Catatan Sepak Bola
ASEAN Cup, Benarkah Sekadar “Piala Chiki”?
Dalam rangkaian kalimat di atas, Oxford Mail memandang Marselino dan Oxford sebagai bentuk sebab-akibat yang janggal.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com- Pada berita yang dilansir Senin, 2 Desember 2024, media Inggris Oxford Mail secara khusus menyoroti pemain Tim Nasional Indonesia, Marselino Ferdinan.
Mereka menulis begini: ‘Marselino (Ferdinan) joined (Oxford) United on a free transfer in August 2024, but has yet to make his club debut. He has become a substitute who has not been used in the last four of the five games.
However, he missed the draw against Millwall (1-1) due to a minor hamstring injury. On the other hand, despite mentioning Marselino was injured, Oxford United still released the player to return to Indonesia.
Ferdinan is now departing to join the Indonesian team, which will start their ASEAN Championship campaign.’
Perhatikan runutannya: direkrut -> belum debut -> cedera -> (tetap) dilepas ke tim nasional (padahal masih dalam kondisi cedera).
Dalam rangkaian kalimat di atas, Oxford Mail memandang Marselino dan Oxford sebagai bentuk sebab-akibat yang janggal.
Kenapa Oxford United tetap melepas Marselino meski dia sedang cedera? Bandingkan, misalnya, dengan sikap Twente yang menahan Mees Hilgers, memintanya tetap berada di klub untuk melakukan pemulihan kondisi fisik.
Padahal Hilgers dipanggil untuk tugas negara di pertandingan berlabel FIFA Matchday, kualifikasi ronde tiga Piala Dunia 2026.
Sementara Marselino terbang jauh-jauh dari Inggris untuk ASEAN Championship Mitsubishi Electric Cup, turnamen yang dulunya bernama AFF Cup, yang notabene hanya berstatus ‘Category A Ranking’.
Dengan kata lain, diakui FIFA sebagai “turnamen kecil” di luar kalender. Sejumlah orang iseng berselera humor tinggi di Indonesia kemudian mengolok-olok ASEAN Cup ini sebagai “Piala Chiki”, panganan anak-anak populer berbentuk bola-bola dan stik bersalut coklat atau keju. Enak, renyah, tapi mungkin kurang bergizi.
Di dunia sepak bola, banyak turnamen yang bisa diidentikkan dengan olok-olok ini.
Sebutlah, misalnya, EFL Cup alias Carabao Cup di Inggris. Para pundit di sana, yang terbawa-bawa kelakar suporter, kemudian ramai-ramai menyebutnya sebagai “Mickey Mouse Cup”.
Lagi-lagi dikaitpautkan dengan anak-anak. Mickey Mouse, karakter tikus lucu ciptaan Disney.
Satu di antara tolok-ukurnya adalah hadiah. Pemenang Carabao Cup, setelah melalui tujuh babak (klub-klub EPL memulainya dari ronde dua dan tiga), hanya membawa pulang uang sebesar 100 ribu pounsterling atau kurang lebih Rp 2 miliar.
Jumlah yang bahkan dua kali lipat lebih kecil dari gaji satu pekan Anthony, pemain Manchester United yang hanya bisa “mutar-mutar” itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pemain-Timnas-Indonesia-merayakan-gol-yang-dicetak-Marselino.jpg)