Ngopi Sore
Mawar Umberto Eco dan Seekor Burung Kecil di Pemakaman Harper Lee
Tiap kali tokoh besar wafat, maka yang ditinggalkan bukanlah air mata, melainkan jejak yang panjang.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TIAP kali tokoh besar wafat, maka yang ditinggalkan bukanlah air mata, melainkan jejak yang panjang. Lebih dari sekadar belang pada harimau atau gading pada gajah, atau sesuatu yang didramatisir sebagai 'nama'.
Sebab tiap kali tokoh besar wafat, ia menjelma simbol yang puitis: sebuah penanda bagi zaman yang membentuk maknanya sendiri. Makna yang tidak dapat kita, yang masih hidup, setir sesuai kehendak.
Sabtu, 20 Februari 2016, dua tokoh besar wafat dalam waktu yang hampir bersamaan. Cuma berselang beberapa jam. Di Italia, Jumat malam waktu setempat, Umberto Eco, gagal meneruskan perlawanan terhadap kanker yang telah menggerogoti tubuhnya selama beberapa tahun terakhir.
Dua jam kemudian, di Alabama Amerika Serikat, Harper Lee dikabarkan juga telah mengembuskan nafas penghabisan. Kata seorang di antara cucunya, seperti dikutip oleh banyak media di Amerika Serikat, Lee meninggal dalam tidurnya yang lelap.
Saya tidak tahu persis, selain sanak keluarga, ada berapa banyak orang yang merasa sedih atas kematian kedua orang yang sudah sepuh ini. Eco meninggal dalam usia 84, sedangkan Lee 89. Mungkin memang tidak terlalu banyak. Terlebih-lebih di Indonesia, negeri yang masyarakatnya akhir-akhir ini kian malas membaca.
Jangan-jangan, kematian mereka malah dianggap tidak penting. Kalah penting dibanding keruwetan jalan pikiran anggota DPR yang dengan gagah berani mempersoalkan kaus oblong abu-abu yang dikenakan Mark Zuckerberg saat bertemu Presiden Jokowi di Silicon Valley, atau tertangkapnya pedangdut Saipul Jamil dan Hesty Klepek Klepek karena perkara urat malu.
Umberto Eco dan Harper Lee bukanlah sebangsa rockstar atau bintang film kenamaan. Mereka penulis. Tepatnya penulis novel (fiksi dan nonfiksi) dan esai dan sejumlah laporan jurnalistik.
Dari sekian banyak karya Umberto Eco, Il Nome della Rosa, akan selalu menjadi yang terdepan untuk disebut. Ditulis (dalam bahasa Italia) tahun 1980 dan diterbitkan kembali dalam edisi berbahasa Inggris pada tahun 1983, In The Name of Rose, buku ini menyingkap sejumlah mitos dan tabu di lingkungan gereja Katolik.
Novel bergerak dari satu peristiwa menggegerkan di abad 14, tatkala sejumlah rahib di satu biara ditemukan tewas setelah sebelumnya mendadak buta. Para rahib ini sebelumnya membaca satu buku terlarang yang disimpan di tempat khusus di perpustakaan biara. Buku yang mengupas perihal tawa.
Begitulah, In The Name of Rose (Atas Nama Mawar), adalah buku yang mempersoalkan tawa secara serius, sebab ada sebaris kalimat di sana, yang kemudian menghebohkan: 'apakah kristus pernah tertawa?'
Jawabannya, paling tidak menurut tokoh utama novel, William of Baskerville, adalah tidak pernah, dan karena itu, agama jadi kelewat serius. Tuhan yang antihumor, sebut tokoh lain, Jorge of Burgos, pendeta tua yang buta.
Lalu Umberto Eco menuliskan serangkaian kalimat dalam satu paragraf, yang boleh jadi merupakan satu di antara paragraf paling cemerlang dalam sejarah pergulatan intelektualitas umat manusia: "Mungkin misi mereka yang mencintai umat manusia adalah bagaimana membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa. Karena satu-satunya kebenaran itu terletak dalam upaya untuk belajar membebaskan diri kita dari kegandrungan yang berlebihan kepada kebenaran".
Harper Lee tidak seproduktif Umberto Eco. Sepanjang 55 tahun ia hanya menghasilkan dua novel: To Kill a Mockingbird yang terbit tahun 1960 dan Go Set a Watchman di tahun 2015.
Novel kedua (sekaligus terakhir) Lee, sesungguhnya merupakan bagian awal dari novel pertama. Pada Go Set a Watchman, Lee memaparkan perubahan-perubahan yang membentuk pribadi Atticus Finch, dari seorang yang kerdil, bebal, fanatik dan rasis (ia mendukung pemisahan ras kulit putih dan kulit hitam), menjadi seorang pejuang kemanusiaan.
Lee menulis To Kill a Mockingbird saat sentimen warna kulit masih menjadi isu sentral di Amerika Serikat. Ia dengan berani menentang arus. Finch, pengacara berkulit putih yang sukses dan terhormat, ditempatkannya sebagai pahlawan yang membela Tom Robinson, seorang buruh berkulit hitam di pengadilan, bahkan tanpa bayaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ecolee_20160220_154715.jpg)