Ngopi Sore

Pak JS Badudu, Hantuilah Mereka yang Lebih Bangga Berbahasa Asing dan Bahasa Alay

Jalan yang ditempuhnya adalah jalan sunyi, yang makin ke sini makin sunyi. Jalan seorang penjaga bahasa.

Pak JS Badudu, Hantuilah Mereka yang Lebih Bangga Berbahasa Asing dan Bahasa Alay
INTERNET
JS Badudu 

Sehingga, kalimat yang seharusnya adalah: "Ada yang baik dan sopan, ada pula yang tidak semena-mena dan kurang ajar baik tamu domestik maupun tamu asing."

Badudu juga pernah menuliskan tentang kebiasaan perkosaan terhadap kaidah bahasa dalam penulisan judul kepala berita. Hanya karena penghilangan kata depan yang sering dilakukan redaksi, kata dia, judul berita sering menyesatkan pembaca.
Contoh: "Pinjaman $200 Juta Diberikan Indonesia."

Akibat kata depan "kepada" atau "untuk" tidak dituliskan dalam judul itu, pembaca akan mengira bahwa Indonesia yang memberikan pinjaman. Padahal kenyataannya sebaliknya.

Dalam penulisan kalimat, termasuk judul berita, kata Badudu, hanya kata depan "oleh" yang boleh tidak dituliskan.
Rasanya saya ingin mengatakan, bahwa hanya orang-orang yang mempunyai kepekaan-bahasa yang luar biasa besar seperti Badudu yang bisa sampai menangkap kekeliruan yang demikian subtil.

Kira-kira begitulah jalan yang selama ini ditempuh Badudu. Adakah orang-orang lain di negeri ini yang berada di jalan yang sama seperti jalan yang telah ditempuh Badudu? Jika ada, berapakah jumlahnya?

Saya, kok, rasanya pesimistis sekali. Bahkan walaupun saya tahu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa masih ada, dan di bawahnya Balai Bahasa masih ada, dan tiap tahun mereka juga merekrut duta-duta bahasa --untuk yang disebutkan terakhir, saya malah pernah tak habis pikir ketika saya mendapati seorang dari mereka, juara pertama pula, tak bisa membedakan "di-" sebagai awalan dan "di" sebagai kata depan.

Juga bahkan ketika belasungkawa datang dengan deras dari segala penjuru, mulai dari lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hingga presiden dan segenap orang yang selama ini tak pernah sekalipun terbesit dalam pikirannya tentang pentingnya bahasa.

Selamat jalan, Bapak JS Badudu. Hantuilah mereka yang tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mereka yang merasa gengsinya terkerek lebih tinggi karena berbahasa asing, apalagi mereka yang lebih bangga berbicara dan menulis dalam bahasa alay.

twiter: @abulmuamar

Penulis:
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved