Ramadan 2026

Enam Tahun di Mesir, Bagus Muhajir Rindu Dibangunkan, Berbuka hingga Tarawih Satu Juz saat Ramadan

Menurut Bagus, suasana Ramadan di Mesir sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Warga menyambutnya dengan penuh kegembiraan.

Penulis: Rizky Aisyah | Editor: Ayu Prasandi
IST
Bagus Muhajir, mahasiswa asal Medan yang berkuliah di kuliah di Universitas Al-Azhar 

TRIBUN-MEDAN.com- Sudah hampir enam tahun Bagus Muhajir menetap di Mesir.

Mahasiswa asal Indonesia itu kini hanya tinggal menunggu ijazah setelah menuntaskan kuliah di Universitas Al-Azhar.

Namun, ada satu hal yang selalu membuatnya terdiam setiap Ramadan tiba: rindu pada rumah.

Menurut Bagus, suasana Ramadan di Mesir sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Warga menyambutnya dengan penuh kegembiraan.

Pawai kecil sambil bershalawat digelar menjelang bulan suci, lampu-lampu hias menggantung di jalanan, dan masjid-masjid tak pernah sepi.

“Kalau di Indonesia mungkin lebih ramai karena ada anak-anak main petasan. Tapi disini hangatnya terasa dari kebersamaan dan shalawat,” ujarnya, Kamis (26/2/2026)

Pengalaman berbuka di Masjid Al-Azhar, Kairo, menjadi cerita yang tak pernah Bagus lewatkan.

Namun untuk bisa berbuka di sana, perjuangan sudah dimulai sejak sore.

“Habis Ashar biasanya kami sudah di masjid supaya dapat tempat. Soalnya hidangan berbuka di Al-Azhar terkenal enak,” pungkasnya.

Saat malam tiba, suasana tarawih terasa berbeda. Dalam satu malam, imam membaca satu juz Al-Qur’an.

Hampir setiap rakaat satu halaman, dengan qiraat yang berbeda setiap hari. Bacaan panjang itu menggema, membuat hati terasa kecil di tengah luasnya pelataran masjid tua tersebut.

Tantangan paling berat dirasakan di tahun pertama. Ramadan datang saat musim panas. Sahur pukul 02.30 dini hari, Subuh sekitar 03.30, dan berbuka pukul 19.30 dengan suhu siang yang bisa menyentuh 40 derajat Celcius.

“Awalnya rasanya panjang sekali siangnya,” kenangnya.

Namun ada tradisi yang membuat sahur terasa istimewa. Seorang pria berkeliling membawa darbuka, menabuhnya untuk membangunkan warga. Jika diberi sedikit uang, esoknya ia akan kembali dan menyebut nama penghuni rumah satu per satu.

“Waktu dia panggil nama saya dan teman-teman, rasanya lucu tapi hangat,” ungkap Bagus.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved