TribunMedan/

Ngopi Sore

Teh untuk Pak SBY dan Kartu Penduduk yang Dikorupsi

Pertemuan di beranda istana negara ini seyogianya dapat melesat jadi percakapan yang riuh, sengit, dan panas, apabila tidak ada peristiwa lain.

Teh untuk Pak SBY dan Kartu Penduduk yang Dikorupsi
ANTARA FOTO/SETPRES/CAHYO BRURI SASMITO
PRESIDEN Joko Widodo (kiri) menerima kunjungan Ketua Umum DPP Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Kamis (9/3). 

DUA peristiwa besar terjadi dalam satu hari, yang sangat boleh jadi tidak berhubungan satu sama lain, namun mengakibatkan pelemahan terhadap gaung masing-masing. Padahal keduanya begitu ditunggu-tunggu.

Peristiwa pertama adalah pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Ketua Umum Partai Demokrat yang juga merupakan mantan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Satu peristiwa politik yang sekian lama cuma menjadi spekulasi dan berulangkali mencuatkan gaduh.

SBY, kita tahu, merupakan tokoh politik arus utama yang belum mendapatkan undangan untuk bertamu dan minum teh di beranda istana negara.

Jokowi sudah mengundang dan bertemu Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subiyanto, Surya Paloh, Setya Novanto, Zulkifli Hasan, Romahurmuziy, dan Muhaimin Iskandar. Prabowo terbilang istimewa. Sebab sebelumnya Jokowi juga menyambangi kediaman pribadinya di Hambalang. Mereka makan siang dan kemudian menunggang kuda.

PRESIDEN Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyapa wartawan saat menunggang kuda di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, beberapa waktu lalu.
PRESIDEN Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyapa wartawan saat menunggang kuda di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI)

SBY tidak. Padahal, terutama lewat media sosial, SBY sudah berulangkali mengirimkan isyarat: bahwa sebagai politisi senior, purnawirawan jenderal, dan presiden dua periode, dia membuka kemungkinan untuk berdiskusi tentang segala sesuatu menyangkut negara dan tata kelolanya dengan Jokowi.

Namun Jokowi bergeming. Nanti, katanya, kalau pun jadi bertemu usai (putaran pertama) Pilkada Jakarta saja.

Pilihan waktu yang tentunya sama sekali tidak melegakan SBY. Terlebih-lebih jika Pilkada Jakarta memanjang hingga dua putaran dan Agus Yudhoyono tidak menjadi bagian daripadanya. Untuk apa lagi bertemu sebab toh hasil apapun darinya tak akan berpengaruh apa-apa bagi Agus.

Namun kita juga sama-sama tahu bahwa pertemuan pada akhirnya tetap berlangsung. SBY datang bertamu dan minum teh bersama Jokowi di beranda istana negara. Tidak ada makan siang. Usai minum teh dan bercakap-cakap, lalu memberikan keterangan pada wartawan, SBY pulang.

Apa yang mereka percakapkan dalam pertemuan ini paling menarik untuk dicermati. Namun tentu saja mustahil diketahui. Pertemuan berlangsung tertutup dan kita sama-sama mahfum betapa hal-hal yang mereka sampaikan kepada wartawan adalah hal-hal yang sudah terlebih dahulu dipilah dan dipilih, dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga jadi lebih apik --dan barangkali menentramkan semua orang.

Jokowi banyak tersenyum, sesekali tertawa. SBY juga tersenyum. Wartawan-wartawan yang iseng kemudian bertanya soal cuitan di Twitter, kehadiran di peringatan Hari Kemerdekaan, dan kemungkinan berkoalisi --Partai Demokrat masuk ke dalam jajaran partai pendukung pemerintah. Dan SBY, seperti biasa, menjawabnya dengan kalimat-kalimat yang tidak mudah dimengerti. Kalimat-kalimat yang serba bersayap dan multi tafsir.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help