Catatan Piala Dunia

Ke Mana Pergi Realisme Magis Itu?

Dongeng-dongeng yang menyimpan semangat perlawanan, penolakan menjadi inferior.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
IST/fiveable.me
Ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.com- Novel Cien Anos de Soledad, yang diterjemahkan sebagai One Hundred Years in Solitude atawa Seratus Tahun Kesunyian, terbit pada tahun 1967, dan sejak itu dunia merasa makin mengenal Gabriel Garcia Marquez dan gelombang pengaruh yang dibawanya, realisme magis.

Yakni ketika yang nyata dan tak nyata melebur dalam arus yang sama.

Tatkala segala sesuatu yang tak logis, fantastis, mustahil, berkelindan erat dengan perkara-perkara yang mengakar pada realitas.

Dalam kesempatan-kesempatan yang tidak terlalu banyak, Marquez, menyebut jalinan kisah serba ajaib dalam Seratus Tahun Kesunyian, juga El Amor en Los Tiempos del Colera (Love in Time of Cholera), juga cerita pendeknya, berangkat dari ingatan atas dongeng-dongeng yang dituturkan neneknya semasa kecil.

Dongeng-dongeng, yang menurut dia, disusun, ditulis ulang dan diceritakan dari kenyataan yang pernah dilihat, didengar, dan dirasakan oleh orang-orang di Amerika Latin di masa lalu.

Dongeng-dongeng yang menyimpan semangat perlawanan, penolakan menjadi inferior.

"Amerika Latin tak pernah punya alasan untuk menjadi pion tanpa jiwa," kata Marquez dalam pidatonya di Stockholm, Swedia, saat menerima nobel sastra pada 8 Desember 1982.

Satu di antara bentuk pengejawantahan kalimat Marquez adalah sepak bola. Bagi orang-orang Amerika Latin, sepak bola bukan sekadar olah raga.

Sepak bola menjadi bagian dari sikap yang tegas, dan keras, sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, berharkat dan bermartabat, yang secara ajaib justru ditampilkan seperti seni, seperti puisi.

Marquez berkebangsaan Kolombia, negeri yang pernah melahirkan Carlos Valderrama atau Faustino Asprilla, atau anomali semacam Rene Higuita, tapi dia secara terang-terangan memuja sepak bola Brasil, yang disebutnya bergerak dengan indah di antara harum kopi dan goyang pinggul penari lambada.

Seperti realisme magis itu sendiri, dan Marquez, mengerucutkannya pada satu nama, Garrincha.

Lahir di Rio de Janeiro, 28 Oktober 1933, sebagai Manuel Francisco dos Santos, dari keluarga yang miskin dan hampir berantakan: ayahnya peminum kelas berat, Garrincha yang juga dipanggil Mane, tumbuh dengan kepercayaan diri yang melata.

Wajahnya jauh dari tampan, senantiasa dekil, dan kedua kakinya tidak normal.

Kaki kanannya lebih pendek 6 sentimeter dari kaki kirinya, dengan bentuk yang melengkung ke arah luar, sementara kaki kirinya melengkung ke dalam.

Dengan bentuk kaki seperti ini, rasa-rasanya, mustahil bagi Garrincha untuk bermain sepak bola.

Bagaimana caranya berlari? Bagaimana dia menahan dan menyepak si kulit bundar?

Namun memang tak ada yang mustahil bagi keajaiban.

Sebagaimana hujan bunga kuning yang tiba-tiba turun dari langit meruapkan harum semerbak seiring kematian José Arcadio Buendia dalam novel Marquez, keajaiban bukan saja membuat Garrincha bisa bermain  bola, lebih jauh juga mengantarkan ke Piala Dunia.

Dia bermain di tiga edisi Piala Dunia; 1958, 1962, dan 1966. 

Bersama-sama Pele, Garrincha membentuk dinamic duo yang tiada tanding. Brasil tidak pernah kalah saat mereka berada di lapangan.

Setelah serangkaian kemenangan panjang, Brasil akhirnya kalah 1-3 dari Hungaria pada laga kedua fase grup Piala Dunia 1966 di Goodisen Park, 15 Juli. Pele yang dihantam cedera harus menepi.

Edisi Piala Dunia berikutnya, Garrincha sudah meninggalkan tim nasional. Namun warisannya, roh permainannya tetap tinggal. Ketajaman yang berbalut keindahan.

Atau sebaliknya, keindahan yang mematikan. Ginga! Jogo Bonito. Filosofi yang kemudian diwariskan dari masa ke masa, dan dinanti-nanti publik sepak bola sejagat tiap kali perhelatan Piala Dunia tiba. 

Tak terkecuali tahun ini. Setelah terakhir kali menjadi kampiun pada 2002, atau 24 tahun lalu, mampukah Brasil kembali merangsek ke podium tertinggi?

Brasil datang dengan wajah baru. Federasi sepak bola Brasil, CBF, menunjuk pelatih berkebangsaan Italia, Carlo Ancelotti, untuk menukangi Canarinho (Kenari Kecil) --sebutan untuk Tim Nasional Brasil.

Ini merupakan kali ketiga sepanjang sejarah kursi pelatih kepala tim nasional diduduki orang non-Brasil.

Sebelumnya terdapat nama Filipo Nunez dan Flavio Costa Joreca. 

Nunez yang berkebangsaan Argentina hanya bertahan satu laga: 7 September 1965 versus Uruguay. Joreca hanya sedikit lebih baik.

Dia berada di bench untuk dua laga, 14 Mei dan 17 Mei 1944, juga menghadapi Uruguay.

Kenapa mereka begitu cepat didepak? Satu jawaban yang sahih, Nunez dan Joreca tidak memahami filosofi sepak bola Brasil.

Hanya orang Brasil yang paham bagaimana cara sepak bola Brasil dimainkan? 

Bagaimana dengan Ancelotti? Keraguannya sama.

Ancelotti boleh menggenggam rekor sebagai pelatih yang menaklukkan lima kompetisi teratas di Eropa. 

Dia juara bersama AC Milan di Italia, Chelsea di Inggris, Real Madrid di Spanyol, Bayern Munchen di Jerman, dan Paris Saint-Germain di Prancis.

Dia juga memenangkan lima tropi Liga Champions yang supremasi tertinggi sepak bola Eropa, masing-masing dua kali dengan Milan dan tiga kali bersama Madrid.

Namun gelar-gelar ini tak lantas membuat keraguan publik Brasil pupus. 

Don Carlo boleh bergelimang gelar, tapi dia tetap bukan orang Brasil. Dia orang Italia. Dalam darahnya mengalir filosofi Cattenacio. Bukan Ginga. Bukan Jogo Bonito.

Dia tidak menjiwai realisme magis.

Keraguan ini akhirnya memang meletup di laga perdana Brasil di Piala Dunia 2026. Di hadapan Maroko, mereka seolah kehilangan daya. Kehilangan sengat.

Realisme magis Brasil, yang sebenarnya sudah makin sayup dalam dekade terakhir, berubah sepenuhnya menjadi roman picisan. Terutama di lini tengah.

Casemiro dan Guimaraes, nyaris tanpa fantasi di hadapan Ayyoub Bouaddi, remaja 18 tahun yang belum lama "membelot" dari Prancis.

Rapinha, Lucas Paqueta, sama saja. Hanya Vinicius Junior yang masih menunjukkan "roh" Garrincha.

Itu pun sekadar sisa-sisa.

(t agus khaidir)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
Live
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
VS
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved