Oknum Jaksa Diduga Bikin Resah, Sejumlah OPD di Binjai Dikutip Uang
Pengutipan uang tersebut diduga dikoordinir oleh Kepala Badan Pengelolaan, Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kota Binjai, Erwin Toga Purba.
Penulis: Muhammad Anil Rasyid | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Binjai resah. Pasalnya sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dikutipi sejumlah uang dengan nilai yang bervariasi.
Pengutipan uang tersebut diduga dikoordinir oleh Kepala Badan Pengelolaan, Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kota Binjai, Erwin Toga Purba.
Oknum pejabat yang diduga sebagai ‘ketua kelas" itu meminta kepada pucuk pimpinan OPD yang menerima dana insentif fiskal tahun anggaran 2024.
Informasi yang dihimpun wartawan pada, Kamis (31/7/2025), dalih pengutipan itu diduga untuk oknum penyelidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Langkat, untuk berangkat ke Gedung Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Tentu hal ini membuat kasak-kusuk sebagian pejabat yang menerima dana insentif fiskal.
Baca juga: Kejari Deli Serdang Pastikan Temuan Pansus PAD DPRD Tetap Ditindaklanjuti Meski Kajari Berganti
Terlebih lagi, Kejaksaan Negeri Binjai saat ini tengah menyelidiki dugaan korupsi dalam realisasi dana insentif fiskal yang sejatinya untuk pengentasan kemiskinan namun dialihkan untuk bayar utang proyek senilai Rp 20,8 miliar tahun anggaran 2024.
Ketika dikonfirmasi belum lama ini, Kepala Seksi Intelijen Kejari Binjai, Noprianto Sihombing kaget mendengar kabar tersebut. "Waduh, apalagi ini. Aku tidak tau, aku selidiki dulu," ujar Noprianto.
Begitu pun, mantan Kacabjari Langkat di Pangkalan Brandan itu membantah kabar dugaan pengutipan uang yang mengalir ke jaksa untuk berangkat ke Kemenkeu. "Ini nggak benar, itu fitnah aku rasa," ujar Noprianto.
Sikap membantah juga disampaikan Kepala BPKPAD Binjai, Erwin Toga Purba. "Tidak ada dan tidak benar itu," kata Erwin.
Sementara, salah satu OPD yang diduga ogah memberikan uang disebut-sebut Dinas Kesehatan Kota Binjai. Ketika dikonfirmasi soal ini, jawaban Kadinkes, dr Sugianto seolah mengelak.
"Waduh, saya nggak tau menahu tentang hal ini," ujar dr Sugianto. Sementara, penyelidikan dana insentif fiskal yang dilakukan Kejari Binjai saat ini seperti jalan di tempat.
Sekitar tiga bulan prosesnya bergulir, penyelidik baru melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah OPD hingga sekretaris daerah dan rekanan atau swasta.
Sejauh ini, penyelidik juga belum ada turun melakukan penggeledahan. Ditambah lagi saat ini, pucuk pimpinan pada Kejari Binjai sudah berganti, dari Jufri kepada Iwan Setiawan.
Hal tersebut menimbulkan keraguan bagi terhadap pelapor yang mengadukan dugaan korupsi tersebut.
"Kekecewaan kami (Badko HMI Sumut) atas proses penyelidikan yang jalan di tempat, semakin diperparah dengan adanya informasi kami dapati tentang dugaan kedekatan Kajari baru dengan para pejabat Pemko Binjai. Apabila penyelidikan tak kunjung membuahkan hasil, maka kami akan gedor seluruh pintu, agar melakukan proses hukum terhadap Pemko Binjai dan Kejari Binjai," ujar Ketua Badko HMI Sumut, Yusril Mahendra.
| Kejari Binjai Resmi Tahan Eks Kadis Ketahanan Pangan Ralasen Ginting, Kasus Proyek Fiktif Rp 2,8 M |
|
|---|
| Terlibat Kontrak Pekerjaan Fiktif, Eks Kadis Ketapang dan Pertanian Binjai Ditetapkan Tersangka |
|
|---|
| Ronald Siagian Kasi Pidsus Kejari Aceh Gantikan Noprianto Sihombing Kasi Intel Kejari Binjai |
|
|---|
| Kejari Binjai dan Kejatisu Didesak Agar Mendalami Aliran Fee 12 Paket Proyek DBH Sawit |
|
|---|
| Kejari Binjai Hentikan Kasus Dana Insentif Fiskal Rp 20,8 Miliar, KPK Didesak Lakukan Supervisi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Suasana-Kantor-Pemerintah-Kota-Binjai_ratusan-Motor-dinas-tunggak-pajak_.jpg)