Beras Plastik
Marak Isu Beras Plastik, Pakar UGM Beri Penjelasan Soal Fakta Sebenarnya
Isu beras plastik akhir-akhir ini marak beredar di media sosial hingga meresahkan masyarakat
TRIBUN-MEDAN.COM,- Isu beras plastik akhir-akhir ini begitu marak di media sosial.
Tak pelak, isu beras plastik ini membuat masyarakat resah.
Terlebih, isu beras plastik dikaitkan dengan beras dari Bulog yang menggunakan kemasan tulisan Stabilisasi Pasokan dengan Harga Pangan (SPHP).
Karena isu ini makin liar dan kian meresahkan, pakar dari Universitas Gajah Mada, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Halal Center, Nanung Danar Dono, S.Pt., M.Sc., Ph.D, turut angkat bicara.
Baca juga: Bulog Minta Masyarakat Untuk Tidak Khawatir, Beras SPHP Dipastikan Aman
Kata Nanung, soal isu beras plastik ini dapat dipastikan bohong atau hoaks.
Nanung bilang, mustahil beras plastik bisa dikukus.
Sebab, kata dia, sifat plastik ketika terkena panas akan mengkerut, bukan malah mengambang.
“Begitu pula dengan beras plastik komersial. Jika memang benar ada, maka saat dipanaskan ia hanya akan berubah menjadi beras plastik panas, bukan berubah menjadi nasi,” kata Nanung, dikutip Tribun-medan.com dari situs ugm.ac.id milik UGM, Sabtu (14/10/2023).
Baca juga: Cara Memilih Beras yang Bagus dan Berkualitas dan Layak Konsumsi
Nanung menyampaikan, jika ada orang yang membuat video menggenggam nasi lantas dibentuk bola padat lalu bisa memantul saat dilempar, maka hal itu bukan berarti mengindikasikan nasi tersebut terbuat dari plastik.
Namun, nasi tersebut mengindikasikan memiliki kandungan non-starch polysaccharides (NSP) atau karbohidrat non-patinya tinggi.
Terutama pada kandungan amilopektin dan amilosa.
Contoh jenis beras yang memiliki kandungan amilopektin dan amilosa tinggi adalah beras ketan atau glutten rice atau stiky rice.
“Itulah sebabnya mengapa lemper itu saat digigit sangat liat berbeda dengan arem-arem yang terbuat dari beras biasa,” terangnya.
Baca juga: 15 Sampel Beras Premium di Pasar Pringgan Diambil DKP3 Medan dan Dibawa ke Laboratorium
Nanung menjelaskan, industri nasi palsu, telur palsu, ikan (tempura) palsu, kobis palsu, sayur palsu sesungguhnya memang ada di Jepang dan di China.
Meski begitu, produk-produk tersebut sebatas sebagai bahan displai menu masakan di depan restauran siap saji dan bukan untuk dikonsumsi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/12092023_HARGA-BAHAN-POKOK_ABDAN-SYAKURO-14.jpg)