Berita Viral
Alasan PT KAI Gerbong Khusus Wanita Paling Belakang: Agar Mereka Lebih Cepat Turunnya
alasan di balik posisi gerbong khusus perempuan yang ditempatkan di bagian paling depan dan belakang rangkaian kereta.
TRIBUN-MEDAN.com - Penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian KRL Commuter Line kembali menuai perhatian publik.
Sorotan ini muncul usai insiden kecelakaan antara KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.
Peristiwa tersebut membuat banyak pihak kembali mempertanyakan alasan di balik posisi gerbong khusus perempuan yang ditempatkan di bagian paling depan dan belakang rangkaian kereta.
Ternyata, penjelasan soal kebijakan ini bukan hal baru. PT Kereta Api Indonesia sebelumnya sudah pernah membeberkan alasan penempatan tersebut, terutama setelah insiden benturan dua rangkaian KRL di Stasiun Juanda pada 2015 lalu.
Kala itu, Direktur Utama KAI Commuter Jabodetabek, Muhammad Nurul Fadhila, memberikan penjelasan terkait kebijakan tersebut.
Ia menyebut bahwa penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian bukan tanpa alasan, melainkan sudah melalui berbagai pertimbangan matang.
Penempatan gerbong khusus perempuan di bagian depan dan belakang rangkaian merupakan hasil pertimbangan operasional serta aksesibilitas penumpang di stasiun-stasiun Jabodetabek yang padat.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa posisi tersebut justru dirancang untuk memberikan kemudahan bagi penumpang perempuan.
Terutama bagi mereka yang membutuhkan akses lebih cepat dan aman, seperti ibu hamil, penumpang yang membawa anak, hingga lansia.
Menurutnya, lokasi di ujung rangkaian membuat mobilitas keluar-masuk gerbong menjadi lebih praktis di tengah kondisi stasiun yang sering dipadati penumpang.
Dengan kembali mencuatnya isu ini, publik pun diingatkan bahwa kebijakan tersebut telah melalui kajian operasional, bukan sekadar penempatan tanpa perhitungan.
“Kalau ditaruh di tengah mereka sulit untuk mencapainya. Bisa dibayangkan di Tanah Abang yang orangnya sangat ramai. Kalau yang sekarang kan lebih mudah,” kata Fadhila di Gedung Jakarta Railway Center, September 2015.
Ia mencontohkan, penumpang di stasiun besar seperti Kota atau Tanah Abang akan lebih cepat keluar jika berada di gerbong ujung.
“Seperti misalnya ada yang sampai di Kota di kereta paling depan, tentu mereka akan lebih cepat turunnya,” ujarnya.
Fadhila menegaskan, insiden kecelakaan KRL pada 2015 tidak mengubah kebijakan penempatan gerbong khusus perempuan tersebut.
| Nasib Sopir Taksi Hijau Diduga Biang Kerok Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo, Kini Diamankan |
|
|---|
| Guru Ngaji di Tangerang Lecehkan 4 Muridnya Selama Setahun, Modus Bersihkan Mahkluk Halus |
|
|---|
| Detik-detik KA Argo Bromo Tabrakan dengan KRL, Sang Masinis Sempat Ngobrol Soal Kecepatan |
|
|---|
| Dugaan Ajakan Pembunuhan di Grup WhatsApp PTPN IV: Ujian Integritas PalmCo |
|
|---|
| DOKTER Klinik Kampus Unri Lecehkan 30 Mahasiswi, Begini Modusnya, Korban Trauma dan Malu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kecelakaan-kereta-api.jpg)