Ramadan 2026

Masjid Lama Gang Bengkok, Jadi Simbol Harmoni Sejarah Melayu-Tionghoa di Medan

Kedekatan momentum Ramadan 1447 H/2026 dengan perayaan Imlek tahun ini menghadirkan suasana reflektif tentang harmoni budaya.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
MASJID BERSEJARAH - Suasana di Masjid Lama Gang Bengkok, Medan. Masjid bersejarah dengan akulturasi arsitektur Melayu dan Tionghoa ini kembali menjadi pusat ibadah dan aktivitas sosial masyarakat di tengah momentum Ramadan yang berdekatan dengan perayaan Imlek 2026. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Kedekatan momentum Ramadan 1447 H/2026 dengan perayaan Imlek tahun ini menghadirkan suasana reflektif tentang harmoni budaya di Kota Medan.

Salah satu simbol kuat pertemuan nilai keislaman dan budaya Tionghoa itu tercermin di Masjid Lama Gang Bengkok.

Masjid yang berdiri sejak 1874 ini bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi juga jejak sejarah kolaborasi lintas etnis yang sudah terbangun sejak ratusan tahun lalu.

Nuansa tersebut terasa semakin relevan saat Ramadan dan Imlek jatuh dalam periode waktu yang berdekatan tahun ini.

Masjid Lama Gang Bengkok dibangun di atas tanah wakaf Datuk Muhammad Ali Kesawan, sementara pembiayaan pembangunan turut didukung saudagar Tionghoa ternama, Tjong A Fie. Perpaduan sejarah ini kemudian tercermin kuat pada arsitektur bangunan.

Dominasi warna kuning dan hijau khas Melayu berpadu dengan bentuk bangunan yang menyerupai kelenteng Tionghoa. Ornamen khas Melayu seperti lebah bergantung juga menyatu dengan detail arsitektur bergaya Tionghoa, menjadikan masjid ini simbol akulturasi budaya yang hidup.

Menurut pengurus masjid, Silmi Tanjung, nilai sejarah bangunan ini sangat tinggi dan masih terjaga hingga sekarang.

“Terdapat sumur pertama di Medan di dalam masjid ini, yang berasal dari tahun 1700-an dengan diameter 2x2 meter dan kedalaman 20 meter,” ujarnya.

Sumur tua tersebut menjadi bukti awal peradaban masyarakat di kawasan Kesawan sekaligus memperkuat posisi masjid sebagai bagian penting sejarah Kota Medan.

Silmi juga menegaskan bentuk asli masjid tetap dipertahankan. “Hanya ada peremajaan fisik berupa dinding dan lantai saja, tanpa mengubah dasar dan warna khasnya,” jelasnya.

Harmoni Budaya Terasa di Momentum Ramadan dan Imlek

Kedekatan Ramadan dan Imlek tahun ini membuat Masjid Lama Gang Bengkok semakin terasa sebagai ruang pertemuan nilai toleransi. Sejarah keterlibatan tokoh Tionghoa dalam pembangunan masjid menjadi pengingat bahwa hubungan antar budaya sudah terjalin lama di Medan.

Tidak hanya secara simbolik melalui arsitektur, tetapi juga melalui fungsi sosialnya yang terbuka untuk semua kalangan.

Selama Ramadan, masjid ini konsisten menyediakan menu berbuka khas bubur sup anyang pakis. Setiap hari sekitar 100 porsi disiapkan untuk masyarakat.

“Banyak kalangan mulai dari tukang becak, ojol, karyawan swasta, hingga orang-orang yang belum sempat pulang saat berbuka,” kata Silmi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved