Terpisah dari Jakarta, Kakak Ini Bertahan Demi Satu-Satunya Keluarga: Sang Adik
Terpisah dari Jakarta, Kakak Ini Bertahan Demi Satu-Satunya Keluarga: Sang Adik
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - (20/06/25) Di sebuah sudut jalan yang tak ramai, di antara lalu lalang orang yang sibuk dengan urusannya sendiri, terpampang wajah lelah seorang kakak berusia 30 tahun. Dengan tekad baja, Ia menjajakan donat buatannya seharga Rp20.000 per kotak, usaha kecil yang menjadi tumpuan hidupnya bersama adiknya yang masih kecil. Kisahnya baru terungkap ketika Jestham menyapa dan mendengar ceritanya, mereka adalah anak yatim piatu yang terdampar di Medan, jauh dari kampung halaman di Jakarta, tanpa keluarga yang peduli.
Perjuangan hidupnya begitu berat. Tanpa dukungan sanak saudara, Ia sering terpaksa menggadaikan barang berharganya bahkan KTP dan handphone, hanya untuk mendapatkan modal berjualan. "HP masih tergadai Rp400.000 kak, belum bisa ditebus," ujarnya dengan suara lirih. Keluarga besarnya di Jakarta tak mau menolong, seolah mengabaikan keberadaan mereka. "Aku sama adik cuma berdua di sini, enggak ada yang peduli," keluhnya.
Melihat kegigihannya, Jestham tergerak untuk membantu. Ia membeli seluruh dagangan sang kakak yang tersisa 6 kotak donat dan memberinya tambahan uang sebagai bentuk dukungan. "Ini rezeki dari Tuhan untuk Kakak hari ini," kata Jestham. Sang Kakak tertegun, matanya berkaca-kaca. "Aku enggak nyangka dapat bantuan seperti ini," ucapnya, seolah tak percaya ada cahaya di tengah kesulitannya.
Impian sederhananya hanya satu, pulang ke Jakarta bersama adiknya. Namun, ongkos menjadi penghalang besar. "Aku enggak tahu berapa biayanya, Kak. Kami benar-benar enggak punya apa-apa," ujarnya pasrah. Jestham menguatkan hatinya, mengingatkan bahwa selama ada usaha dan doa, pasti ada jalan. "Jangan putus asa. Tuhan selalu punya rencana untuk hamba-Nya yang sabar," pesannya.
Di balik raut wajahnya yang lelah, terpancar ketegaran luar biasa. Meski hidup serba kekurangan, Ia tak menyerah berjualan demi sesuap nasi dan masa depan adiknya. Jestham pun berpesan sebelum pergi, "Tetaplah semangat. Percayalah, selama kita berjuang, pasti ada pertolongan yang datang."
Kisah ini adalah bukti nyata bahwa di balik kesulitan, selalu ada ruang untuk harapan. Bantuan kecil dari Jestham bukan sekadar tentang uang, melainkan tentang mengembalikan keyakinan bahwa kebaikan masih ada di dunia ini.
Sebagai penutup, Jestham berpesan, "Jangan pernah menyerah. Di balik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Yang penting kita tetap berusaha, berdoa, dan percaya." Semoga kisah ini mengingatkan kita untuk selalu membuka mata dan hati, karena bisa jadi di sekitar kita, ada orang yang sedang berjuang sendirian dan hanya butuh sedikit uluran tangan.(*)
| Air Mata Penjual Tisu: Rezeki Terbesar dari Satu Bungkus yang Mengubah Hari |
|
|---|
| Saat Lelah Menjadi Doa, Tuhan Kirimkan Jawaban Lewat Wajah Tak Disangka |
|
|---|
| Jestham Borong : Pura-Pura Menawar, Ternyata Memberi Harapan: Aksi Jestham Bikin Hati Tersentuh |
|
|---|
| Berjuang dengan Satu Tangan, Bertahan dengan Harapan |
|
|---|
| Kerupuk untuk Masa Depan: Cinta Seorang Ayah yang Tak Pernah Minta Kembali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Perjuangan-Seorang-Kakak-Penjual-Donat-Keliling.jpg)