Mengapa Haji Sebagai Rukun Islam Kelima?
MENGAPA HAJI SEBAGAI RUKUN ISLAM KELIMA ? , Oleh : Dr. H. Abrar M. Dawud Faza, MA *)
Namun di sisi lain, dalam kehidupan sosial, gelar “haji” sering berubah menjadi simbol status baru. Ia kadang menjadi kapital sosial, bahkan alat legitimasi politik. Paradoks inilah yang membuat makna terdalam haji perlu terus direfleksikan. Ibadah yang semestinya menghapus sekat sosial justru terkadang melahirkan stratifikasi baru di tengah masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, persoalan itu semakin kompleks karena haji juga berkaitan dengan tata kelola ekonomi dan birokrasi. Antrean panjang hingga puluhan tahun menunjukkan bahwa haji bukan lagi sekadar urusan spiritual individual, tetapi juga persoalan sosial yang melibatkan akses, keadilan, dan kemampuan ekonomi.
Lebih jauh lagi, kritik paling mendasar sesungguhnya terletak pada dampak moral pascahaji. Tidak sedikit kasus korupsi, ketidakjujuran, dan penyalahgunaan kekuasaan yang melibatkan orang-orang yang telah menunaikan ibadah ini. Tentu hal ini tidak dapat digeneralisasi, tetapi cukup menjadi cermin bahwa ritual tidak selalu berbanding lurus dengan transformasi moral.
Padahal, haji sejatinya mengandung dimensi spiritual yang sangat mendalam. Sejak keberangkatan, seorang jemaah sebenarnya sedang belajar melepaskan diri dari kehidupan duniawi. Ia meninggalkan rumah, keluarga, jabatan, dan rutinitas hidup untuk memasuki ruang spiritual yang penuh kesederhanaan.
Pemandangan jutaan manusia dalam balutan ihram sering dimaknai sebagai miniatur Padang Mahsyar. Semua hadir tanpa atribut duniawi. Tidak ada jabatan, kekayaan, atau kehormatan sosial yang dapat dibanggakan. Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Dalam perspektif ini, haji bukan hanya perjalanan menuju Makkah, tetapi juga latihan menghadapi kematian. Ia mengingatkan manusia bahwa hidup pada akhirnya akan berakhir, dan seluruh pencapaian duniawi akan ditinggalkan. Kesadaran semacam ini seharusnya melahirkan kerendahan hati dan sikap hidup yang lebih adil terhadap sesama.
Karena itu, haji sebagai penyempurna rukun Islam sesungguhnya tidak berhenti pada selesainya ritual. Penyempurnaan itu baru benar-benar bermakna ketika nilai-nilai haji hadir dalam kehidupan sosial setelah seseorang kembali ke tanah air. Haji yang mabrur bukan hanya ditandai oleh kemampuan menjalankan seluruh rukun dan kewajiban, tetapi oleh perubahan sikap dan perilaku.
Seorang yang hajinya benar-benar hidup akan lebih jujur dalam bekerja, lebih rendah hati dalam bergaul, lebih peduli terhadap penderitaan orang lain, dan lebih berhati-hati menggunakan kekuasaan maupun harta. Sebab, inti dari haji bukanlah perjalanan fisik menuju Ka‘bah semata, tetapi perjalanan batin menuju kesadaran spiritual yang lebih matang.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting tentang haji bukan lagi siapa yang telah pergi ke Makkah, melainkan siapa yang benar-benar berubah karenanya. Sebab tanpa transformasi moral, haji berisiko hanya menjadi perjalanan ritual yang megah, tetapi miskin dampak sosial.
Di situlah letak makna haji sebagai penyempurna rukun Islam. Ia tidak hanya menyempurnakan kewajiban formal seorang Muslim, tetapi seharusnya juga menyempurnakan kualitas kemanusiaannya. Karena Islam pada akhirnya bukan hanya tentang ritual, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai ketuhanan hadir dalam kehidupan nyata: kejujuran, keadilan, kesederhanaan, dan kasih sayang terhadap sesama manusia.(*)
*) Dosen UIN-SU Medan / Katib PWNU-SU
| Nenek Jumaria Diusulkan Jadi Ikon Haji, Kisahnya 20 Tahun Nabung di Ember Demi ke Tanah Suci Disorot |
|
|---|
| Sambut Festival Budaya Islam, Rico Waas Harap Belawan Jadi Lebih Guyub dan Positif |
|
|---|
| Menabung sejak Usia 8 Tahun, Mahasiswi asal Deli Serdang Berangkat Haji bersama Keluarga |
|
|---|
| Pendidikan Antikorupsi Berbasis Keagamaan, Jadi Fondasi Bangun Budaya Jujur dan Bertanggung Jawab |
|
|---|
| Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Pemerintah dan Muhammadiyah Berbarengan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Mengapa-Haji-Sebagai-Rukun-Islam-Kelima.jpg)