Tribun Wiki
Legenda Pesut Mahakam asal Kalimantan Timur yang Kini Hampir Punah
Pesut Mahakam atau Orcaella brevirostris merupakan lumba-lumba air tawar yang kini terancam punah
Ia merasa keluarganya kembali lengkap dan menjadi rajin bekerja agar bisa menyenangkan istri barunya.
Kejahatan Sang Penari Sebagai ibu Tiri
Tanpa diketahui ayah, ibu tiri justru menunjukkan sikap yang sangat berbeda setelah menikah.
Setiap Ayah pergi ke hutan atau ladang, ibu memberi tugas rumah yang berat pada anak-anak.
Awalnya sekadar mencuci piring atau menyapu lantai, namun lama-kelamaan seluruh tugas rumah harus dikerjakan anak-anak.
Tapi saat ayah pulang, ibu tiri akan berkata kalau sepanjang hari anak-anak hanya bermalas-malasan dan tak mau membantunya.
Tanpa diketahui ayah, ibu tiri justru menunjukkan sikap yang sangat berbeda setelah menikah.
Karena sangat mencintai istri barunya, ayah percaya sepenuhnya pada ibu tiri dan menegur anak-anak.
Bahkan, ayah setuju saat ibu tiri ingin menghukum anak-anak dengan memberikan makanan sisa agar mereka bisa lebih menghargainya.
Semakin lama, tugas yang diberikan ibu tiri semakin tak masuk akal.
Ibu tiri meminta anak-anak mencari kayu bakar ke hutan, sebuah pekerjaan berat yang biasanya hanya dilakukan oleh lelaki dewasa.
Mereka diminta pergi tanpa makan terlebih dahulu, dan tak diizinkan pulang sebelum mendapat kayu satu keranjang penuh.
Meski berhasil melakukan tugas ini, sesampainya di rumah anak-anak tetap hanya diberikan makanan sisa.
Esoknya, ibu tiri kembali meminta anak-anak mencari kayu bakar.
Kali ini harus dua kali lipat banyaknya!
Lagi-lagi, mereka tak diizinkan makan terlebih dahulu, juga tak boleh pulang jika belum berhasil mengumpulkan kayu bakar.
Saat malam tiba, keduanya baru berhasil mengumpulkan satu keranjang kayu bakar.
Tahu akan dimarahi jika pulang sebelum berhasil, anak-anak pun memutuskan untuk bermalam di hutan dengan perut kelaparan.
Di pagi hari, anak-anak segera bangun untuk mencari satu keranjang lagi kayu bakar agar bisa segera makan di rumah.
Hari semakin siang, keduanya pun merasa semakin lapar sehingga akhirnya jatuh pingsan.
Saat sadar, anak-anak sudah berada di bawah pohon rindang di area yang penuh dengan buah-buahan.
Tanpa berpikir panjang, anak-anak langsung makan hingga kekenyangan.
Setelahnya, anak-anak lanjut menyelesaikan tugas mencari kayu bakar lalu segera pulang.
Anak-Anak Ditinggal Ayah dan Ibu Tiri
Sesampainya di rumah, anak-anak terkejut melihat rumah yang kosong.
Bukan hanya orang tua mereka yang menghilang, tapi juga hampir semua barang di dalamnya.
Ternyata selama mencari kayu, ayah dan ibu pindah dari rumah itu.
Karena panik dan tak tahu harus berbuat apa, anak-anak hanya bisa menangis.
Setelah lebih tenang, anak-anak memutuskan untuk menjual semua kayu bakar yang tersisa pada tetangga agar bisa mendapat bekal mencari orang tuanya.
Setelah dua hari perjalanan, sampailah anak-anak di tepian Sungai Mahakam.
Di sana terlihat rumah kecil dengan jemuran baju di depannya.
Baju itu terlihat seperti punya ayah!
Mereka segera berlari masuk ke dalam rumah, tetapi kosong.
Di dalam rumah tercium aroma masakan yang membuat perut anak-anak yang sudah kelaparan pun berbunyi nyaring.
Ternyata, aroma lezat itu datangnya dari dapur.
Di sana ada sebuah kuali berisi bubur yang sedang dimasak hingga mendidih.
Karena sangat lapar, anak-anak menyendok bubur panas sesuap demi sesuap dan menghabiskannya sampai ke dasar kuali.
Setelah makan, suhu tubuh mereka menjadi panas seperti terbakar api.
Panik, anak-anak menggunakan semua air di dapur untuk minum dan menyiram tubuh, namun berujung nihil.
Mereka melepas semua barang bawaan dan berlari ke luar rumah menuju ke sungai, kemudian langsung melompat ke dalam air.
Ayah Menemukan Anak-Anak Menjadi Pesut
Di saat yang sama, ayah dan ibu tiri sampai ke rumah.
Saat masuk ke dapur, semuanya terlihat berantakan.
Terlihat barang anak-anak yang sudah berserakan di samping kuali kosong.
Ayah lalu menyadari anak-anak datang mencarinya, mereka tidak kabur dari rumah seperti kata ibu tiri.
Ayah keluar dan mencari anak-anaknya hingga ke tepi sungai, tapi tak menemukan siapapun.
Di dalam sungai, Ayah hanya melihat ada dua makhluk seperti ikan berwajah mirip manusia yang menyemburkan air dari kepala mereka.
Keduanya berenang berputar-putar seperti senang melihat Ayah.
Ayah menjadi curiga jika kedua makhluk itu adalah anaknya.
Ayah berlari ke rumah untuk meminta tolong pada ibu tiri guna memastikan apa dua makhluk itu benar anak-anaknya.
Namun Ayah tak bisa menemukan ibu tiri di mana pun.
Wanita yang sudah menelantarkan anak-anaknya itu ternyata sudah menghilang begitu saja.
Ayah akhirnya kembali ke sungai, meratapi keadaan anak-anaknya yang telah berubah menjadi pesut dan menyesali perbuatannya yang terlalu percaya semua perkataan istri barunya.
Warga sekitar yang mengetahui tentang kisah ini kemudian menamai anak-anak dengan sebutan Pesut Mahakam.
Moral Cerita Pesut Mahakam
Kisah Pesut Mahakam adalah cerita rakyat yang mengandung beberapa nilai moral.
Pelajaran pertama yang bisa dipetik dari cerita ini adalah agar tidak mudah percaya dengan orang melebihi keluarga sendiri.
Seperti yang dilakukan Ayah yang lebih percaya pada ibu tiri yang belum lama dikenalnya dibanding anak-anak.
Pelajaran pertama yang bisa dipetik dari cerita ini adalah agar tidak mudah percaya dengan orang melebihi keluarga sendiri.
Terakhir, kesedihan yang berlarut-larut seperti yang Ayah lakukan sepeninggal Ibu, bisa membawa banyak dampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.(mag1/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pesut-mahakam.jpg)