Hari Ibu

Untukmu Ibu, di Sini Aku Masih Menunggumu

Bu, maaf tadi pagi saya terpaksa meninggalkanmu.

Editor: AbdiTumanggor

Kami merasakan kondisi ibu yang sangat mengkhawatirkan. Hampir seluruh anggota badan beliau kaku dan tak dapat lagi digerakkan. Maka segera saya mengambil keputusan untuk segera mengirim ke rumah sakit.

“Fin, ibu pesan ya. Jangan bawa ibu ke rumah sakit. Kamu harus nurut ibu,” masih saja ibu bersikukuh dengan sikapnya.

“Biarlah ibu mati di rumah ini. Asal kamu tetap menemai ibu. Ibu sudah bahagia. Kamu jangan sedih ya. Maaf ya, ibu selalu merepotkan kamu,” begitu ucap ibu berulang kali.

Hingga sore ini, saya menyadari bahwa akan ada sesuatu. Sebab tak satu suap buburpun mampu ibu telan. Sementara air minum yang kami suapkan dengan sendok selalu tumpah. Seolah tubuh ibu sudah menolak pemberian asupan makan dari kami. Isteri saya mencoba juga gagal.

Ba’da Isya’, ibu sudah hilang kesadaran. Mulut rapat seperti terkunci. Mata terpejam pekat. Sementara, nafas satu per satu pelan dihembuskan.

Maka aku minta isteriku untuk menjauh. Saya khawatir dia akan shock melihat kondisi ini. Karena seharian ini juga dia demam. Talqinku selalu mengalir. Aku bisikkan lirih di telinga beliau. Tanpa putus.

Sementara air mata ini terasa kering sudah. Tinggal doa dan harapan agar memberikan yang terbaik untuk beliau. Sebentar tampak bulir bening meleleh amat pelan dari 2 ujung kelopak mata beliau.

Ya Alloh, jika ini yang Kau hendaki, hamba ikhlas ya Alloh. Demikian aku bergumam lirih. Saya biarkan keheningan ini melingkupi kami. Melambungkan kenangan saya pada detail-detail masa kanak-kanak kami.

Pukul 21.21 tepat saya lihat jam dinding kamar ibu. Tarikan nafas serta hembusan nafas kuat mengalir lewat bibir yang masih tersenyum itu. Meski terlihat keluh.

Inna lillahi wa inna ‘ilaihi rooji’uun (sesungguhnya semua milik Alloh, dan semua akan kembali ke haribaanNya).

Maafkan saya ibu. Anakmu yang lemah dan penuh dosa ini. Belum mampu membahagiakan sampai akhir hayatmu. Semoga Alloh mengampuni semua dosa ibu dan memberikan surgaNya untuk ibu. Sebab bagi saya, engkau lah perempuan terhebat yang pernah saya temui.

Selamat jalan ibu. Terima kasih, engkau telah memberiku kesempatan di saat akhir hayatmu. Terima kasih ya Alloh, Engkau berikan kekuatan pada saya untuk menjaga beliau. Ibu, saya akan selalu merindukanmu.(*)

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved