Air Mata Penjual Tisu: Rezeki Terbesar dari Satu Bungkus yang Mengubah Hari

Air Mata Penjual Tisu: Rezeki Terbesar dari Satu Bungkus yang Mengubah Hari

Tayang:
Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Sumber: youtube/@ownerjestham 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - (16/06/25) Dalam kesibukan kehidupan sehari-hari, terkadang kita diingatkan tentang arti perjuangan hidup melalui pertemuan tak terduga. Seperti kisah Jestham yang suatu hari bertemu dengan seorang Bapak penjual tisu di pinggir jalan. Dengan satu kaki yang tidak lagi utuh dan hanya mengandalkan tongkat, Bapak itu tetap bersemangat menawarkan tisunya kepada para pengendara. Padahal, di balik senyumnya, tersimpan kisah pilu yang membuatnya harus bertahan dalam keterbatasan.

 

Percakapan hangat pun terjadi antara Jestham dan sang Bapak. Ternyata, Bapak ini berjualan tisu untuk menghidupi keenam anaknya yang semuanya perempuan. "Masih sepi sekarang, Kak. Hari ini baru terjual empat bungkus," ujarnya dengan wajah lelah namun penuh harap. Bahkan, Ia pernah hanya menjual dua bungkus tisu setelah seharian berjualan. Perjuangannya semakin terasa berat karena Ia harus naik angkot setiap hari dari Belawan ke lokasi jualannya, meski dengan kondisi fisik yang tidak sempurna.

Air Mata Penjual Tisu:
Harapan dan Rajutan Asa

Kisah hidup Bapak ini semakin menyentuh ketika Ia bercerita tentang kecelakaan yang mengubah hidupnya. "Ini akibat tabrak lari di Belawan," katanya sambil menunjuk kakinya. Selama tiga bulan, Ia tidak bisa bekerja sama sekali. Yang lebih mengharukan, meski pelakunya kabur tanpa pernah ditemukan, Bapak ini memilih untuk ikhlas. "Sudahlah, itu urusannya dengan Yang Di Atas," ucapnya dengan ketulusan yang jarang ditemui.

 

Melihat perjuangannya, Jestham tidak bisa tinggal diam. Ia membeli satu bungkus tisu dengan harga jauh lebih tinggi sebagai bentuk dukungan. Air mata sang Bapak pun meleleh, "Ini rezeki terbesar yang pernah saya terima." Baginya, uang itu bukan sekadar nominal, melainkan tanda bahwa masih ada orang yang peduli dengan perjuangannya.

 

Bapak penjual tisu ini sejatinya adalah gambaran nyata ketangguhan seorang ayah. Dulu, Ia sempat mengemis demi bertahan hidup, tetapi Ia memilih berjualan tisu karena tidak ingin anak-anaknya tumbuh dalam rasa malu. "Daripada minta-minta, lebih baik berusaha," katanya dengan tegas. Meski penghasilannya tidak menentu, Ia tetap bersyukur dan tak pernah berhenti berdoa agar rezekinya lancar.

 

Jestham pun mengajak kita semua untuk turut membantu. "Kalau kalian melintas di Simpang Klambir, jangan ragu beli tisunya," pesannya. Setiap lembar uang yang kita berikan bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi penyemangat bagi Bapak ini untuk terus berjuang. Dalam doanya, Ia bahkan mendoakan kebaikan untuk semua orang yang membantunya, termasuk pelaku tabrak lari yang pernah menyakitinya.

 

Kisah ini mengajarkan kita tentang makna ikhlas, kerja keras, dan kekuatan doa. Di balik setiap perjuangan orang seperti Bapak penjual tisu ini, tersimpan pelajaran berharga bahwa kebahagiaan dan rezeki bisa datang dari cara yang tak terduga. Mari kita buka hati untuk membantu sesama, karena sedikit kebaikan kita bisa berarti sangat besar bagi mereka yang membutuhkan.

 

Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk lebih peka terhadap sekitar dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang kita miliki.(*)


Referensi
https://www.youtube.com/watch?v=_-UfZVtOuw8

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved