Raditya Dika dan Pentingnya Support System dalam Berkarya

Keberanian mengejar sesuatu yang kita cintai sering kali tidak lahir dari diri sendiri, melainkan dari orang

Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Raditya Dika dan Pentingnya Support System dalam Berkarya 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Keberanian mengejar sesuatu yang kita cintai sering kali tidak lahir dari diri sendiri, melainkan dari orang-orang yang jujur menjaga kita tetap waras. Gagasan tentang pentingnya support system ini menjadi salah satu bahasan dalam Dialog Generasi pada Generasi Campus Roadshow Medan di Auditorium Universitas Sumatera Utara, Rabu (19/11/2025).

 

Di atas panggung, Raditya Dika (penulis dan sutradara) duduk bersama Najwa Shihab (jurnalis dan pendiri Narasi) dan Nicholas Saputra (aktor) sebagai main icon Generasi Campus Roadshow 2025. Dipandu Timothy Marbun (moderator), sesi ini membahas apa yang sebenarnya mendorong seseorang terus bergerak meski hidup tak selalu ramah. 

 

Momentum paling riuh muncul ketika Timothy menyinggung soal support system. Radit, dengan gaya khasnya yang seolah ngobrol santai di depan teman-teman lama, ia menjawab tanpa banyak pikir. “Support system gua adalah istri gua tercinta,” celetuknya. Auditorium yang dipenuhi lebih dari 2500 mahasiswa langsung pecah oleh sorakan, tawa, dan godaan bercampur menjadi satu.

 

Di sesi Dialog Generasi, Radit melanjutkan cerita itu dengan lebih dalam. Ia menjelaskan bahwa support system bukan hanya soal pasangan, tetapi juga orang-orang yang berani memberi kritik jujur dalam proses kreatif. 

“Indikator nomor satu adalah orang-orang yang berani bilang kalau gua salah,” ujarnya. “Soalnya di industri stand up, di balik semua stand up comedy yang nggak lucu, biasanya ada teman-teman yang selalu bilang, ‘lucu tuh, lucu tuh.’ Padahal… nggak lucu.” Peserta pecah lagi, auditorium kembali dipenuhi gelak tawa mereka.

 

Radit kemudian menunjukkan contoh kritik yang sebenarnya tidak berguna. “‘Gimana naskah gua?’ ‘Jelek.’ ‘Jeleknya apa?’ ‘Nggak tau, jelek aja. Muka lu juga jelek.’” Suara tawa kembali menggema di Auditorium.

Setelahnya, ia menegaskan pentingnya kritik yang jelas dan konstruktif. “Misalnya, ‘pembukaan adegan lu kepanjangan, jadi gue bosan pas masuk bagian utamanya.’ Nah, itu baru ngebantu.”

 

Menurutnya, orang-orang seperti itu perlu dijaga. Mereka bukan cuma pemberi kritik, tetapi penunjuk arah ketika pikiran sedang buntu.

Timothy mengangguk, merangkum, “Penting banget support system, penting ada orang-orang yang mendukung di sekitar kita. Jadi, kita sebenarnya juga dibentuk oleh orang-orang terdekat kita.”

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved