Catatan Sepak Bola Akhir Tahun
Setelah 2025 yang Menyedihkan
Sejumlah orang yang didapuk sebagai “pengamat” mendapatkan panggung yang lebar dan terbuka untuk mengoceh.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Perkara lolos tak lolos ini pada dasarnya bukan isu yang utama. Sejak awal kampanye Piala Dunia 2026, Indonesia tidak sekerat pun menargetkan dapat terbang ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Sampai saat laga kualifikasi putaran pertama kontra Brunei Darussalam digelar, piala dunia tetap masih sekadar mimpi.
Erick Thohir pun tak pernah menyinggung 2026. Sejak mengambilalih PSSI, ia mencanangkan program jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.
Program jangka pendek, tiada lain tiada bukan, adalah melakukan naturalisasi untuk menggenjot secara cepat kualitas Tim Nasional Indonesia, sekaligus membangkitkan semangat publik untuk kembali menonton sepak bola.
Berseiringan ini, program jangka menengah, yakni membenahi kompetisi di semua lapisan, dijalankan bersama-sama program-program jangka panjang: ‘Project 2034: Garuda Membara’ dan ‘Garuda Mendunia 2045’. Erick mencanangkan Indonesia lolos Piala Dunia paling cepat tahun 2034.
Namun kemudian program jangka pendek melejitkan hasil di luar harapan awal. Tim Nasional Indonesia berubah apik, mempertontonkan sepak bola yang berkualitas dan lolos ke putaran kedua, lalu putaran tiga, dan dari hitung-hitungan poin di atas kertas, memungkinkan untuk lolos langsung ke piala dunia.
Lantas pertanyaannya, setelah hitung-hitungan meleset dan publik marah, apakah salah? Tidak juga.
Publik tidak salah untuk marah. Bahkan boleh dikata, pantas dan memang harus marah. Kenapa? Sebab PSSI kembali menunjukkan kegamangan, lalu kembali ke “setelan pabrik”.
Premisnya, jika memang ada program jangka menengah dan jangka panjang, kenapa hasil sementara program jangka pendek disikapi dengan kepanikan? Kenapa takut STY gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026 kalau toh targetnya 2034?
Banyak jawaban berseliweran. Termasuk yang dikaitpautkan dengan politik: popularitas dan elektabilitas menuju pemilihan umum 2029. Ada juga yang menduga-duga ke arah konflik internal, Erick Thohir hendak didongkel dari kursinya.
Terlepas dari apapun jawabannya, 2025 telah menjadi tahun yang payah dan berakhir sedih bagi sepak bola Indonesia dan penonton-penontonnya.
Dengan demikian, tentu saja, harapannya 2026 bakal lebih baik. Jangan sampai sebaliknya. Jangan sampai kita justru kembali ke era kegelapan, yang barangkali memang diinginkan oleh orang-orang di potongan yang kecil itu.
(t agus khaidir)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Jadwal Operasional BCA saat Tanggal Merah dan Cuti Bersama Mei 2026 |
|
|---|
| Cuaca Medan Hari Ini 15 Mei 2026, Hujan Merata di Malam Hari |
|
|---|
| Ramalan Shio 15 Mei 2026, Shio Kelinci, Tikus, Naga, Ular, dan Kambing Hoki |
|
|---|
| Kalender Jawa 15 Mei 2026 Weton Jumat Pahing, Kendalikan Diri Anda! |
|
|---|
| Keracunan MBG Ratusan Siswa Korban di Cakung, Investigasi Dinkes Ada Cemaran Mikrobiologi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/BERFOTO-Ketua-Umum-PSSI-Erick-Thohir-kanan-berfoto-bersama.jpg)