Hari Ibu
Untukmu Ibu, di Sini Aku Masih Menunggumu
Bu, maaf tadi pagi saya terpaksa meninggalkanmu.
Tapi masih saja kekhawatiran menghinggapi. Bahkan akhirnya tak mampu lagi aku bendung tangis ini, “Ya Alloh, jika Engkau sayang pada saya. Berikan yang terbaik untuk ibu. Saya ikhlas menerima kondisi apapun. Jika sakit itu menghinggapi maka mudahkanlah untuk sembuh. Jika ada salah atau khilaf ibu, maka ampunilah dan ringankan beban beliau.”
Kemudian aku hampiri lagi ibu. Seperti biasanya, senyum itu selalu tersungging di sudut bibir beliau yang hanya bisa digerakkan separuh. Tangan kiri beliau memegang pahaku. Penuh kehangatan. Terasa saya seperti anak kecil yang berpuluh tahun lalu selalu menangis di pangkuan beliau sehabis di marahi bapak. Begitu lekat kedamaian yang beliau ciptakan.
Meski saat ini terasa ada yang lain. Dan lagi-lagi, tiba-tiba saya tak mampu bendung tangis ini. Saya dekap erat. Saya rebahkan kepala di sela ketiak beliau.
“Jangan sedih ya Fin. Mungkin Alloh sedang membuat ketentuan untukku. Tinggal waktu saja aku menunggu. Coba kamu lihat di atas langit-langit. Dua orang itu hadir sejak kemarin menemani ibu. Mencoba menarik-narik lengan ibu. Ibu tak tahu, mau diajak ke mana. Ibu bilang, jangan dulu. Sebab aku belum pamit kamu,” kata-kata itu begitu jelas diucapkan di telinga saya.
Subhanalloh, mengapa ibu berkata seperti itu. Maka tangis kerasku semakin meledak. Saya benamkan wajah ini di dada beliau yang agak tirusan. Setelah hampir 3 minggu sejak pertengahan Ramadhan kemarin hanya makan bubur halus. Itupun harus dengan kerja keras aku menyuapkannya. Sementara cairan infus yang biasa saya pasang, sudah 2 hari ini beliau menolaknya.
“Sudahlah Fin. Tidak usah pakai itu. Ibu makan saja pelan-pela tidak apa-apa kok. Ibu makannya masih banyak kan?”
Kali ini pun saya tak mau paksakan untuk memasang infus lagi. Entahlah, ada perasaan aneh. Kosong dan gelap. Maka saya putuskan untuk tidak masuk kerja hari ini. Kebetulaan jadual kantor juga tidak terlalu padat. Ada beberapa urusan yang biasa diselesaikan staff yang lain.
Perasaan yang kuat untuk selalu menemani beliau. Saya tinggalkan saat sholat berjama’ah di masjid saja. Alhamdulillah, umminya anak-anak juga sangat perhatian. 3 hari terakhir ini saya tidur menemani ibu. Tepat selalu memeluk beliau, sebagaimana biasa saya lakukan saat ibu sakit.
19 September 2011
Saya mencoba menghubungi ke-empat kakak saya. Lewat umminya anak-anak tentunya. Sebab sejak ibu memutuskan untuk ikut pindah ke rumah kontrakanku, mereka semua marah. Seolah saya lah biang keladi penyebab sakitnya ibu. Sehingga sama sekali tidak mau menengok ibu yang sakit cukup parah.
Kami mengabarkan kondisi terakhir ibu. Serta permintaan beliau yang tak mau dirawat di rumah sakit. Memohon untuk keikhlasan hati bersedia menjenguk ibu yang kondisinya semakin kritis.
Sayang, jawaban yang kami peroleh tidaklah menggembirakan. Resiko saya, demikian seolah kompak mereka menjawab. Sehingga umminya anak-anak pun sampai menangis tersedu-sedu mendengar jawaban itu. Tak henti-hetinya meminta maaf kepada ibu, atas ketakmampuan meluluhkan hati kakak-kakakku.
“Sudahlah, If. Saya sudah sangat senang. Arifin dan kamu selalu menemani ibu. Itu sudah cukup. Ibu tidak mau apa-apa lagi. Maafkan ibu ya. Selalu merepotkan kalian,” bisik ibu begitu lirih ke isteriku. Meski dengan suara yang tidak begitu jelas dan patah-patah.
Kamipun akhirnya putuskan untuk sementara tidak masuk kerja. Bergantian menjaga ibu yang sudah tak mau ditinggalkan sedetik pun. Sebab ketika saya atau umminya anak-anak meninggalkan beliau. Seolah selalu saja tahu, lalu memanggil-manggil nama kami.
20 September 2011