Catatan Sepak Bola Akhir Tahun

Setelah 2025 yang Menyedihkan

Sejumlah orang yang didapuk sebagai “pengamat” mendapatkan panggung yang lebar dan terbuka untuk mengoceh. 

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Tribunnews.com/IRWAN RISMAWAN
BERFOTO - Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kanan) berfoto bersama Patrick Kluivert dan Denny Landzaat saat sesi perkenalan pelatih baru Tim Nasional Indonesia di Jakarta, 12 Januari 2025. 

Perbedaan terbesarnya adalah grade. Tidak ada lagi pemain grade C dan D. Pemain-pemain yang dinaturalisasi rata-rata memiliki grade B, B+, bahkan A.

Sebutlah Maarten Paes, Mees Hilgers, Emil Audero Mulyadi, Kevin Diks Bakarbessy, Calvin Verdonk, dan Jay Idzes.

Di tangan STY, tim ini sudah terbentuk, tapi belum sepenuhnya padu. Ibarat bikin kue, semua bahan premium sudah dicampur jadi adonan. Namun belum rata. Belum halus. Masih ada butiran tepung dan gula yang belum menyatu dengan telur dan margarin.

Analoginya, adonan sudah 70 persen. Tinggal 30 persen lagi menuju sempurna dan dapat dipindahkan ke dalam loyong lalu dipanggang dalam oven untuk kemudian disajikan.

Dengan kata lain, chef masih on track. Masih berada di jalur yang benar, hingga dalam situasi seperti ini, mengganti chef bukanlah pilihan yang bagus.

Alih-alih menyelesaikan adonan, chef baru justru potensial merusaknya.

Namun kita tahu, yang bikin cemas dan geram inilah yang terjadi. Rumor ternyata tidak meleset.

Pasca-kegagalan STY di Piala AFF, Erick Thohir benar melakukan penjajakan-penjajakan terhadap sejumlah figur pelatih yang diproyeksikannya untuk melatih Tim Nasional Indonesia. Erick pergi ke Eropa, khususnya ke Belanda, bertemu, berbincang, dan mewancarai mereka.

Wawancara puncak, konon, digelar Erick persis pada momentum hari Natal 25 Desember 2024, dan dari sekian kandidat, hanya satu orang yang datang, Patrick Kluivert.

Tiga pekan berselang, di Jakarta, Patrick Kluivert, diperkenalkan secara resmi sebagai pelatih baru pengganti STY.

Publik, tentu saja, terbelah lagi. Kali ini, potongan yang geram lebih besar dari yang sebelumnya.

Boleh dikata, terkait Kluivert, persentase bandingan antara yang geram dan yang senang adalah 90 persen dan 10 persen, kalau tidak lebih sedikit.

Persentase yang senang tergerus lantaran ekspektasi yang terjungkirbalikkan. Kelompok ini, tadinya, menginginkan STY digantikan pelatih yang lebih berkelas.

Bukan pelatih dengan reputasi serba buruk, di dalam maupun di luar lapangan.

Lantas kita juga tahu bagaimana akhirnya. Indonesia lolos dari putaran ketiga, tapi gagal melangkah ke Piala Dunia setelah tidak mendapatkan satu poin pun di putaran empat. Indonesia kalah dari Arab Saudi dan Irak.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved