Delegasi Sumut Sambangi Tiongkok
Beijing dan Dongsi: Simbol Pluralisme Agama di Negeri Tirai Bambu
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Tiongkok, khususnya Beijing, menyimpan kisah pluralisme dan toleransi yang menarik untuk ditelaah
Oleh: Dr Abrar M Dawud Faza SFil MA
Wakil Rektor II UIN Sumatera Utara
KETIKA mendengar nama Republik Rakyat Tiongkok, banyak orang langsung mengaitkannya dengan ideologi komunis yang identik dengan penolakan terhadap agama.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Tiongkok, khususnya Beijing, menyimpan kisah pluralisme dan toleransi yang menarik untuk ditelaah.
Beijing, ibu kota Republik Rakyat Tiongkok, merupakan salah satu kota tertua dan terpenting di Asia Timur yang memadukan kekayaan sejarah dengan kemajuan modern.
Sejak masa Dinasti Liao pada abad ke-10, Beijing telah menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, dan kebudayaan di Tiongkok. Kota ini kemudian berlanjut menjadi ibu kota pada masa Dinasti Yuan, Ming, dan Qing.
Kejayaan masa lampau masih sangat terasa melalui berbagai bangunan bersejarah yang menjadi ikon kota, seperti Kota Terlarang (Forbidden City), yang dulunya merupakan istana kekaisaran, dan Kuil Surga (Temple of Heaven), tempat kaisar berdoa untuk hasil panen.
Jejak-jejak peradaban ini menjadikan Beijing sebagai kota yang tidak hanya penuh makna historis, tetapi juga menjadi jendela untuk memahami perjalanan panjang bangsa Tiongkok.
Di balik sejarah panjangnya, Beijing juga tampil sebagai kota metropolitan modern yang mencerminkan wajah kemajuan Tiongkok hari ini. Jalan-jalan di ibu kota ini tertata rapi, bersih, dan dikelola dengan manajemen kota yang efisien.
Gedung-gedung pencakar langit berdiri berdampingan dengan taman kota yang asri, menciptakan kombinasi harmonis antara arsitektur masa lalu dan masa kini.
Pusat-pusat perbelanjaan yang ramai, fasilitas transportasi publik yang canggih seperti kereta bawah tanah dan jaringan bus modern, serta kawasan seni dan kuliner menjadikan Beijing sebagai kota yang hidup dan dinamis.
Keramaian Beijing bukanlah kekacauan, melainkan keteraturan yang menggambarkan kedisiplinan sosial dan kecanggihan tata kelola kota. Keindahan dan kerapian ini memperlihatkan bahwa Beijing bukan hanya simbol kekuasaan politik, tetapi juga representasi nyata dari kemajuan peradaban urban di abad ke-21.
Di tengah gemerlapnya modernitas Beijing, terdapat sebuah kawasan bernama Niujie yang menjadi pusat komunitas Muslim Hui. Di sinilah berdiri Masjid Dongsi, masjid tertua dan terbesar di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi pada masa Dinasti Liao.
Masjid ini merupakan simbol akulturasi budaya, dengan arsitektur yang memadukan gaya Tiongkok tradisional dan elemen Islam. Bangunan masjid ini mencerminkan harmoni antara dua budaya yang berbeda namun saling melengkapi.
Masjid Dongsi tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan pelestarian budaya Islam di Tiongkok. Masjid ini menyimpan berbagai manuskrip kuno, termasuk Alquran berusia lebih dari 700 tahun dan karya-karya puisi dari Jalaluddin Rumi.
Keberadaan artefak-artefak ini menunjukkan betapa dalamnya akar Islam di Tiongkok dan kontribusinya terhadap peradaban Tiongkok secara keseluruhan.
Yang menarik, meskipun Tiongkok dikenal sebagai negara dengan pemerintahan komunis, pemerintah setempat memberikan dukungan finansial kepada masjid ini.
| Penggunaan Kendaraan Listrik dalam Perspektif Kesehatan dan Lingkungan di Tiongkok |
|
|---|
| Muslimah Tiongkok Menginspirasi, Padukan Nilai-nilai Islam dengan Budaya Lokal |
|
|---|
| Suara Senyap Islam di Xinjiang |
|
|---|
| Muslim Tiongkok Cinta Kepada Negara Atas Dasar Agama |
|
|---|
| Mobil, Museum, dan Mimpi Peradaban: Jejak Tiongkok Membangun Teknologi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Masjid-Niujie-Beijing.jpg)