Breaking News:

Ngopi Sore

Pak SBY, Mengadu ke Tuhan, Kok, Lewat Twitter

Siapa yang hendak disasar SBY? Siapa juru fitnah dan penyebar hoax yang merajalela itu? Apakah yang sekarang berkuasa?

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUN JATENG/A PRIANGGORO
PRESIDEN keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyanyi di sela-sela acara peluncuran buku Puisi Cadaka Dharma (Alumni AKABRI Angkatan 1973) di Gedung Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Buku kumpulan puisi berjudul "Menggapai Bintang & Matahari". 

Pertanyaannya, jika hendak mengadu kepada Tuhan, kenapa dikemukakan lewat Twitter? Kenapa tidak secara langsung saja? Melalui doa seusai Salat Tahajud, misalnya. Kenapa SBY sampai pada pemikiran bahwa aduannya memerlukan perantara? Doa merupakan refleksi kejujuran. Yakni kejujuran mahluk kepada yang menciptanya.  Maka akan menjadi sangat keterlaluan apabila dalam berdoa masih saja terselip ketidakjujuran.

Lalu bagaimana dengan doa di media sosial. Pada dasarnya itu bukan doa. Itu lebih tepat disebut sebagai ajakan, atau sekadar upaya berbagi. Bagaimana melalui doa tersebut akan lebih banyak orang yang terketuk pintu hatinya.

Dalam perkara ini, di mana posisi SBY? Tidak jelas betul. Atau jangan-jangan SBY sebenarnya tidak hendak mengadu kepada Tuhan. Jangan-jangan dia juga tidak bermaksud berdoa dan bahkan tidak menyadari bahwa kalimatnya mirip dengan doa sehingga bisa diasumsikan sebagai doa. Jangan-jangan, sesungguhnya, dia hanya ingin melesatkan curhat dan ingin agar curhatnya diketahui banyak orang.

Jika yang terakhir ini benar, tentu saja patut dipertanyakan motif SBY. Apakah beliau hendak menyudutkan pihak-pihak tertentu? Di dalam kalimatnya SBY menulis (saya kutipkan lagi sebagaimana aslinya), "juru fitnah & penyebar "hoax" berkuasa & merajalela".

Siapa yang hendak disasar SBY? Siapa juru fitnah dan penyebar hoax yang merajalela itu? Apakah yang sekarang berkuasa? Apakah Presiden Joko Widodo? Atau barangkali Pak SBY tahu ada pihak lain yang merajalela menyebarkan hoax sehingga mampu berkuasa melebihi kekuasaan pihak yang sah berkuasa?

Pertanyaan terakhir beliau dalam curhat juga membingungkan. "Kapan rakyat & yang lemah menang?" Apakah hubungan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya? Apakah fitnah dan hoax dipandang SBY sebagai biang keladi kegagalan rakyat dan (kaum) yang lemah memperoleh kemenangan-kemenangan atas hidupnya yang serba melata di negeri terkasih ini?

Di lain sisi, kalimat ini secara tak langsung justru merupakan pengakuan yang sahih dari SBY. Bahwa setelah 10 tahun berkuasa jadi presiden, dia tidak tahu (dan belum juga tahu) bagaimana cara memberi kemenangan kepada rakyat dan (kaum) yang lemah. Jika dia tahu tentu dia tak akan bertanya.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved