Catatan Sepak Bola
Pelajaran Sangat Berharga dari Jepang
Kekalahan di Panasonic Stadium Suita, Osaka, Jepang, Selasa (10/6/2025), memang terasa menyesakkan.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com- Sebagian suporter Indonesia –untuk tidak menyebutnya sebagian besar– “misuh-misuh”, mendongkol, ngedumel, ada juga yang marah-marah, sebagai reaksi atas kekalahan Tim Nasional Indonesia atas Jepang, pada laga terakhir (matchday 10) babak kualifikasi putaran tiga Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Kekalahan di Panasonic Stadium Suita, Osaka, Jepang, Selasa (10/6/2025), memang terasa menyesakkan.
Betapa tidak, enam gol bersarang di gawang Indonesia yang dikawal Emil Audero Mulyadi. Kiper berpengalaman Serie A Italia itu “jadi bahan mainan”.
Pun bek Serie A, Jay Idzes, serta bek mahal dari Eredivisie, kompetisi kasta tertinggi Belanda, Mees Hilgers. Pemain-pemain Jepang, dengan sungguh leluasa dan enteng belaka, melakukan “kucing-kucingan” di area kotak penalti Indonesia.
Beberapa di antara yang “misuh-misuh” tersebut kemudian melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaan di negeri terkasih ini.
Dengan letup emosi tinggi, meneriakkan kata ‘ganti’. Iya, ganti pemain; semua pemain tidak pantas memakai seragam tim nasional. Ganti jajaran pelatih terutama Patrick Kluivert. Ganti Erick Thohir!
Astaga! Tidak bisakah sesekali memandang dengan lebih dulu menarik napas tenang? Tidak bisakah sekali saja memandang dengan kaca mata objektif?
Kekalahan enam gol tanpa balas, memang, tidak boleh dimungkiri sebagai kekalahan menyakitkan.
Bohong besar kalau ada yang bilang tidak kesal, tidak kecewa, tidak sakit.
Hanya saja, cara memandang kekalahan ini, hendaknya, jangan dilakukan dengan grasak-grusuk.
Main hantam kromo. Maki sana maki sini, ganti sana ganti sini. Seolah dengan memaki, dengan menyerukan pergantian, persoalan selesai.
Kekalahan atas Jepang, toh, tidak mengubah apa-apa. Ini yang pertama. Kalah enam kosong atau delapan kosong, atau sekiranya pun selusin gol menggelontor gawang Emil Mulyadi, tidak membawa pengaruh apa-apa.
Indonesia tetap bercokol di peringkat empat klasemen Grup C dan lolos ke putaran empat kualifikasi Piala Dunia yang direncanakan digelar 8-14 Oktober 2025. FIFA akan melakukan pengundian grup pada 17 Juli 2025.
Jadi kenapa harus ribut-ribut? Kenapa harus panas, harus menyindir sana sini, mengejek pemberian jam tangan Rolex dari Presiden Prabowo.
Sikapi kekalahan dengan sikap lebih objektif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/teks-foto-LEWATI-Pemain-Tim-Nasional-Indonesia.jpg)