Ngopi Sore
Jakarta-Bandung, Piala Presiden, dan Suporter Bola yang Kerdil
Latar belakang filosofi dan ideologi macam apa yang membentang di antara Persija dan Persib, sehingga membuat mereka bermusuhan sedemikian sengit.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
BEGITU banyak cerita yang telah menjadi legendaris dari dunia sepakbola. Baik itu cerita dari dalam lapangan, dari luar lapangan, maupun dari tribun penonton. Yang terakhir, sungguhlah tidak kalah menariknya untuk dibahas.
Sepakbola hampir pasti tak akan menjelma olahraga paling populer di kolong langit apabila tidak ada penonton yang berjubel di tepi lapangan. Keduanya saling bersimbiosis. Saling membutuhkan dan menguatkan. Suporter membuat sepakbola sampai pada titik pencapaian tertinggi.
Di lain sisi, sepakbola membentuk suporter-suporter loyal dan fanatik, yang pada tingkatan tertentu bahkan rela memberikan hidupnya. Suporter-suporter garis keras yang memandang kesebelasan lain sebagai musuh yang harus ditumpas, dalam arti sebenarnya.
Sepakbola mengajarkan tentang kesetiaan, kejujuran, saling menghargai. Pelajaran-pelajaran tentang bagaimana membentuk jiwa besar dan hati yang lapang. Sepakbola menerabas sekat- sekat etnis, budaya, agama, dan lain sebagainya.
Tapi memang, sepakbola juga melahirkan cerita-cerita permusuhan abadi. Permusuhan- permusuhan yang barangkali tak akan berkesudahan sampai akhir zaman.
Real Madrid vs Barcelona, Everton vs Liverpool, Tottenham Hotspur vs Arsenal, Lazio vs AS Roma, AC Milan vs Inter Milan, Glasgow Celtic vs Glasgow Rangers, Galatasaray vs Fenerbahce, River Plate vs Boca Juniors.
Dan pergilah ke Semenanjung Balkan, maka Anda akan menemukan dua pertandingan yang tiap kali dipanggungkan selalu menciptakan suasana nyaris setara horor: Red Star Beograd vs Dinamo Zagreb dan Hajduk Split vs Partizan Belgrade.
Serbia kontra Kroasia, dua negara pecahan Yugoslavia yang pernah terlibat dalam konflik panjang berlatarbelakang etnis dan agama. Dan lapangan sepakbola pun berubah jadi medan peperangan para ultras, kelompok super fanatik. Bukan hanya spanduk, poster, yel-yel ejekan dan nyanyian, mereka juga membawa flair, bom asal, bahkan alat-alat untuk membunuh semacam tombak, panah, belati, dan senjata api, yang entah bagaimana bisa diselundupkan ke dalam stadion.
Di Indonesia, cerita seperti juga ada. Ada PSMS vs Persib, ada Persija vs Persib, ada pula Persebaya vs Arema Malang. PSMS melawan Persib tercatat sebagai "El Clasico". Kedua kesebelasan berkali-kali bertemu dalam partai-partai yang serba sengit dan saling mengalahkan. Laga PSMS vs Persib di final kompetisi perserikatan tahun 1987 tercatat sebagai monumen dalam sejarah sepakbola nasional. Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno) dipenuhi tak kurang 120 ribu penonton. Jumlah yang hanya bisa dikalahkan oleh rekor penonton di final Piala Dunia 1950 di Maracana, Brasil, yakni 173.850.
Namun PSMS vs Persib hanya panas di dalam lapangan. Di luar lapangan, di luar stadion, jika pun ada pergesekan antar suporter, tidak pernah sampai pecah jadi kerusuhan massal. Berbeda dibanding laga Persija vs Persib dan Persebaya vs Arema. Sedikit banyak, tensi yang tercipta dari kedua laga ini mirip dengan atmosfer perselisihan di Balkan.
Akan tetapi, tentu saja, perlu digarisbawahi satu fakta yang membuat permusuhan abadi antara suporter keempat klub ini jadi terasa konyol apabila dihadapkan bermuka-muka dengan loyalitas dan fanatisme suporter Red Star, Dinamo, Hajduk Split, dan Partizan.
Loyalitas dan fanatisme keempat klub Balkan ini membentang karena perbedaan filosofi dan ideologi. Dendam sejarah antar bangsa. Di Maksimir Stadium, Zagreb, 13 Mei 1990, pertandingan tuan rumah Dinamo dengan Red Star Beograd berkesudahan rusuh. Bad Blue Boys, ultras Dinamo bentrok dengan Delije, ultras Red Star. Bangku-bangku stadion bercopotan, pagar pembatas runtuh. Sebagian di antara mereka, meneruskan duel-duel di tengah lapangan. Pertandingan sendiri terhenti.
Polisi anti huru-hara yang masuk ke lapangan berupaya membubarkan kerusuhan dengan tindakan keras. Mereka menghajar tiap-tiap peduel tadi. Termasuk dua suporter yang berkelahi di depan Zvonimir Boban, kapten Dinamo Zagreb yang saat itu juga merupakan pemain tim nasional Yugoslavia.
Seorang polisi, yang belakangan diketahui bernama Refik Ahmetovic, menghajar peduel dari Bad Blue Boys. Boban tak terima dan menyerang Ahmetovic. Ia memukul dan menerjang polisi itu. Rekan-rekan Ahmetovic hendak memburu Boban, tapi secara cepat, puluhan anggota Bad Blue Boys melindunginya.
"Saya tidak bisa melihat saudara sebangsa saya tersakiti di depan mata saya. Sekali pun dia itu perampok dan bajingan sekali pun," kata Boban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/piala-presidensss_20151018_163604.jpg)