Sonya Lalla Saragih, Energi Tak Terbatas untuk Bahasa dan Generasi Muda

“Kondisi itu membentuk saya menjadi pribadi yang toleran, mudah beradaptasi, dan menghargai perbedaan,” tuturnya.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
IST
Sonya Lalla Saragih, Terbaik I Duta Bahasa Sumatera Utara 2025, tampil anggun mengenakan selempang kehormatan saat sesi pemotretan resmi. Sosok muda berenergi yang aktif menggaungkan literasi dan pelestarian bahasa di kalangan generasi muda. 

“Menyanyi dan menggambar membantu saya menyalurkan emosi, melatih keberanian, serta mengelola perasaan,” ujarnya.

Kegiatan seni tersebut juga berperan besar dalam membangun kepercayaan diri, terutama saat tampil di depan umum.

Kecintaannya pada Bahasa Indonesia dan bahasa daerah mendorong Sonya mengikuti ajang Duta Bahasa. Ia juga tergerak oleh keprihatinan terhadap rendahnya tingkat literasi di Indonesia.

Proses seleksi yang dilaluinya tidak mudah, mulai dari tes kebahasaan, uji KBBI, presentasi krida, penampilan bakat, hingga karantina selama sepekan.

Konsistensi, persiapan matang, dan kepercayaan diri mengantarkannya meraih Terbaik I Duta Bahasa Sumatera Utara 2025 dan Harapan III Duta Bahasa Nasional 2025.

“Tantangan terberat adalah mengelola rasa gugup dan tekanan ekspektasi,” katanya.

Pengalaman paling berkesan baginya adalah bertemu finalis dari seluruh Indonesia dan bertukar gagasan tentang bahasa, budaya, serta identitas nasional.

Bagi Sonya, gelar Harapan III Duta Bahasa Nasional bukan sekadar pencapaian, tetapi tanggung jawab besar untuk menyuarakan Trigatra Bangun Bahasa, Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.

Saat ini, Sonya aktif melakukan sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, literasi kebahasaan, serta edukasi di masyarakat dan media sosial.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis sebagai contoh penggunaan bahasa yang santun, kreatif, dan adaptif di era digital, di tengah tantangan dominasi bahasa asing dan penyimpangan kaidah bahasa.

Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, Sonya bermimpi menjadi perempuan mandiri yang memberi dampak positif bagi masyarakat dan bangsa. Ia ingin terus berkiprah di bidang kebahasaan dan pendidikan, terintegrasi dengan manajemen dan pengembangan sumber daya manusia.

Untuk remaja perempuan seusianya, Sonya berpesan agar memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan diri.

“Lingkunganmu akan sangat memengaruhi masa depanmu,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kunci percaya diri dan berprestasi adalah mengenali potensi diri, terus belajar, berani keluar dari zona nyaman, dan dikelilingi orang-orang yang suportif.

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved