Ramadan 2025

Mengenal Makna Megengan Sebagai Tradisi Menjelang Puasa Ramadan

Tujuan dari megengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.

Penulis: Rizky Aisyah | Editor: Randy
Internet
Ilustrasi Puasa Ramadan 

TRIBUN-MEDAN.com – Hari besar keagamaan di Indonesia memiliki banyak unsur budaya, salah satunya adalah bulan Ramadan.

Bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa bagi umat Muslim karena merupakan bulan yang penuh berkah.

Saat merayakan bulan Ramadan tahun 1446 Hijriah yang akan datang, setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang berbeda-beda, salah satunya adalah masyarakat Jawa yang melakukan tradisi Megengan sebelum Ramadan.

Apa yang dimaksud dengan tradisi Megengan?

Menurut berbagai sumber, kata megengan berasal dari bahasa Jawa yang berarti bertahan, dan acara ini diadakan sebagai pengingat akan datangnya bulan Ramadan.

Megengan merupakan perpaduan budaya Jawa dan Islam saat Wali Songo menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, dan bertujuan agar agama Islam dapat diterima oleh masyarakat.

Megengan pertama kali diadakan pada masa pemimpin Kerajaan Demak sekitar tahun 1.500 Masehi, yang menjadi indikasi nyata bahwa tradisi ini merupakan perpaduan budaya Jawa dan Islam.

Hingga kini, megengan masih eksis dan menjadi tradisi sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, dan dilakukan setiap menjelang bulan Ramadan. Uniknya, tidak hanya masyarakat muslim saja yang bisa mengikuti tradisi ini, namun juga masyarakat non-muslim.

Megengan juga menjadi pengingat bahwa bulan Ramadan akan segera tiba, di mana umat muslim akan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Selama berpuasa, wajib hukumnya untuk melakukan megengan atau menahan hawa nafsu.

Tradisi megengan dilakukan dengan sejumlah kegiatan. Misalnya, berdoa di masjid, membuat kue khas megengan, mengirim ateret (makanan), pisang, tumpeng, urap-urap, dan ayam yingkung. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan ciri khas megengan menjelang Ramadan.

Kapan Megengan dirayakan?

Tradisi Megengan berlangsung sebelum bulan Ramadan, tepatnya pada hari terakhir bulan Syaban. Megengan berlangsung sebelum puasa wajib Ramadan. Sebelum megengan, orang-orang mengunjungi makam, berdoa, dan menaburkan bunga yang dikenal dengan sebutan nikar.

Tradisi megengan dilakukan di masjid, langgar, langgar, atau bahkan dari rumah ke rumah. Masyarakat membawa makanan ke masjid dan berkumpul di satu tempat.

Megengan dimulai dengan pembacaan doa dan tahlil setelah salat Isya. Setelah pembacaan doa dan tahlil selesai, acara dilanjutkan dengan pembagian makanan kepada semua orang yang hadir.

Makna Megengan

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved