Ngopi Sore

Pak SBY, Mengadu ke Tuhan, Kok, Lewat Twitter

Siapa yang hendak disasar SBY? Siapa juru fitnah dan penyebar hoax yang merajalela itu? Apakah yang sekarang berkuasa?

Pak SBY, Mengadu ke Tuhan, Kok, Lewat Twitter
TRIBUN JATENG/A PRIANGGORO
PRESIDEN keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyanyi di sela-sela acara peluncuran buku Puisi Cadaka Dharma (Alumni AKABRI Angkatan 1973) di Gedung Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Buku kumpulan puisi berjudul "Menggapai Bintang & Matahari". 

PRESIDEN keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kembali curhat dan jadi tertawaan. Kenapa? Bukankah curhat yang merupakan akronim 'curahan hati' (istilah temuan anak muda era awal 2000an untuk mengganti kata kerja 'mengadu' atau 'berkeluh kesah' atau 'melampiaskan unek-unek'), sudah menjadi "bagian tak terpisahkan" dari SBY?

Benar sekali. SBY dan curhat sebagaimana SBY dan "keragu-raguan", sudah menjadi semacam dua sisi mata uang. SBY dan curhat telah teridentikkan satu sama lain. Selama 10 tahun jadi presiden, tidak terhitung lagi berapa kali beliau curhat. Termasuk yang disiarkan secara langsung di stasiun televisi nasional.

Namun kali ini berbeda. Kali ini SBY curhat sekaligus berdoa. Atau mungkin boleh disebut "curhat yang dikemas dengan doa", atau "doa yang menyerupai curhat". Yang jelas, apapun istilahnya, curhat ini berisi aduan. Dan SBY menyampaikannya lewat Twitter. Iya, benar, Twitter. Web social networking berbasis microblogging yang baru saja membikin heboh lantaran mendepak Habib Rizieq Shihab dan FPI.

SBY adalah seorang pengguna Twitter aktif. Konon, cuitan-cuitan (kalimat sepanjang 140 character) yang diakhiri dengan tanda *SBY* benar-benar berasal dari dia. Benar-benar ditulis sendiri oleh dia. Sedangkan cuitan tanpa tanda itu dituliskan oleh orang yang ditunjuk SBY untuk mengelola akun tersebut.

Cuitan di akun SBY (@SBYudhoyono) yang berisi curhat, yang dilempar ke Twitter pada 19 Januari 2017 pukul 11.39 (catatan jam Twitter), menyematkan tanda *SBY* di ujung kalimat.

Lantas jika memang ditulis langsung SBY, apa istimewanya dibanding entah berapa banyak curhat beliau yang lain? Seperti disebut tadi, cuitan SBY adalah "curhat yang dikemas dengan doa" atau "doa yang menyerupai curhat". Dalam cuitannya, SBY mengadu kepada Tuhan.

Saya kutipkan sebagaimana aslinya: "Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah dan penyebar hoax berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yang lemah menang? *SBY"

Saya sama sekali tidak yakin bahwa Pak SBY masih selevel nalar dan logikanya dengan anak- anak remaja alay penggemar sinetron Anak Jalanan dan Mermaid in Love. Beliau adalah purnawirawan jenderal, pernah jadi anggota DPR RI, pernah jadi menteri, dan Presiden Republik Indonesia dua periode. Saya pikir beliau tahu betul, sadar betul, bahwa Tuhan tidak punya akun Twitter dan karenanya tidak mungkin membalas curhat itu lewat Direct Message (DM). Bahkan tidak untuk sekadar me-retweet.

sbyeh3
TWITTER

SBY juga bukan pendakwah. Perkembangan internet dan media sosial memang mengharuskan para pendakwah untuk masuk ke dalamnya. Pendakwah yang ingin menjangkau masyarakat modern, terutama sekali kaum millenials yang hidupnya serba digital, mutlak memiliki akun- akun di media sosial. Entah itu Facebook, Twiiter, atau Instagram.

Jika SBY pendakwah maka cuitannya jadi wajar. Persoalannya, sekali lagi, SBY bukan pendakwah. Dan apa yang disampaikannya juga bukan dakwah. Sama sekali bukan. Kalimatnya bukan kalimat dakwah. Bukan kalimat-kalimat sebagaimana yang kerap dipampangkan Ustaz Arifin Ilham di Facebook, misalnya. Bukan pula kalimat-kalimat sufistik Candra Malik di Twitter. Kalimat SBY memang tidak lebih dari "curhat yang dikemas dengan doa" atau "doa yang menyerupai curhat". SBY cuma mengadu kepada Tuhan.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help