Ngopi Sore

Tentang Aceh dan Air Raya yang Meluluhlantakkannya 11 Tahun Lalu

Sebelas tahun sudah bencana besar ini terjadi. Namun perih luka masih sangat terasa.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
FOTO-FOTO: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN-JAPANTIMES/DAILYMAIL/MIRROR
DUA perempuan membaca doa saat berziarah di kuburan massal korban Tsunami di Desa Ulee Lheue, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (26/12/2015). Bencana gempa bumi yang disusul tsunami pada tahun 2004 meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh dan menewaskan ratusan ribu orang. 

TERHITUNG 2004, tiap kali waktu berputar dan sampai kembali ke tanggal 26 Desember, saya selalu teringat pada Usman. Dia bukan sesiapa. Bukan orang penting. Bukan tokoh yang memiliki prestasi dan kepandaian menakjubkan hingga layak diperbincangkan di forum-forum terpandang.

Dia cuma seorang anak bangsa Aceh. Seorang yang pada tahun 2004 itu baru berusia 20, menganggur sejak menyelesaikan SMA, dan datang ke Kutaraja untuk mencari kerja. Serabutan tak apa, hitung-hitung pengalaman.

Ia ditampung seorang keluarga jauh yang membuka warung mi dan kopi. Tugasnya berbelanja ke pasar, mengantarkan pesanan pengunjung, sesekali membuat teh, kopi, dan TST (Teh Susu Telur) -yang terakhir ini baru tahap belajar. Usman tinggal menumpang di rumah Hasanah, kakaknya. Tidak persis di tengah kota. Lebih dekat ke Pantai Lhoknga.

Pada pagi cerah yang mendadak berubah muram itu, Usman berjalan-jalan di Banda Aceh. Hendak melihat-lihat keramaian. Selepas kerja menjelang Subuh, ia memang tak pulang. Keputusan yang belakangan ia syukuri, sekaligus ia sesali. Bersyukur karena keputusan ini membuatnya selamat dari bencana dahsyat.

"Waktu gempa datang, aku sedang di pinggir jalan. Dekat pajak (Pasar). Takut karena gempanya keras dan lama. Aku sama sekali nggak sangka kalau setelah itu datang Air Raya," katanya.

Orang Aceh menyebut air bah sebagai Air Raya. Air besar. Mereka tidak punya sebutan untuk Tsunami, yang beberapa kali lipat lebih dahsyat, yang datang menggulung sebagian besar tanah Aceh pascagempa berkekuatan 9,3 skala richter tersebut. Usman sempat terjatuh saat berlari menyelamatkan diri bersama ribuan warga lain. Ia terseret gelombang sejauh puluhan meter.

"Aku selamat setelah bisa meraih dahan pohon. Aku naik ke sana dan menunggu sampai air surut. Mungkin lima jam. Saat itulah aku teringat Kak Sanah."

Usman bergegas berlari pulang. Sepanjang jalan ia melihat mayat-mayat bergelimpangan. Serakan puing-puing bangunan. Ratap tangis bersahut-sahutan. Akhirnya ia sampai di Lhoknga, mendapati kampung di tepian pantai itu serupa dataran padang pasir. Luas, hening, sunyi. Tidak ada rumah. Tidak ada pokok-pokok kelapa. Tidak ada gerobak para pedagang. Tidak ada tawa bocah-bocah yang berlarian riang dengan kaki telanjang.

Hanya suara desis buih gelombang yang lesap ke sela-sela butiran pasir. Juga, akhirnya, hardik dua orang berpakaian militer Indonesia, menyandang senjata otomatis laras panjang, yang memintanya menjauh. Tapi seperti Usman, kedua orang ini pun sama-sama celingukan. Bingung sekaligus terpukul.

"Sampai tiga hari setelah itu, aku masih mencari Kak Sanah. Juga suami dia dan keponakan-keponakanku. Di sekitar lokasi, di tempat pengungsian, di rumah-rumah sakit. Nggak ada. Hari keempat aku menyerah. Seminggu kemudian aku ke Medan. Numpang mobil tentara," ujarnya.

Usman termasuk orang beruntung. Dia ikut tergulung ombak tapi selamat. Dia kemudian keluar Aceh lebih cepat, memulai hidup baru di Medan dengan modal pemberian sejumlah kerabat, dan kini sudah hidup relatif mapan, bersama istri dan dua anak. Namun tiap kali Desember menyentuh angka penanggalan ke 26, ia menjelma pemurung. Teringat Hasanah, teringat abang ipar, keponakan-keponakan, serta sanak keluarga lain yang hilang tak tentu rimba. Teringat pula pada kawan-kawan. Teringat kedai mi dan kopi yang sejak peristiwa itu tidak pernah buka lagi.

Saya berkerabat dengan Usman. Lebih tepatnya, ia bersepupuan dengan istri saya. Usman pernah marah, hampir marah besar, waktu saya mengajukan pertanyaan padanya. Pertanyaan yang sesungguhnya saya kutip dari esai Leon Wieseltier, editor senior majalah The New Republic.

"Bagaimana orang yang percaya Tuhan tak salah tingkah, atau terguncang, atau terpukul dan tenggelam dalam kesedihan, oleh bencana seperti ini?" Dan menurut Wieseltier, "They should more candidly admit that they choose not to reflect upon the spiritual implications of natural destrucktion, because they wish to protect what they believe."

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved