Catatan Sepak Bola Akhir Tahun

Setelah 2025 yang Menyedihkan

Sejumlah orang yang didapuk sebagai “pengamat” mendapatkan panggung yang lebar dan terbuka untuk mengoceh. 

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
Tribunnews.com/IRWAN RISMAWAN
BERFOTO - Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kanan) berfoto bersama Patrick Kluivert dan Denny Landzaat saat sesi perkenalan pelatih baru Tim Nasional Indonesia di Jakarta, 12 Januari 2025. 

Perkara lolos tak lolos ini pada dasarnya bukan isu yang utama. Sejak awal kampanye Piala Dunia 2026, Indonesia tidak sekerat pun menargetkan dapat terbang ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Sampai saat laga kualifikasi putaran pertama kontra Brunei Darussalam digelar, piala dunia tetap masih sekadar mimpi.

Erick Thohir pun tak pernah menyinggung 2026. Sejak mengambilalih PSSI, ia mencanangkan program jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.

Program jangka pendek, tiada lain tiada bukan, adalah melakukan naturalisasi untuk menggenjot secara cepat kualitas Tim Nasional Indonesia, sekaligus membangkitkan semangat publik untuk kembali menonton sepak bola.

Berseiringan ini, program jangka menengah, yakni membenahi kompetisi di semua lapisan, dijalankan bersama-sama program-program jangka panjang: ‘Project 2034: Garuda Membara’ dan ‘Garuda Mendunia 2045’. Erick mencanangkan Indonesia lolos Piala Dunia paling cepat tahun 2034.

Namun kemudian program jangka pendek melejitkan hasil di luar harapan awal. Tim Nasional Indonesia berubah apik, mempertontonkan sepak bola yang berkualitas dan lolos ke putaran kedua, lalu putaran tiga, dan dari hitung-hitungan poin di atas kertas, memungkinkan untuk lolos langsung ke piala dunia.

Lantas pertanyaannya, setelah hitung-hitungan meleset dan publik marah, apakah salah? Tidak juga.

Publik tidak salah untuk marah. Bahkan boleh dikata, pantas dan memang harus marah. Kenapa? Sebab PSSI kembali menunjukkan kegamangan, lalu kembali ke “setelan pabrik”.

Premisnya, jika memang ada program jangka menengah dan jangka panjang, kenapa hasil sementara program jangka pendek disikapi dengan kepanikan? Kenapa takut STY gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026 kalau toh targetnya 2034?

Banyak jawaban berseliweran. Termasuk yang dikaitpautkan dengan politik: popularitas dan elektabilitas menuju pemilihan umum 2029. Ada juga yang menduga-duga ke arah konflik internal, Erick Thohir hendak didongkel dari kursinya.

Terlepas dari apapun jawabannya, 2025 telah menjadi tahun yang payah dan berakhir sedih bagi sepak bola Indonesia dan penonton-penontonnya.

Dengan demikian, tentu saja, harapannya 2026 bakal lebih baik. Jangan sampai sebaliknya. Jangan sampai kita justru kembali ke era kegelapan, yang barangkali memang diinginkan oleh orang-orang di potongan yang kecil itu.

(t agus khaidir)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved