlarut-larut. Pada pementasan lakon 'Suksesi', misalnya. Teater Koma telah mendapat tempat di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki untuk mementaskan lakon ini selama 14 hari (28 September sampai 11 November 1990).

Tentara dan polisi bergantian menginterogasi Riantiarno sejak pementasan hari pertama sampai hari kesepuluh sebelum memutuskan melarang dan menghentikan pementasan hari kesebelas.

Riantiarno pada dasarnya tak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi. Premisnya saat mendidikan Teater Koma adalah mencari kebahagiaan.

"Saya tak punya impian muluk. Saya tidak pernah punya niat untuk mencipta ‘seni adiluhung’, tidak pernah, itu bukan tujuan saya. Keinginan saya sederhana. Saya cuma ingin menyajikan hiburan, iya, hiburan dengan H besar," katanya seperti ditulisnya dalam "Kode Etik Teater Koma".

Hiburan, sebut Riantiarno, bisa menjadi bagian dari teater, dan teater adalah jalan menuju kebahagiaan. Ia meminta tiap-tiap anggota Teater Koma untuk bersetia pada tujuan ini: 'Kebahagiaan'.

Riantiarno, oleh teman-temannya disapa Nano, berpendapat teater tidak boleh terus-menerus menempatkan diri di posisi yang "agung", hingga tak terjamah, dan oleh sebab itu jadi jauh dari orang banyak.

"Teater seakan jadi 'benda yang aneh'. Seakan ada di dalam lemari besi terkunci, sulit dijamah dan akhirnya dijauhi lantaran tidak komunikatif. Saya ingin membuat pertunjukan yang bukan cuma untuk seniman, bukan hanya untuk orang-orang yang paham seni atau merasa paham seni, tetapi juga untuk kalangan masyarakat umum. Saya ingin pentas-pentas teater tidak lagi sepi penonton,” tulis Nano dalam buku 'Dari Rumah Kertas ke Pentas Dunia'. Pendapat yang sama juga muncul dalam bukunya yang lain, 'Potret'.

Caranya? Riantiarno mengubah pendekatan panggung. Umumnya, set panggung-panggung teater menunjukkan kesan yang muram, gelap, sunyi, meneror mental. Kesan yang serius. Panggung Teater Koma sebaliknya. Serba meriah, penuh warna dan pernik, bahkan ketika bicara perihal kekumuhan.

Para pelakon Teater Koma berpose untuk satu gelaran pertunjukan di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Para pelakon Teater Koma berpose untuk satu gelaran pertunjukan di Jakarta, beberapa waktu lalu. (Instagram Teater Koma)

Kemudian, dialog. Riantiarno menjadikan dialog-dialog dalam lakon Teater Koma lebih ringan dan mudah dipahami tanpa perlu berlama-lama menyergitkan kening. Ada selipan lelucon di sana-sini.

Awalnya, tentu saja, Teater Koma dicibir kalangan kritikus. Riantiarno disebut telah menafikan menghinakan teater dengan menurunkan derajatnya menjadi setara dengan pertunjukan sandiwara rakyat di pentas-pentas ala 17 Agustusan di pelosok kampung.

Sejumlah seniman muda membela Riantiarno. Satu di antaranya Putu Wijaya. Namun begitu, Putu tetap melontar kritik. Dalam tulisannya di Tempo, 27 April 1978, Putu Wijaya [analisis pertunjukan berjudul 'Maaf, Maaf, Maaf' yang dipentaskan 12-16 April 1978] menyebut apa yang dilakukan Riantiarno adalah "kesintingan yang tanggung".

Riantiarno tak peduli. Ia justru mengakui bahwa filosofi dasar Teater Koma memang berangkat dari pertunjukan rakyat; teater rakyat dan kesenian tradisi. Dua tahun sebelum mendidikan Teater Koma pada 1 Maret 1977, Riantiarno sempat berkeliling ke sejumlah daerah di Indonesia untuk menonton dan mempelajari pertunjukan-pertunjukan di panggung rakyat.

Bilangnya, "Setujukah Anda jika ada yang menghakimi seni jalanan kurang mutunya dibanding seni adiluhung di keraton atau seni modern? Setuju jika ada yang menyatakan Srimulat lebih rendah mutu seninya dibanding Rendra? Saya tidak. Lagi pula, saya berkesenian bukan untuk para kritikus. Saya berkesenian untuk kebahagiaan. Kebahagiaan saya, kebahagiaan anggota teater saya dan keluarganya, dan kebahagiaan orang-orang yang menonton pertunjukan kami."

Keinginan Riantiarno terwujud. Pertunjukan Teater Koma selalu jadi tontonan laris. Kursi-kursi di gedung-gedung di mana pertunjukan digelar, entah di gedung pertunjukan seni atau bahkan di ballroom hotel berbintang, tidak pernah kosong. Pengawasan dan pencekalan dari rezim Orde Baru malah menjadi promosi positif bagi mereka.

Para pelakon Teater Koma berpose untuk satu lakon pertunjukan yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Para pelakon Teater Koma berpose untuk satu lakon pertunjukan yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu. (Instagram Teater Koma)


Lantas kenapa memilih nama Koma? Koma adalah tanda baca, dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan; dipakai sebelum kata penghubung; dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya; dan tak kurang sepuluh pengertian dan mekanisme penempatan lainnya sebagaimana diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Di luar semuanya, satu pemahaman yang lebih umum adalah bahwa jika menemukan koma (,) maka itu menunjukkan kalimat belum berakhir.

Nama 'Koma' konon diusulkan Nano Riantiarno sendiri. Jim Barry Aditya, anggota awal Teater Koma, menyebut Riantiaro menginginkan kelompok mereka terus bergerak dan berkarya, tanpa henti, tak mengenal titik.

Hari ini, Jumat 20 Januari 2023, Nobertus Riantiarno, begitu nama lahirnya, meninggal dunia di Jakarta. Setahun terakhir kondisi kesehatannya memang terus memburuk. Berawal dari tumor yang bersarang di kakinya, cairan kemudian merembet ke paru-paru. Ia juga memiliki masalah pada jantung.

Apakah kepergian Nano Riantiarno membuat tanda koma itu berubah menjadi titik? Perihal Teater Koma, tentu, hanya mereka yang bisa menjawab. Namun perihal kebahagiaan rasa-rasanya bisa langsung dijawab. Tidak, kebahagiaan itu akan terus menjadi koma, akan terus terkenang-kenang sampai kapan pun.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved