Catatan Sepak Bola

Piala Dunia “Stecu Stecu”

Tolok ukur popularitas lagu ini tentu saja jumlah tontonan. Di YouTube, “Stecu” sudah ditonton 7,5 juta kali.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUNNEWS/PSSI/HO
LOLOS PIALA DUNIA - Pesepak bola Timnas U-17 Indonesia Zahaby Gholy selebrasi saat melawan Timnas U-17 Yaman pada pertandingan kedua Grup C Piala Asia U-17 di Stadion Prince Abdullah Al-Faisal, Jeddah, Senin (7/4/2025) malam WIB. Timnas U-17 Indonesia berhasil menggulung Yaman dengan skor 4-1 sehingga lolos ke Piala Dunia U-17 2025. 

Sebutlah misalnya Evandra Florasta dan Fadly Alberto Hengga bersama Dewa United, I Putu Panji Apriawan di Bali United dan Nazriel Alfaro Syahdan di Persib Bandung.

Ada pun Mathew Baker, yang masih berusia 15, merumput untuk Melbourne City U-21 di Liga Australia.

Kedua, dan mungkin yang lebih krusial, mereka datang dari Generasi Z. Generasi yang lahir dan tumbuh dalam “asuhan” teknologi-teknologi yang terus terbarukan dalam selang-selang  waktu serba singkat.

Mereka generasi yang berakrab-akrab dengan segenap kecanggihan gadget. Mereka tidak bisa lepas dari gadget.

Tidak bisa lepas dari media sosial, dan update status untuk eksistensi diri merupakan semacam “jalan ninja”.

Pertanyaannya, bagaimana bisa para pesepak bola Gen Z yang belum sampai di level profesional ini berubah sedemikian “revolusioner”?

Bagaimana bisa kemenangan atas negara dengan nama terhormat di kancah sepak bola yang diikuti peristiwa sebesar lolos ke Piala Dunia tetap ditanggapi dengan sikap “stecu”?

Jawabannya jelas: Nova Arianto! Sebagai pelatih kepala, terhadap pemain-pemainnya Nova menerapkan aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar.

Termasuk perihal gadget dan perilaku bermedia sosial.

Terkesan sepele, tapi dalam hal ini Nova justru terbilang sangat keras, cenderung kejam. Sepanjang masih mengikuti kompetisi ia melarang para pemain berinteraksi di media sosial dalam bentuk rupa apa pun dengan siapa pun tanpa kecuali.

Pada jam-jam tertentu pemain diperbolehkan mengontak keluarga mereka lewat telepon atau video call, untuk saling berkabar, melepas kangen. Setelahnya, ponsel akan dikumpulkan kembali dan disimpan, oleh Nova.

Terkecuali atas izinnya, tidak ada siapa pun yang mendapatkan previlage untuk memegang ponsel.

Nova tidak ingin konsentrasi mereka terganggu. Semua harus 100 persen fokus pada sepak bola, pada tujuan, pada target. Tidak boleh kurang.

Sekiranya tetap ada yang nekat melanggar, Nova tak segan-segan menjatuhkan hukuman. Paling ringan denda Rp 500 ribu. Terberat, pencoretan dari tim.

“Sejauh ini belum pernah ada yang kena hukum. Nggak ada yang berani (melanggar),” kata Evandra Florasta seraya tersenyum kecut. Evandra, usai sesi latihan sebelum laga kontra Yaman, menjawab wartawan yang menanyakan perihal “kurangnya ekspresi” para pemain, “kurang heboh”, tidak sebagaimana umumnya pemain muda yang serba bergaya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved