Ngopi Sore
Saya Bukan Nori, Nama Saya Nikita Willy
Kelucuan Mpok Nori adalah kelucuan yang betul-betul datang jauh dari dalam hati.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
KALIMAT yang saya tulis sebagai judul di atas, sudah sangat terkenal di panggung-panggung lawakan. Barangkali hampir setara dengan "untung ada saya" yang selalu dilontarkan Gepeng atau "hil yang mustahal" yang identik dengan Asmuni. Kalimat itu dari Nuri Sarinuri, komedian panggung asal Betawi.
Asing dengan nama ini? Tentu saja. Karena seantero Indonesia mengenalnya dengan nama lain yang lebih pendek, Mpok Nori. Meski sedikit banyak kalimat tersebut tak orisinil, terpengaruh pada kalimat pelawak Timbul: "Nama saya Heru, Heru Sutimbul", tak ayal, tiap kali Mpok Nori melontarkannya, tawa akan langsung meledak.
Mengapa orang tertawa? Karena apa yang dikemukakan oleh Mpok Nori adalah satu kontradiksi yang kocak. Nikita Willy adalah aktris sinetron dan model iklan yang deskripsi tentang dirinya mengerucut pada dua kata: imut dan cantik. Menggemaskan, apalagi ditambah senyumnya dan suaranya yang empuk. Mpok Nori, kita semua tahu, kebalikan dari semua itu.
Mpok Nori seniman Betawi. Dan sebagaimana pelawak berlatar Betawi yang mencuat sebagai pesohor nasional, ia berawal dari satu titik, panggung lenong. Masa mudanya dihabiskan di sana. Berpindah dari satu panggung ke panggung lain di berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya, keluar masuk kampung. Dibandingkan seniman-seniman Lenong Betawi lain, Mpok Nori, boleh dikata agak terlambat terkenal. Kita baru mengenalnya di saat usianya sudah beranjak senja, 60 tahunan.
Di panggung komedi nasional, Mpok Nori sesungguhnya bukan "pemain utama". Namanya tidak pernah dibicarakan secara khusus seperti halnya Warkop Prambors/DKI, Srimulat, Bagito, Patrio, atau komedian betawi macam Benyamin Sueb, Haji Bokir, Haji Bolot dan Malih Tongtong, Mandra, Opie Kumis, atau juga entertainer yang sepekan lalu meninggal dunia, Olga Syahputra.
Mpok Nori sekadar terposisikan sebagai pendukung. Ia muncul di atas panggung untuk dipermalukan oleh para pelawak utama. Bahasa anak sekarang, jadi bahan bully. Biasanya, kemunculan awalnya di panggung ditandai dengan pemanggilan nama artis penyanyi atau bintang film atau model iklan yang terkenal cantik aduhai, namun yang muncul adalah Mpok Nori.
Dan meledaklah tawa. Dan tawa kemudian akan semakin panjang berderai-derai, setelah Mpok Nori mengucapkan kalimat tadi: "Saya bukan Nori. Nama saya Nikita Willy."

Dari panggung komedi, Mpok Nori melebarkan sayap ke media lain. Dia tampil dalam program situation comedy (sitcom) di layar kaca serta membintangi sejumlah film. Tapi seperti di panggung, peran-peran yang diberikan pada Mpok Nori tetaplah peran kecil. Peran untuk dipermalukan. Peran yang jika tak ada pun sesungguhnya tidak berarti banyak bagi keseluruhan bangun sitcom atau film-film itu.
Jumat, 2 April 2015, Mpok Nori meninggal dunia di Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta, karena serangan sesak nafas. Ia memang sudah lama menderita asma. Usianya, hingga saat menghembuskan nafas penghabisan menjelang subuh, 85 tahun.
Kabar kematian Mpok Nori segera menjadi kabar yang riuh. Secara viral, kabar ini melesat-lesat dan menyebar lewat media sosial. Tanda pagar (#) RIPMpokNori bertebaran, dan menjelang siang, masuk dalam daftar 10 besar world wide trends di Twitter.

Di Facebook, beredar meme-meme yang dibubuhi ucapan bela sungkawa. Seluruh media di Indonesia, terutama sekali televisi dan online, memberitakan perkembangan kabar perihal Mpok Nori dari menit ke menit, nyaris tanpa putus.
Mengacu pada "posisi keartisan" Mpok Nori semasa hidup, reaksi dan perlakuan ini tentunya tidak sinkron. Kenapa bisa demikian? Saya kira inilah balasan atas keikhlasan Mpok Nori. Sepanjang kariernya yang membentang penuh duri dan onak, ia telah berulangkali jatuh bangun. Hidup miskin demi berkesenian. Tatkala panggung yang lebih gemerlap mempersilakannya masuk dan ternyata memberinya perlakuan yang kurang menyenangkan, Mpok Nori tetap sabar menjalankan peran-perannya dengan segenap jiwa raga.
Kelucuan Mpok Nori adalah kelucuan yang betul-betul datang jauh dari dalam hati. Dan kita tak akan pernah melihatnya lagi.
Twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/mpok-nori-3_20150403_164715.jpg)