Ngopi Sore
Lelaki Bernama Martini, Cerita untuk Teuku Wisnu
Tiap-tiap nama pada dasarnya adalah doa, adalah harapan. Dan harapan itu, biasanya baik
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TAHUN 1984, dari atas satu panggung yang tak terlalu gemerlap di Bandung, Abdul Wahyu Affandi, menyanyikan satu lagu yang setahun berselang meledak sebagai lagu yang laris. Lagu itu, berjudul Martini, direkam dan menjadi bagian dari album yang diberi judul sama. Tentu saja, sebagaimana dilakukannya sejak tahun 1983, di album ini Abdul Wahyu Affandi menggunakan nama panggungnya, Doel Sumbang.
Martini bukan lagu terbaik Doel Sumbang. Tapi mungkin boleh dikata satu di antara yang terlucu, sekaligus tercerdas. Berdurasi 4 menit 31 detik, Martini bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidup seorang lelaki yang bermasalah dengan namanya sendiri.
Iya, Martini di sini adalah nama seorang laki-laki. Nama Martini membuat repot, karena teman- teman sekolah tokoh dalam lagu ini mengejeknya dengan mengubah nama itu menjadi Tince. Nama yang terlanjur dianggap sebagai "nama pasaran" untuk kaum wadam (akronim 'wanita adam', saat itu istilah wanita pria alias waria belum dikenal). Martini sempat bertanya pada ayahnya, kenapa ia dinamakan Martini. Pertanyaan ini tak berjawab. Ayah Martini hanya bilang, nanti engkau akan paham, anakku.
Setelah dewasa, tampang tokoh ini sangat laki-laki. Brewokan, seram, tapi mau bagaimana lagi, malu tetap menderanya lantaran namanya tetap Martini. Nama perempuan yang juga nama merek minuman keras. Situasi bertambah runyam baginya karena kemudian makin banyak orang yang mengejeknya, bahkan dengan terang-terangan menyebutnya bencong.
Terus-menerus tertekan, Martini meledak. Dia memukuli siapapun yang memanggilnya Martini, Tince, atau mengatainya wadam atau bencong.
Suatu hari dia mendapatkan lawan yang sepadan. Setelah saling pukul, lawan Martini menghunus celurit. Leher Martini sempat terluka akibat sabetan celurit ini. Di saat terdesak, Martini berhasil berkelit, merebut celurit, kemudian menyabetkannya ke perut sang lawan. Luka yang parah membuat lawan Martini tewas.
Martini ditangkap polisi, diadili, dan akhirnya divonis 15 tahun karena dianggap terbukti bersalah melanggar pasal 339 KUHP.
Sampai di sini, cerita Martini mencapai puncak. Ayah Martini datang ke penjara dan menunjukkan tampang berbahagia. Martini heran, dan bertanya, gerangan hal apa yang membuat ayahnya berbahagia.
Ternyata, kebahagiaan ini berhubungan dengan nama Martini. "Ini buktinya, anak lelaki bernama Martini, ternyata bisa juga jadi jantan tulen, bisa membunuh, bisa diadili, dan sekarang di penjara."
Saya tiba-tiba teringat lagi pada lagu yang sungguh ajaib ini setelah tanpa sengaja terperogok dan kemudian membaca satu berita tentang Teuku Wisnu, selebritis yang saat masih unyu-unyu membintangi Cinta Fitri, sinetron yang kemudian tercatat sebagai yang terpanjang ketiga setelah Tersanjung dan Tukang Bubur Naik Haji.
Teuku Wisnu, setelah mendengar pendapat seorang ustaz bernama Bachtiar Nazir saat tampil talkshow bertajuk Makna dan Peristiwa yang mengambil tema "Arti di Balik Nama", di satu stasiun televisi swasta nasional, konon jadi merasa gelisah. Kata ustaz itu, namanya tidak Islami. Dan Allah akan bertanya, dan hanya memanggil dengan nama-nama yang baik.
Saya tidak tahu apakah Teuku Wisnu, selepas acara, ada bertanya pada Ustaz Bachtiar Nazir, apakah Wisnu bukan nama yang baik. Apakah ia ada bertanya, apakah nama-nama yang tidak Islami, akan serta-merta menjadi nama yang buruk. Dan apakah ia ada bertanya, seperti apa klasifikasi nama yang disebut sebagai nama yang Islami itu.
Saya membaca berita mengenai Teuku Wisnu dan teringat pada lagu Doel Sumbang. Saya tidak ingin bilang Martini nama yang baik. Dalam hal ini tentunya bagi laki-laki, sebab Martini terlanjur dimaklumkan sebagai nama perempuan. Meski dalam beberapa kasus, nama perempuan ternyata bisa juga disematkan sebagai nama laki-laki dan tak ada masalah berarti karenanya. Paling kesohor, siapa lagi kalau bukan Butet Kertarajasa.
Yang saya ingin bilang adalah, tidak seorang pun dari kita yang bisa memilih nama. Yang memilihkan adalah orang tua-orang tua kita. Dan saya percaya, tiap-tiap nama pada dasarnya adalah doa, adalah harapan. Dan harapan itu, biasanya baik. Martini dalam lagu Doel Sumbang cuma kekecualian menggelitik. Yang, toh, barangkali tidak pernah benar-benar ada.
Wisnu, saya kira, merupakan nama yang baik. Perlambang kebajikan dan kebijaksanaan. Barangkali dulu orang tua Teuku Wisnu, entah ayahnya entah ibunya, suka membaca Mahabharata, Bharatayudha, atau kisah-kisah pewayangan, dan mengambil inspirasi untuk nama anaknya dari salah satu tokoh terbesar dan termulia dalam epos tersebut.
Namun begitulah, entah kenapa, saya, kok, ya merasa tidak terlalu yakin Teuku Wisnu akan mempertahankan nama pemberian kedua orang tuanya. Mungkin dia akan menggantinya dengan nama yang terkesan lebih Islami, yang menurut kaca pandangnya, barangkali seperti nama yang diberikan untuk orang-orang Arab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/teuku-wisnuuu_20160331_182611.jpg)