Kesehatan
Kenali Penyebab Pecah Pembuluh Darah Seperti yang Dialami Hamdan ATT
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab pecah pembuluh darah di otak. Pertama karena hipertensi, dan kelainan pada dinding pembuluh darah
TRIBUN-MEDAN.COM,- Sejumlah media massa mengabarkan bahwa penyanyi dangdut legendaris Hamdan ATT mengalami pecah pembuluh darah.
Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta untuk menjalani operasi.
Setelah menjalani serangkaian tindakan medis, pria yang mengalami stroke sejak tahun 2017 itu kondisinya mulai berangsur pulih.
Banyak doa mengalir untuk kesembuhan Hamdan ATT.
Disamping itu, tak sedikit warganet yang penasaran dengan masalah pecah pembuluh darah ini.
Sebab, siapa saja bisa mengalaminya jika kondisi tubuh tidak baik-baik saja.
Dikutip dari laman Dinas Kominfo Jawa Timur, Dr dr Andrianto SpJP(K) FIHA FAsCC yang merupakan Dosen Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) mengatakan , ada beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan pembuluh darah di kepala pecah.
Pertama, tekanan darah tinggi atau yang sering disebut hipertensi.
Kedua, karena kelainan pada dinding pembuluh darah.
“Penyebab tersering pembuluh darah pecah di kepala itu hipertensi, karena beban tekanan dalam pembuluh darah melebihi kemampuannya. Tekanan yang berlebih itu akan menyebabkan pembuluh darah pecah,” katanya.
Ia menjelaskan, tekanan darah yang semakin dinggi akan memicu penebalan pada otot dinding pembuluh darah.
Dalam jangka waktu yang panjang, penebalan diikuti pelebaran dinding pembuluh darah.
Akibatnya pembuluh darah menjadi menipis dan berkurang kekuatannya dalam menahan tekanan darah.
Hal ini yang menyebabkan pembuluh darah pecah.
Sedangkan jika seseorang mengalami kelainan pada dinding pembuluh darah, maka akan terjadi penipisan dan menggelembung yang dikenal dengan aneurisma.
“Dibandingkan dengan dinding pembuluh darah lain, pembuluh darah di kepala ini menjadi lebih tipis. Ketika ada peningkatan tekanan meskipun tidak terlalu tinggi bisa menyebabkan pecah pembuluh darah,” terangnya.
Jika pembuluh darah yang ada di kepala pecah maka aliran darah yang mengandung oksigen dan nutisi bagi otak akan terganggu dan terbentuk gumpalan darah di luar pembuluh darah yang mendesak jaringan otak.
Penanganan pembuluh darah yang pecah di kepala ternyata tidak selalu berakhir di atas meja operasi.
Penanganan setiap orang berbeda tergantung dengan volume darah yang keluar.
Diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa CT-Scan dan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mengetahui jumlah pasti volume darah yang keluar.
Ketika volume darah yang keluar dalam jumlah besar maka darah yang keluar akan berkumpul di luar pembuluh darah dan hal ini berdampak pada proses desak ruang jaringan otak.
“Otak dilindungi oleh tulang tengkorak jadi jika ada massa dalam otak karena gumpalan darah maka tekanan dalam rongga kepala meningkat dan berpengaruh pada proses desak ruang. Jika tekanan besar maka harus dilakukan operasi,” ungkapnya.
Sementara itu jika volume darah yang keluar akibat pecah pembuluh darah di kepala sedikit maka akan dilakukan observasi terlebih dahulu. “Pemantauan harus dilakukan misal di awal volume darah yang keluar sedikit lalu meningkat bisa jadi lebih banyak. Tadinya di awal tidak ada indikasi tindakan bedah akhirnya bisa ada indikasi untuk dilakukan pembedahan. Jika jumlah volume darah yang keluar tetap sedikit sebenarnya dapat terjadi penyerapan kembali oleh sistem otak.
Penanganan Pembuluh Darah Pecah di Otak
Dikutip dari Alodokter, pasien dengan pembuluh darah pecah di otak perlu segera mendapat penanganan dari dokter.
Hal ini karena pecahnya pembuluh darah di otak tidak hanya dapat merusak otak, tetapi juga membahayakan nyawa.
Untuk memastikan dan memberikan penanganan pembuluh darah pecah di otak, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah, MRI, CT scan, maupun angiografi.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter akan memberikan beberapa penanganan untuk mengatasi pembuluh darah pecah di otak.
Berikut ini adalah beberapa penanganan yang diberikan oleh dokter:
Obat-obatan
Dokter akan memberikan obat untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi yang lebih serius akibat pembuluh darah pecah di otak. Jenis obat-obatan yang diberikan dapat berupa:
- Obat antihipertensi, berfungsi untuk menurunkan tekanan darah. Jenis obat antihipertensi yang bisa diberikan adalah antagonis kalsium, ACE inhibitor, ARB (angiotensin II receptor blockers), dan diuretik.
- Obat antinyeri, seperti paracetamol dan ibuprofen, bisa menjadi pilihan antinyeri awal untuk meredakan keluhan sakit kepala yang dialami penderita pembuluh darah pecah di otak.
- Obat antikejang, untuk meredakan kejang akibat pembuluh darah yang pecah. Obat antikejang yang diberikan bisa berupa carbamazepine, valproat, levetiracetam, dan phenytoin.
Operasi pemasangan shunt
Pembuluh darah pecah di otak bisa menyebabkan perdarahan pada otak. Ketika terjadi, kondisi ini dapat memicu penumpukan cairan yang bisa meningkatkan tekanan di otak, bahkan menyebabkan kerusakan di jaringan otak yang dikenal dengan hidrosefalus.
Nah, salah satu cara untuk menangani hidrosefalus adalah dengan memasang selang khusus (shunt) di dalam kepala. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan dan mengalirkan cairan otak ke rongga perut agar mudah terserap ke dalam aliran darah.
Kraniotomi
Selain dengan pemasangan shunt, perdarahan dan pembengkakan pada otak akibat pembuluh darah pecah juga bisa diatasi dengan melakukan operasi kraniotomi.
Melalui operasi ini, dokter akan membuat sayatan di kulit kepala pasien dan melubangi tengkorak dengan alat bor khusus untuk memperbaiki atau mengangkat pembuluh darah otak yang pecah.
Pembuluh darah pecah di otak bisa dicegah jika Anda mengetahui faktor risiko apa yang dimiliki dan melakukan pengobatan sejak dini. Untuk mencegah terjadinya kondisi medis atau penyakit yang bisa memicu pembuluh darah pecah di otak, disarankan untuk menghentikan kebiasaan buruk, seperti berhenti merokok atau mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
Selain itu, menerapkan pola hidup sehat juga penting dilakukan, yaitu dengan konsumsi makanan bergizi seimbang dan olahraga secara rutin setidaknya 30 menit setiap hari.
Bagi Anda yang menderita penyakit jantung atau tekanan darah tinggi, mengobati keduanya akan memperkecil risiko terjadinya pembuluh darah pecah di otak. Bagi penderita diabetes, menjaga kadar gula darah normal juga bisa mengurangi risiko terjadinya kondisi ini.
Pembuluh darah pecah di otak adalah kondisi kegawatdaruratan medis yang perlu segera mendapat penanganan di rumah sakit. Oleh karena itu, jika Anda mencurigai adanya gejala pembuluh darah pecah di otak, segera periksakan diri ke dokter untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan yang sesuai.(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ilustrasi-pecah-pembuluh-darah.jpg)