Berita Medan

Ruang Baru Perempuan Talang Babungo di Rumah Pintar Astra

Di sebuah rumah sederhana, Risa Ramadani sudah selesai menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
ISTIMEWA
KAMPUNG BERSERI ASTRA- Ibu-ibu Kampung Berseri Astra (KBA) Jorong Tabek, Desa Talang Babungo, Solok, memasak nira aren menjadi gula semut. Aktivitas ini menjadi salah satu kegiatan unggulan di Rumah Pintar Astra. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Pagi hari di Jorong Tabek, Desa Talang Babungo, Solok, riuh suara ayam berkokok bersahutan.

Udara pegunungan yang sejuk menyelimuti desa yang dikelilingi hutan ini.

Di sebuah rumah sederhana, Risa Ramadani sudah selesai menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

Namun, rutinitasnya tak berhenti di dapur. Setelah beres dengan urusan rumah, ia melangkah menuju sebuah bangunan kayu berukuran 4x20 meter di tengah kampung.

Bangunan itu bukan sembarang rumah. Namanya Rumah Pintar Astra, pusat kegiatan ibu-ibu Kampung Berseri Astra (KBA) Jorong Tabek.

Di sanalah, perempuan desa yang dulu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah kini menemukan ruang baru: belajar, berkarya, sekaligus memberi manfaat bagi kampungnya.

“Awalnya saya hanya ibu rumah tangga biasa saja, pemalu dan tidak banyak kegiatan. Tapi sejak bergabung di KBA, saya merasa hidup lebih bermanfaat. Teman semakin banyak, dan kami bisa sama-sama mengembangkan desa,” kata Risa, yang kini dipercaya sebagai Bendahara KBA.

Risa mulai aktif di KBA sejak 2018. Ia mengaku bergabung bukan karena mengejar penghasilan, melainkan karena ingin beraktivitas sosial.

“Di sini tidak ada gaji rutin, kecuali ada aktivitas wisatawan mengambil paket tertentu. Tapi kami punya kehidupan baru dengan kegiatan yang bermanfaat,” tuturnya.

Bersama puluhan ibu rumah tangga lain, Risa ikut dalam berbagai kegiatan, mulai dari membuat gula semut, mengelola bank sampah, hingga menjaga kolam ikan KBA.

Setiap kelompok memiliki tanggung jawab di zona masing-masing, terutama soal kebersihan dan pengelolaan lingkungan.

Dari sekian banyak kegiatan, membuat gula semut adalah yang paling ia sukai. Prosesnya panjang: nira aren yang disadap dari pohon enau dimasak hingga kental, lalu dikeringkan sampai berbentuk butiran halus seperti pasir cokelat. 

“Butuh waktu dua hari sampai jadi gula semut. Memang melelahkan, tapi hasilnya bikin puas,” ujarnya.

Tak hanya gula semut, bank sampah juga menjadi titik balik. Dulu, sampah rumah tangga di desa ini hanya dibuang begitu saja. Kini, ibu-ibu diajarkan memilah, menabung, dan mendapat catatan saldo dari sampah yang dikumpulkan.

“Dulu sampah tidak ada harganya. Sekarang dengan bank sampah, semuanya lebih teratur. Tidak mudah memang, tapi sudah jauh lebih baik,” ujar Risa.

Inovasi itu berjalan beriringan dengan kegiatan lain. Limbah organik dari dapur tak lagi terbuang, melainkan diolah jadi pakan maggot. Maggot kemudian dipakai sebagai pakan ikan di kolam KBA. Siklus ini membuat ekonomi berputar tanpa banyak meninggalkan sisa.

Dari kolam ikan itu, rata-rata Rp5 juta per bulan bisa dihasilkan. Sebagian dipakai untuk menambah kas, sebagian lain digunakan membantu warga yang membutuhkan, misalnya biaya kesehatan atau sekolah.

Jadi Pusat Laboratorium Ekonomi Sirkular Talang Babungo

Perubahan ini tidak lepas dari peran besar perempuan. Menurut Kasri Satra, Ketua KBA Jorong Tabek, 90 persen pegiat KBA adalah ibu-ibu. Ia ingat betul bagaimana dulu sulit mengajak mereka keluar rumah.

“Awalnya sulit. Ibu-ibu ragu karena tidak terbiasa. Tapi lama kelamaan rasa cinta terhadap desa tumbuh. Sekarang, mereka yang paling aktif menjaga kegiatan,” kata Kasri.

Kasri juga menambahkan, kehadiran Astra menjadi titik balik setelah desa ini dilanda kebakaran besar.

Dari situlah kemudian lahir berbagai program, mulai dari pelestarian hutan, beasiswa untuk anak-anak, hingga Rumah Pintar Astra sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Kini, hasilnya mulai terasa. Lingkungan desa lebih terjaga, hutan tidak lagi mudah ditebangi, dan anak-anak mendapat beasiswa, bahkan ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri.

“Kalau tidak ada program ini, mungkin banyak anak yang hanya berhenti di SMA. Sekarang mereka bisa bermimpi lebih tinggi,” ujar Kasri.

Rumah Pintar Astra juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan. Desa yang dulu terpencil kini menjelma sebagai destinasi wisata budaya-edukasi. Ada 45 homestay yang dikelola warga, siap menerima tamu yang ingin merasakan kehidupan desa.

Wisatawan bisa belajar membuat gula semut, ikut dalam pengelolaan bank sampah, atau sekadar menikmati suasana hutan yang sejuk. Anak muda yang dulu malu menampilkan budaya sendiri, kini justru bangga. 

“Mereka tidak malu lagi. Kalau ada tamu, anak-anak muda senang menunjukkan tradisi desa,” kata Risa.

Produksi gula semut pun berkembang. Produksi yang awalnya hanya bernilai sekitar 50 ribu rupiah, kini meningkat hingga dua kali lipat. Dengan akses pasar yang lebih luas, produksinya bahkan bisa mencapai 1.500 kilogram per bulan.

Meski angka ekonomi memang tidak selalu melonjak drastis, manfaat yang dirasakan ibu-ibu jauh lebih dalam.

Bagi mereka, Rumah Pintar Astra bukan sekadar tempat mencari tambahan penghasilan, melainkan tempat menumbuhkan percaya diri, menambah relasi, dan ikut berperan dalam pembangunan desa.

“Sekarang setiap ibu punya peran masing-masing. Kami bisa mandiri melayani tamu dan ikut menjaga desa. Saya bangga bisa ikut menyelamatkan lingkungan dan mengembangkan kampung sendiri,” ucap Risa.

Perempuan yang dulu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, kini berdiri sejajar sebagai penggerak.

Mereka mungkin tidak bisa langsung menakar berapa persen peningkatan ekonomi, tetapi mereka bisa merasakan perubahan nyata dalam diri: lebih percaya diri, lebih bermanfaat, dan lebih dihargai.

“Bagi kami, tanpa Astra desa ini tidak akan berkembang sejauh ini. Perempuan di sini jadi punya arti baru, bukan hanya di dapur, tapi juga ikut menggerakkan desa,” pungkas Risa.

(cr26/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved