Meriyawaty Amelia Prasetio

Cerita Meriyawaty Amelia Prasetio alias Ayin Terjangking Covid-19, Merasa Was-was dan Matikan Ponsel

Caleg DPRD Sumut sekaligus Bendahara DPD Partai Gerindra Sumut, Meriyawaty Amelia Prasetio menceritakan pengalamananya terkena Covid-19

Editor: Jefri Susetio
istimewa
Bendahara DPD Gerindra Sumut sekaligus Caleg DPRD Sumut, Meriyawaty Amelia Prasetio menjadi inisiator pertemuan 1000 pengusaha Tionghoa dengan Hashim Djojohadikusumo. Ayin menceritakan pengalamannya terkena Covid-19 serta merasa was-was selama isolasi. 

TRIBUNMEDAN.COM, MEDAN - Caleg DPRD Sumut sekaligus Bendahara DPD Partai Gerindra Sumut, Meriyawaty Amelia Prasetio menceritakan pengalamananya terkena Covid-19.

Kala itu, ia merasa was-was hingga matikan ponsel untuk fokus berobat.

Meriyawaty Amelia Prasetio alias Ayin menjadi relawan Satgas Covid-19 Sumut tatkala pandemi Covid-19.

Baca juga: Ayin Inisiator Pertemuan 1000 Pengusaha Tionghoa dengan Hashim Djojohadikusumo: Siap Menangkan 02

 

"Saya pikir kondisi sehat dan niatnya juga mau menolong pasti diberikan kesehatan. Agar bisa kuat dan bisa membantu. Tidak ada pikir yang lain-lain. Kalau niat baik pasti terhindar dari penyakit begitu," ujarnya saat podcast Jumpa Tengah di Studio Tribun-Medan.com, belum lama ini.

Ia menambahkan, penyodorkan diri sebagai relawan Satgas Covid-19 di Sumut karena unsur kemanusiaan.

Apalagi, kondisi saat itu semua orang takut dengan virus Covid-19 yang sudah menyerang banyak orang.

"Dulu saya pengin tahu penyakit ini apa? Kalau misalnya orang terkena bagaimana penanganannya. Saya terjangkit Covid-19 pada 17 Juni. Saya masih ingat itu," katanya.

Sebagai relawan Satgas Covid-19, kata dia, selalu menggunakan APD lengkap serta menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Kala itu, setiap orang yang terkena Covid-19 merasa penciumannya hilang, perasanya ilang. Dan, demam tinggi.

"Sedangkan waktu saya kena Covid-19 tidak merasa adanya hilang penciuman, hilang indra perasa. Waktu mulai demam ngomong sama kepala dinas kesehatan, seperti saya kena Covid-19. Tapi mereka bilang tidak Bu. Ibu kecapean aja. Sebab tiap hari dari pagi sampai malam kerja," ujarnya.

Setelah melakoni aktivitas di Kantor Gubernur Sumut, ia pulang sekira pukul 22.00 WIB.

Akan tetapi, suhu tubuhnya panas sehingga ia memutuskan untuk rapid test.

"Waktu itu sudah ada PCR. Saya dianjurkan dokter Alwi untuk PCR sendiri. Pulang ke rumah saya sudah takut sendiri jadi isolasi mandiri. Saya takut orangtua dan anak-anak terkena. Kita enggak mau mereka kena," katanya.

Tidak lama kemudian, tim dokter menyampaikan bahwa ia positif Covid-19.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved