Penyakit Jantung

Penyakit Jantung Paling Banyak Menggerus Pembiayaan BPJS

Kadis Kesehatan Pemprov Sumut menyebut bahwa penyakit jantung jadi penggerus utama pembiayaan BPJS

Editor: Array A Argus
istimewa via tribunbali
Ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Alwi Mujahit mengatakan penyakit jantung menjadi satu diantara penggerus pembiayan BPJS.

Ia mengatakan, masyarakat saat ini rentan terpapar penyakit kardiovaskular, karena pola hidup yang tak sehat. 

Alwi pun mengimbau, agar masyarakat rutin berolahraga dan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mengantisipasi penyakit kardiovaskular atau jantung yang menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia.

Baca juga: Lupa Ada Penyakit Jantung, Dengar Lagu India Ikut Joget, Tamu ini Meninggal Mendadak di Pelaminan

"Ini harus memperbaiki gaya hidup, supaya hidup bersih dan sehat untuk menghindari penyakit, seperti penyakit kardiovaskular," ujar Alwi Mujahit, di Medan, Kamis (28/9/2023).

Alwi menjelaskan masyarakat bisa menerapkan hidup sehat, seperti istirahat yang cukup, tidak minum alkohol, tidak merokok, dan rajin berolahraga.

"Selain itu, juga harus memperhatikan makanannya, kurangi makan makanan yang siap saji," kata Alwi Mujahit.

Baca juga: Polres Palas Sosialisasi Tentang Penanganan dan Pertolongan Pertama Penyakit Jantung

Menurut Alwi, kardiovaskular atau penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang berbahaya, karena dapat menyerang kapan dan dimanapun.

"Penyakit jantung ini termasuk yang pembiayaan besar BPJS, nomor dua terbanyak, pasien di Sumut juga mirip mirip lah besar nya sama nasional," sebutnya

Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eva Susanti mengatakan penyakit kardiovaskular atau jantung menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia.

"Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah penyakit stroke dengan 19,42 persen dan jantung iskemik (serangan jantung) dengan 14,38 persen," ujar Eva Susanti.

Baca juga: Serangan Jantung Tiba-tiba? Berikut Gejala Penyakit Jantung, Kenali Sejak Dini

Tidak hanya di Indonesia, Eva mengatakan kedua penyakit kardiovaskular tersebut juga menjadi perhatian dunia, karena penyakit jantung iskemik menyebabkan 16,17 persen kematian di dunia, sedangkan stroke menyebabkan 11,59 persen kematian di dunia.

Selain itu sejumlah faktor risiko yang menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, merokok, dan obesitas, menduduki lima besar faktor risiko yang menyebabkan beban penyakit di Indonesia.

Baca juga: Ditambah Gula dan Susu Kental Manis, Kopi Kekinian Picu Meningkatnya Penyakit Jantung

Pada tahun 2022, ungkap dia, terdapat peningkatan jumlah pembiayaan penyakit katastropik menjadi Rp24,06 triliun.

"Kedua jenis penyakit kardiovaskular tersebut menjadi penyakit dengan pembiayaan terbesar Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan Rp15,37 triliun," ujar Eva.(cr14/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved