Banjir dan Longsor di Sumut

Warga Korban Banjir Memprihatinkan, DPRD Nilai Pemko Medan Tak Siap Hadapi Banjir

Keluhan terbesar warga datang dari lokasi yang padat pengungsi, terutama di Medan Marelan.

Tayang:
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
Tribunnews.com/PEMKO MEDAN
Sebagian warga Medan Utara masih mengungsi. Rumah masih berlumpur penuh sampah bekas banjir parah, Selasa (2/12/2025)  

Di Medan Utara, kondisi pengungsi semakin berat, tiga hari tanpa listrik, tiga hari tanpa air bersih, dan akses telekomunikasi terputus.

Banyak warga yang menghabiskan malam gelap dalam tenda lembap, tanpa kepastian kapan bantuan berikutnya tiba.

“Bayangkan sengsaranya warga. Sudah rumah terendam, makanan telat, listrik padam, internet mati. Ini bukan kondisi ringan. Karena itu Pemko seharusnya lebih siap,” tegas Muslim.

Pelayanan Kesehatan Dinilai Lemah

Selain masalah logistik, Muslim menyoroti lemahnya kesiapan layanan kesehatan pasca-banjir.

Banyak anak-anak mengalami demam, batuk, dan diare setelah berhari-hari terjebak di pengungsian.

“Jangan berpikir setelah air surut lalu masalah selesai. Justru fase pasca banjir ini sangat krusial. Harus ada pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis untuk seluruh warga terdampak,” katanya.

Ia menilai posko kesehatan belum merata, dan pelayanan masih mengandalkan puskesmas-puskesmas terdekat, yang kapasitasnya terbatas.

“Pemko harus melibatkan banyak rumah sakit di Medan. Ini status Tanggap Darurat Bencana, bukan situasi biasa. Harus ada langkah ekstra,” ujar Muslim.

Warga Masih Menunggu Perbaikan Respons

Di lapangan, pengungsi masih bertahan dengan peralatan seadanya.

Beberapa kelompok masyarakat mulai memasak mandiri menggunakan tungku darurat. 

Relawan datang silih berganti membawa air mineral, obat-obatan, hingga tikar. Namun kebutuhan tetap jauh lebih besar dari suplai.

Muslim berharap kritik ini menjadi alarm keras bagi Pemko Medan agar memperbaiki sistem penanganan bencana ke depan, mulai dari koordinasi, distribusi logistik, hingga layanan kesehatan.

"Kita tak bisa terus-terusan gagap menghadapi banjir. Medan berada di jalur cuaca ekstrem, dan perubahan iklim membuat risiko makin tinggi. Pemerintah harus lebih tanggap sebelum warga kembali menjadi korban," pungkasnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved