Ngopi Sore

Sekadar Usul, Pak Jokowi, Angkatlah Pak SN Sebagai Menteri Urusan Makelar

Tiada orang lain yang lebih cocok untuk memimpin departemen ini kecuali Pak SN. Dia sudah membuktikan diri lewat rekam jejak yang panjang sejak 1999.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir

PAK SN, wakil rakyat kita yang aduhai, mulai melakukan aksi-aksi perngelesan atas kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo yang diduga melibatkan dirinya.

Dibanding kasusnya yang terdahulu, yakni kehadiran dalam satu acara yang merupakan bagian dari rangkaian kampanye seorang bakal calon Amerika Serikat, kasus ini memang lebih berat dan kompleks. Bukan kasus ecek-ecek yang gampang dicari jurus perngelesannya.

Sebab selain mencatut, Pak SN juga melakukan tindakan melampaui wewenang. Ia bernegosiasi menyangkut PT Freeport Indonesia. Menyangkut diperpanjang atau tidaknya kontrak perusahaan pertambangan ini pada 2021 mendatang. Padahal ini bukan job description seorang wakil rakyat.

Tapi begitulah, setelah sempat bungkam, bahkan sampai menunjukkan wajah memelas dan mata yang berkaca-kaca segala, Pak SN pada akhirnya tetap menerapkan jurus ngeles. Jurusnya menarik. Semacam jurus yang dikembangkan para pendekar Tiongkok masa lalu, yang memang berguna untuk pertahanan diri: Zui Quan. Dunia mengenalnya lebih luas melalui film yang dibesut Jacky Chan, Drunken Master.

Celakanya, dia bukan Wong Fei-Hung. Dia sekadar SN. Jurus ini tidak ia kuasai benar. Dalam Drunken Master maupun True Legend, Su Chan, pengemis misterius yang mengajarkan jurus ini pada Wong Fei-Hung, mengatakan bahwa penguasaan yang tidak sempurna, yang "nanggung", justru akan menghadirkan kekonyolan.

Inilah yang terjadi pada Pak SN. Dalam wawancara yang dilakukan melalui sambungan telepon di satu program bincang-bicang di satu stasiun televisi swasta, Pak SN menyangkal banyak hal dari transkrip percakapan antara dirinya dengan MS dan RC yang telah beredar luas.

Pak SN menyangkal dirinya mencatut nama presiden. Pak SN menyangkal dia meminta jatah saham dari Freeport. Menurut beliau, transkrip tersebut telah direkayasa sedemikian rupa sebelum dilempar ke publik. Ada percakapan yang dipotong, lalu disatukan dengan percakapan lain hingga seolah-olah menyatu dan mengesankan bahwa dia dan RC memang tengah berupaya untuk melobi petinggi PT Freeport.

"Padahal lengkapnya tidak begitu," ujarnya, seraya menambahkan, bahwa transkrip ini merupakan serangan untuk menjatuhkan kredibilitas. Sejenis siasat pembunuhan karakter.

"Itu hanya dialog biasa, seperti guyonan-guyonan di warung kopi," ucapnya.

Benarkah percakapan tingkat tinggi, yang menyangkut PT Freeport, saham, pembagian- pembagian persenan dalam satuan miliar, golf, jet pribadi yang representatif, tiada lebih dari sekadar guyonan warung kopi?

Janggal, aneh, bahkan boleh dibilang menggelikan. Humor yang sungguh sangat disayangkan sama sekali tak lucu.

Apakah Pak SN tidak pernah duduk di warung kopi? Mungkin begitu. Mungkin beliau cuma asal omong. Sebab jika pernah, tentu dia tahu topik-topik apa saja yang dipercakapkan dengan riuh di sana. Ada perang-perang dari tanah konflik, ada olahraga terutama sekali sepakbola, ada hal-hal remeh-temeh seperti dangdut terbaru atau gosip kawin cerai artis.

Tidak ada politik dan ekonomi? Tentu ada. Namun seberapa pun hebatnya analisis dari para pakar warung kopi, mereka tetap saja tak akan sampai pada level yang mendetail seperti itu. Tidak ada angka-angka.

Pak SN ngawur, tapi kita tahu, dia tetap bersikukuh dengan kengawurannya. Dia tetap menyangkal dan menyangkal. Dalam waktu bersamaan, ia mendapatkan bantuan dari pendekar-pendekar mabuk yang lain, yakni para koleganya di parlemen dan di partai.

Arus isu pun coba dialihkan. Dari upaya Pak SN melobi Freeport menjadi ketidakbecusan kinerja Sudirman Said, Menteri ESDM.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved