Kesehatan
Penyebab dan Gejala Bakteri Pemakan Daging yang Menjangkiti Warga Jepang
Ada beberapa penyebab dan gejala terjadinya bakteri pemakan daging yang saat ini tengah merebak di Jepang. Waspadai luka dan kelelahan
TRIBUN-MEDAN.COM,- Kemunculan bakteri pemakan daging atau necrotizing fasciitis membuat masyarakat di Jepang menjadi was-was dan lebih hati-hati.
Ada beberapa penyebab dan gejala bakteri pemakan daging ini yang perlu diketahui.
Dikutip dari columbiadoctors.org, necrotizing fasciitis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
Infeksi penyakit ini disebut "pemakan daging" karena dampaknya dapat menghancurkan kulit, lemak, dan jaringan yang menutupi otot dalam waktu sangat singkat.
Baca juga: Penyebab Botak Depan dan Puncak Kepala pada Pria, Ini Cara Mengatasinya
Necrotizing fasciitis sangat jarang terjadi namun serius.
Banyak orang yang terkena necrotizing fasciitis berada dalam kondisi sehat sebelum terkena infeksi.
Ketika seseorang terpapar penyakit bakteri pemakan daging ini, akan timbul komplikasi yang dapat mencakup sepsis, syok, dan kegagalan organ.
Namun, diagnosis dini yang akurat dan pengobatan antibiotik yang cepat masih dapat menghentikan infeksi ini.
Faktor risiko bakteri "pemakan daging"
- Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah .
- Memiliki masalah kesehatan kronis seperti diabetes, kanker, atau penyakit hati atau ginjal.
- Memiliki luka di kulit Anda, termasuk luka operasi.
- Baru saja menderita cacar air atau infeksi virus lain yang menyebabkan ruam.
- Gunakan obat steroid yang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.
Kasus infeksi bakteri "pemakan daging" memiliki nama ilmiah streptococcal toxic shock syndrome (STSS).
Baca juga: Penyebab Listrik Padam Mendadak di Wilayah Sumatera Utara Lebih dari 5 Jam, Warga Medan Mengeluh
Butuh Waktu 48 Jam Merusak Jaringan Tubuh
Dilansir dari scientificamerican.com, bakteri pemakan daging ini cuma membutuhkan waktu 48 jam merusak jaringan tubuh.
Ketika bakteri ini mencapai aliran darah, mereka siap mengakses jaringan dan sistem organ tambahan.
Jika tidak diobati, necrotizing fasciitis bisa berakibat fatal.
Baca juga: BPOM Sebut Faktor Lain Penyebab Gagal Ginjal Akut Adanya Infeksi Virus dan Bakteri Leptospira
Spesies bakteri Streptococcus grup A , atau strep grup A, adalah penyebab paling umum di balik necrotizing fasciitis.
Namun peringatan terbaru CDC menunjukkan adanya tersangka tambahan, sejenis bakteri yang disebut Vibrio vulnificus.
Hanya terdapat 150 hingga 200 kasus Vibrio vulnificus di AS setiap tahunnya, namun angka kematiannya tinggi, dengan 1 dari 5 orang meninggal karena infeksi tersebut.
Penyebab penyakit pemakan daging
Penyebab paling umum necrotizing fasciitis adalah ketika bakteri menyerang tubuh melalui luka di kulit, meskipun infeksi ini bisa juga terjadi jika ada cedera yang tidak merusak kulit.
Berikut adalah beberapa cara bakteri pemakan daging dapat masuk ke kulit:
- Luka, goresan atau luka bakar
- Gigitan serangga
- Luka karena jarum atau benda lain yang menyebabkan luka tusukan
- Operasi
Baca juga: Gejala Infeksi Bakteri Salmonella Bisa Menyebabkan Tipes,Telur Cokelat Kinder Ditarik dari Peredaran
Gejala Awal pada Tubuh
Mengutip Cleveland Clinic, gejala awal penyakit pemakan daging meliputi tanda dan gejala yang mirip dengan flu, seperti:
- Pegal-pegal
- Demam
- Menggigil
- Mual
- Diare
- Nyeri hebat di lokasi cedera
Baca juga: Gejala Infeksi Bakteri Salmonella Bisa Menyebabkan Tipes,Telur Cokelat Kinder Ditarik dari Peredaran
Perkembangan penyakit ini sangat cepat.
Gejala lanjutan
- Kulit memerah dan/atau berubah warna
- Pembengkakan jaringan yang terkena
- Aliran darah tidak stabil
- Lepuh berisi cairan berdarah atau kekuningan
- Kematian jaringan (nekrosis)
- Tekanan darah rendah
- Sepsis
Penting untuk segera mencari perawatan jika mengalami tanda dan gejala penyakit ini karena infeksinya dapat menyebar dengan cepat.
Wabah bakteri "pemakan daging" atau Necrotizing fasciitis dilaporkan sedang merebak di Jepang.
Diketahui lebih dari 1.000 kasus dilaporkan terjadi di Jepang selama 6 bulan pertama di tahun 2024.
Selain itu, penderita yang terinfeksi juga akan mengalami nekrosis, masalah pernapasan, kegagalan organ yang berujung pada kematian.
Baca juga: 5 Tips Menjaga Kesehatan Bagi Jemaah Haji di Tanah Suci Menurut Epidemiolog
Direktur infeksi, imunitas dan kesehatan global di Murdoch Children's Research Institute di Melbourne Australia, Andrew Steer mengatakan, pada kasus tertentu, penderita SSTS sering kali tidak memiliki tanda-tanda peringatan.
"Anda cenderung sehat, dan kemudian menjadi sangat sakit," kata dia, dilansir dari Independent.
Indikasi awal yang bisa dikategorikan sebagai gejala wabah bakteri pemakan daging berupa ruam seperti sengatan matahari.
Dalam waktu 24 hingga 48 jam, tekanan darah akan turun diikuti dengan kegagalan organ dan detak jantung dan pernapasan yang cepat.
Oleh sebab itu, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat apabila Anda merasakan gejala-gejala di atas.(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.