Ngopi Sore
Olga Syahputra, BBM, dan Kelucuan-kelucuan Itu
Olga Syahputra meninggal dunia kemarin. Dan dia tidak akan merasakan kelucuan-kelucuan yang barangkali masih akan terus dilakukan pemerintah.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
SAYA mendengar kabar kematian Olga Syahputra kemarin malam, sekitar pukul setengah tujuh. Agak mengejutkan lantaran kabar itu datang dari seorang kawan, yang saya tahu persis, sama sekali tidak pernah menyukai Olga.
Menurut dia, lelucon-lelucon Olga adalah lelucon yang sama sekali tak lucu. Lelucon slapstic, lelucon yang menitikberatkan pada gerak dan rekayasa tubuh, yang tak cerdas. Dia penggemar Jim Carey dan Rowan Atkinson, dan slapstic Olga, hematnya, belumlah sampai 10 persen dari kemampuan kedua komedian tersebut.
Tapi malam itu, melalui perangkat telepon selularnya, dia memutar lagu Olga. Lagu yang hanya terdiri dari satu kalimat itu: hancur, hancur, hancur, hatiku...
Saat saya tanyakan, ia menjawab singkat. Wajahnya datar. "Pelawak yang tak lucu itu sudah meninggal dunia, Bung. Semoga Tuhan memberi dia tempat yang terbaik. Dia sangat menjengkelkan di atas panggung, tapi aku percaya dia orang baik," ujarnya.
Olga meninggal dunia, di Singapura, karena sakit yang sampai sekarang tidak benar-benar terang, dan sepenjuru negeri terkasih ini, bagai kena tenung, langsung dibekap sedih. Saya tentu tidak tahu, mana kesedihan yang benar-benar datang dari hati, mana kesedihan sekadar, dan mana yang cuma ikut-ikutan. Pastinya, stasiun-stasiun televisi segera menggeber breakingnews. Di media-media sosial, hastag, tanda pagar (#) RIP Olga, bertaburan. Termasuk di Kaskus, media sosial yang selama ini dikenal paling tak ramah terhadap Olga.
Dari sinilah berbagai serangan dan ejekan terhadap Olga bermula. Tapi kemarin, sikap para Kaskuser, berubah jadi lebih simpatik. Satu dua yang tetap konsisten mem-bully, malah ramai-ramai di-bully.
Siapa Olga barangkali tidak perlu dipapar lagi. Sudah banyak paparan tentang diri dia dan saya tidak akan mengulang-ulangnya di sini. Singkatnya, dia memulai perjalanan di panggung hiburan lewat peran-peran kecil pada program komedi Lenong Bocah di tahun 1990. Setelah itu, pelan- pelan, dia mendapatkan peran yang lebih besar, sampai kemudian mendadak melejit dan mendapatkan ketenaran setelah menjadi satu dari sekian host dalam gelaran musik pagi dan panggung komedi situasi.
Apa yang luar biasa adalah, bahwa kematian Olga Syahputra mendapatkan perhatian dahsyat. Demikian dahsyatnya hingga sempat meredam isu lain yang sesungguhnya lebih (bahkan jauh lebih) krusial, yakni perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Perubahan untuk kali kesekian semenjak penguasa rezim berganti, dari SBY ke Jokowi.
Iya, terhitung pukul 00.00, Sabtu, 28 Maret 2015, BBM jenis premium dan solar, kembali naik. Premium naik dari Rp 6.800 per liter menjadi Rp 7.300 per liter. Sedangkan solar Rp 6.400 per liter menjadi Rp 6.900 per liter.
Tentu saja, tetap ada yang meneriakkan kenaikan harga BBM ini. Mengingatkan bahwa kenaikan ini bakal membikin hidup yang sudah melarat bakal semakin melarat. Terlepas dari fakta lucu bahwa sebagian besar orang yang meneriakkan peringatan bukanlah pihak yang potensial benar terancam bakal tercekik lehernya atas kenaikan sebesar 500 perak, apa yang diteriakkan, memang hal yang tidak keliru.
Apa alasan pemerintahan Jokowi-JK menaikkan harga BBM? Sejak mulai "mengutak-atik" harga BBM pada 18 November 2014, alasan yang dikedepankan selalu sama. Alasan yang juga berkali-kali dikemukakan oleh rezim sebelumnya. Bahwa konsumsi BBM dianggap sektor konsumtif: kebanyakan penikmat subsidi BBM adalah kelas menengah, dalam hal ini para pemilik mobil pribadi, bukan rakyat miskin. Karena itu, ketika anggaran terjepit, maka subsidinya lebih baik dialihkan ke sektor produktif.
Tapi benarkah demikian? Data Badan Pusat Statistik dari tahun 2005-2012, jelas menunjukkan bahwa jumlah pengendara sepeda motor di Indonesia, jauh lebih banyak dibanding mobil. Data tahun 2012, pengendara motor berjumlah 76,3 juta. Sedangkan mobil pribadi (penumpang non bus) 10,4 juta. Katakanlah rata-rata pengendara motor menggunakan BBM jenis premium sebanyak 2 liter per hari dan pengendara mobil 10 liter per hari. Maka perbandingannya adalah 152,6 juta liter : 104 juta liter.


Artinya apa? BBM bersubsidi lebih banyak digunakan oleh pengendara sepeda motor. Untuk apa? Untuk menjalankan aktivitas keseharian yang terkaitpaut erat dengan stabilitas perekonomian keluarga mereka. Kenaikan harga 500 perak, bagi kelompok ini, jelas akan memberi pengaruh yang tidak kecil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/olga-s.jpg)