Ngopi Sore
Ada yang Bilang, Kader HMI Rampok Warung Makan di Riau Pengalihan Isu Papa Minta Saham
Citra HMI yang secara umum telah merosot level keelitannya sejak rezim Orde Baru tumbang, semakin jatuh.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TERUS terang, pada awalnya saya tidak terlalu tertarik mengikuti perkembangan Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Pekanbaru, Riau. Pikir saya, ah, kongres ini, ya, akan berjalan begitu-begitu saja.
Sejak masih menjadi mahasiswa 20 tahun lalu, HMI telah menggelar kongres demi kongres, dan pada tiap kongres itu memang selalu muncul gejolak. Tidak ada yang istimewa. Gejolak biasa dalam proses berdemokrasi.
Ngotot-ngototan sedikit, bahkan ricuh-ricuh sedikit, juga tak apa. Namanya juga "darah muda". Toh, politisi-politisi senior, jika berkongres atau bermusyawarah pun seringkali masih ribut, kok.
Dalam kongres, perkara satu kata dalam pembahasan tata tertib akan membentuk kelompok yang pro dan yang kontra dan debat tentangnya bisa memakan waktu berjam-jam. Jadi sekali lagi, kalau sekadar ribut-ribut adu argumentasi, ya, itu biasa saja.
Pun soal dana sebesar Rp 3 miliar yang disebut-sebut digunakan untuk membiayai pelaksanaan kongres. Banyak pembanding-pembanding yang dimunculkan di media sosial untuk menyoroti hal ini. Satu di antaranya membahas "materi kaderisasi".
Dikemukakan bahwa ateri kaderisasi mahasiswa era 1920-1945 adalah kursus politik revolusi Bolshevik. Beranjak ke era 1960-1970an, materinya adalah sajak-sajak pamplet WS Rendra. Bergeser ke era 1980-1990an (hingga awal 2000an?), wajib wajib baca dan diskusi buku-buku Hariman Siregar, Gerakan Mahasiswa, Pilar Ke 5 Demokrasi, dan Soe Hok Gie, terutama yang berjudul Catatan Harian Seorang Demonstran atau Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.
Lepas 2000an sampai sekarang, materi kaderisasi meliputi teknik menulis proposal dan peluang pemanfaatan dana APBD.
Tentu saja, meski mungkin serius, pembanding-pembanding ini pada dasarnya guyon, dan karenanya, alih-alih ikut mengupas, menelaah, dan memberikan pendapat, saya memilih untuk tertawa saja.
Saya tahu, sampai era awal 2000an (karena adik saya juga berkecimpung di sana), dalam materi kaderisasi, pada calon-calon kader masih diberikan lima tahapan utama untuk kurikulum dasar dan enam tahapan untuk tingkat lanjut. Pada mereka disodorkan literatur-literatur yang beberapa di antaranya rumit dan njelimet untuk dibaca, dimengerti, dipahami, dan dilaksanakan.
Apakah kemudian materi kaderisasi meliputi teknik menulis proposal dan peluang pemanfaatan dana APBD memang betul diadakan? Saya tidak tahu. Barangkali memang betul demikian. Barangkali tidak. Barangkali anak-anak HMI masa kini sejatinya masih memiliki ideologi dan militansi seperti "kakanda-kakanda" mereka, namun memang tak kuasa melawan arus sistem pemerintahan, sistem politik, dan sistem sosial yang sudah acak kadut amburadul dan nyungsep.
Tapi dalam perkembangannya, Kongres HMI di Pekanbaru ini, kok, ya, semakin jauh dari cerminan intelektual mahasiswa.
Untuk menyebutkan beberapa saja, sebagaimana dilansir oleh berbagai media massa nasional maupun lokal di Riau, sejumlah (oknum?) kader HMI "menodong" PT Pelni untuk mendapatkan tiket kapal laut gratis.
Saya sebutkan 'oknum' dan sertakan dalam tanda kurung, berikut tanda tanya, lantaran dari informasi yang saya dapatkan dari sejumlah rekan wartawan di Pekanbaru, mereka ini bukanlah peserta inti kongres. Artinya, mereka kader, namun tidak mengantongi undangan, tak diundang untuk berkongres. Dengan kata lain, sekadar "tim hore-hore", "penggembira".
Oknum-oknum inilah yang kerap bikin rusuh. Konon, sebagian besar mereka dari cabang Makassar. Setelah merasa tak dipedulikan oleh panitia, mereka melakukan pemblokiran jalan dan membakar ban. Ada yang mengamuk karena tidak mendapatkan jatah nasi bungkus.
Paling anyar, dan ini yang saya pikir paling menyedihkan, mereka "merampok" sebuah warung makan. Entah berapa jumlahnya, namun mereka diangkut dengan 21 bus. Setelah makan, langsung ngacir tanpa membayar.
Polisi yang mendapat desakan warga Riau pun bertindak. Polisi melakukan sweeping. Dan tahu apa yang mereka temukan dari mereka? Puluhan senjata tajam berbagai jenis. Bahkan ada sepucuk pistol rakitan. Ini mau kongres atau mau perang?
Seorang kawan saya, anak HMI angkatan era 1990an, menyesalkan kelakuan ini. Karena nila setitik, ucapnya, rusaklah sudah susu sebelanga. Citra HMI yang secara umum telah merosot level keelitannya sejak rezim Orde Baru tumbang, semakin jatuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/hmi-rusuh_20151123_154221.jpg)