Breaking News:

Ngopi Sore

Teh untuk Pak SBY dan Kartu Penduduk yang Dikorupsi

Pertemuan di beranda istana negara ini seyogianya dapat melesat jadi percakapan yang riuh, sengit, dan panas, apabila tidak ada peristiwa lain.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
ANTARA FOTO/SETPRES/CAHYO BRURI SASMITO
PRESIDEN Joko Widodo (kiri) menerima kunjungan Ketua Umum DPP Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Kamis (9/3). 

Pertemuan di beranda istana negara ini seyogianya dapat melesat jadi percakapan yang riuh, sengit, dan panas, apabila tidak ada peristiwa lain yang terjadi nyaris bersamaan.

Beberapa kilometer dari istana, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, digelar sidang satu kasus yang tak main-main dan sudah lama pula menyita perhatian. Kasus dugaan korupsi besar-besaran terkait pengadaan KTP-El (KTP Elektronik).

Selain jumlah korupsinya yang menakjubkan (Rp 2,5 triliun versi KPK), dugaan kongkalikong ini juga ditengarai melibatkan nama-nama terkenal. Ada menteri, mantan menteri, anggota DPR, mantan anggota DPR, gubernur, dan elite-elite partai. Tak terkecuali elite Partai Demokrat.

Berdasarkan keterangan saksi di pengadilan, mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menerima Rp 574,2 miliar. Jumlah yang sama disebut-sebut diterima Setya Novanto, Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI.

Di luar pengadilan, Anas berkicau dari dalam tahanan. Dia membantah terlibat. Membantah peran sebagai pengendali kongkalikong bersama Novanto. Sebaliknya M Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, makin deras bersuara membuka rahasia.

Nazaruddin menebar ancaman akan menyeret semua yang terlibat ke dalam penjara.

MANTAN Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin (ketiga kanan) menjalani sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana pencucian Uang (TPPU) APBN 2010 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, beberapa waktu lalu.
MANTAN Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin (ketiga kanan) menjalani sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana pencucian Uang (TPPU) APBN 2010 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Spekulasi pun berkembang. Nazaruddin diyakini sedang melakukan misi pembalasan dendam atas sakit hati lantaran merasa dikorbankan dan ditinggalkan. Dia tidak ingin menderita sendiri, kesepian dan kedinginan dalam bui. Nazaruddin membidik orang-orang kuat Partai Demokrat, orang-orang penting yang dekat dengan SBY. Bahkan mungkin SBY sendiri.

Sejauh ini, belum ada klarifikasi resmi dari Partai Demokrat. SBY juga belum bicara. Hari ini dia pergi ke istana bertemu Jokowi. Mereka minum teh di beranda sambil bercakap-cakap.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved